Catatan 12

Jalan Dua Jalur (1) “ Nah…Lah Tibo….”

Catatan : Harmen

“ Nah..kita sudah sampai di Lubukbasung “. Itu pameo yang ‘sedikit’ menyakitkan, jika saya naik kendaraan bersama kawan-kawan saat lepas dari jalur mulus di Simpang Gudang, Manggopoh, memasuki ruas jalan kecil kearah Timur menuju pusat kota Lubukbasung.

Tak berlebihan sebetulnya. Namun ada “sesuatu” yang menyesak di dada, karena pameo itu seakan berulang dan memberi kepedihan tersendiri akan fakta yang sesungguhnya bisa diselesaikan bersama, karena sebetulnya banyak solusi yang bisa diraih untuk suatu masalah.

Adalah ruas jalan jalur Simpang Gudang-Padang yang merenteti banyak kecamatan di kabupaten Agam yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi wacana jalan dua jalur. Sudah terbayang, sosok gagah,jalan mulus dengan kontruksi mengesankan menjadi media pelintasi beragam jenis kendaraan, jika ruas jalan yang menjadi dambaan itu terwujud.

Jalan dua jalur khususnya di wilayah Lubukbasung, mulai dari jalur masuk Simpang Gudang arah ke Timur melewati wilayah nagari Manggopoh-Kampuang Tangah-Lubukbasung sampai ke batas Lubukbasung- Tanjung Raya yang hingga masih terlunta-lunta karena ada beberapa titik yang proses pembebasan lahannya belum final.

Menilik pernyataan Sekretaris Daerah Kabupaten Agam H.Martias Wanto Dt.Maruhun, ada beberapa titik lagi di Manggopoh dan Kampuang Tangah yang proses pembebasan lahannya belum final.

Belum tuntasnya pembebasan lahan itu, berdampak luas bagi proses pengerjaan mega proyek jalan dua jalur Simpang Gudang-Padang Lua yang sangat didambakan banyak pihak, karena pemerintah pusat dan propinsi, justru tidak ingin beresiko, karena kegiatan yang memanfaatkan dana APBN dan APBD propinsi Sumbar tersekat karena pembebasan lahan belum tuntas. Itu bentuk salah satu dilematika “penghukum” niat kemajuan yang digadang-gadang sudah menjadi ikrar bersama semua lini.

Masalah jalan dua jalur ini kembali menghangat di ranah publik dalam beberapa hari terakhir, seiring peringatan 26 kepindahan ibukota kabupaten Agam ke Lubukbasung dan mencuatnya banyak tuntutan pada bupati Agam Indra Catri, karena ditengah semakin “moleknya” kota Lubukbasung dengan ragam kemajuan yang seakan berlari dalam perobahan kekinian, sosok jalan dua jalur yang diyakini sebagai salah satu wujud kota yang sesungguhnya.

Entah ini dosa siapa. Penulis pun tak mengerti. Hanya saja, persoalan pembebasan lahan, mestinya menjadi bahan pembahasan bersama yang proses penyelesaian juga harus dipersamakan. Banyak tokoh-tokoh penting yang mestinya harus turun tangan, membantu pemerintah, saat pemerintah kewalahan menyelesaikannya.

Karena, banyak solusi yang bisa dicarikan jika semua pihak ikut berperan, jangan biarkan pemerintah kewalahan sendiri. Bahkan, masalah “dikeroyok” hanya dengan beropini tanpa peduli bahkan mau mendalami apa sesungguhnya akar persoalan yang terjadi.

Penulis sangat yakin, sebagai bagian dari masyarakat di Lubukbasung, semua harapan ‘kita’ sama, ingin Lubukbasung sebagai pusat pemerintahan kabupaten Agam yang disangga berbagai nagari di sekelilingnya, maju, berkembang dan hadir sebagai sosok ibukota yang representative dan luar biasa dalam berbagai aspek, termasuk dalam sarana lain.

Setidaknya, bersepakat kita, untuk menghapus pupus pameo,” nah…wak lah tibo “, saat kita berkendara, masuk di jalur Simpang Gudang, Manggopoh arah ke Timur , mobil yang kita tumpangi, atau sepeda motor yang dikendarai, tidak lagi “badaram-daram” dan harus berakselerasi menghindari jalan yang berlobang agar tidak terjerambab atau kepada ngilu karena terantuk atap mobil.- (Bersambung ke-II : Jalan Dua Jalur Redam Ragam Ancaman)

To Top