Kaba Agam
“ Induak Bareh “ Lebih Dulu Emansipasi
Evawanti ( Ny. Eva Martiaswanto ) : Ketua Dharma Wanita Agam
Emansipasi mesti sesuai dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dan prinsip itu harus menjadi acuan mendasar bagi kaum perempuan Minang, dalam mengaplikasikan peran keseharian sebagai wanita, sebagai ibu rumah tangga dan sebagai perempuan dalam pengabdian untuk masyarakat. Semua menyatu dalam eksistensi sosok perempuan Minang yang sesungguhnya.
Bahkan di Minangkabau, emansipasi justru sudah disuarakan perempuan Minang jauh sebelum RA. Kartini memperjuangkan emansipasi di era penjajahan Belanda. Hal itu dibuktikan dengan perjuangan Bundo Kanduang, banyak pahlawan perempuan Minang yang berjaya bahkan ikut berjuang mengusir penjajah.
Nama-nama tokoh perempuan Minang yang jadi pahlawan nasional seperti Rohana Kudus, Sitti Manggopoh dan beberapa nama lain yang kini jadi sosok kebanggaan perempuan Minang dalam beraktivitas.
Dalam rubrik khusus Kartini-Kartini Kabupaten Agam 2017, sosok Eva Wanti, kami ketengahkan karena sosok ini terkenal sebagai salah satu tokoh perempuan kabupaten Agam yang punya itensitas kegiatan tinggi, bahkan perannya sebagai “orang dapur” beragam kegiatan organisasi kaum ibu di Kabupaten Agam terkenal sukses dan menentukan.
Namun, apa pandangannya tentang RA. Kartini, emansipasi, dan kekinian kaum perempuan Minang, KABA12.com, menyarikannya dalam rangkaian peringatan Hari Kartini 2017, setelah sebelumnya kami sajikan Ny. Vita Indra Catri dan Ny. Candra Trinda Farhan.
“ Induak Bareh “ Lebih Dulu Emansipasi
Jauh sebelum emansipasi wanita disuarakan Raden Adjeng Kartini, perempuan Minang sudah berada pada posisi yang sebenarnya. Perempuan Minang dijuluki “induak bareh”, dalam artian beras (bareh) merupakan sumber makanan utama warga Indonesia, dan perempuan (induak). Jadi induak bareh adalah sumber utama kehidupan bangsa ini.
Terkait peringatan hari Kartini, menurut Ny. Eva Martias, tidak lepas dari bahasan emansipasi wanita yang disuarakan kaum perempuan Indonesia bahkan dunia internasional, yang meminta adanya kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki.
Hal itu, menurutnya tidak sepenuhnya terjadi ditengah masyarakat Minangkabau hingga saat ini. Sebab, perempuan Minang yang disebut “Bundo Kanduang” sudah sejak zaman dahulunya telah diagungkan, dan dihormati ditengah-tengah kaumnya.“Ada fungsi dan peran kontrol dari Bundo Kanduang untuk anak-anak yang ada di dalam kaum dan keluarganya,” ujar Eva.
Perempuan kelahiran Bukittinggi 45 tahun lalu itu menyebutkan, hal itu dijalanidalam kesehariannya.Sebelum menjalankan tanggungjawab organisasi yang diamanahkan padanya, urusan dan tanggungjawab rumahtangga harus dipersiapkan terlebih dahulu