Kaba Bukittinggi
Fenomena Tabiang Barasok
Bukittinggi, KABA12 — Tiba-tiba saja “Tabiang Barasok” muncul sebagai salah satu spot wisata baru di Kota Bukittinggi yang dicari-cari oleh para wisatawan, tidak hanya lokal tapi juga dari luar daerah bahkan juga mancanegara.
Nama yang hampir tidak pernah dikenal sebelumnya, bukan hanya bagi orang luar Bukittinggi tapi sebagian besar masyarakat Bukittinggi juga tidak pernah mengenal nama ini. Namun sekarang “Tabiang Barasok” viral baik di dunia maya maupun dunia nyata.
Dimanakah Tabiang Barasok Berada?
Tabiang Barasok persis berada di bibir Ngarai Sianok. Secara administratif berada di Kecamatan Guguk Panjang, Kelurahan Bukit Apik Puhun. Tepatnya di Kampung Lapau Batu. Nama kampung yang kedengaran unik. Kalau diartikan secara harfiah kedalam Bahasa Indonesia kurang lebih artinya “Warung/Kedai Yang Terbuat dari Batu” atau bisa juga “Warung/Kedai yang Menjual Batu”.
Kelurahan yang sudah sangat dikenal dengan kopinya ini (Kopi Bukik Apik), memang banyak memiliki nama-nama kampung yang unik, diantaranya : Tabek Tuhua (kolam kering), Bukik Sangkuik (bukit yang digantung), Ranjau (kayu/bambu-bambu yang runcing), Bukik Cegek (Bukit Kemiri) dan lainnya.
Tabiang Barasok sendiri tidak jauh dari pusat Kota Bukittinggi. Dari Jam Gadang, yang merupakan sentranya Bukittinggi, Tabiang Barasok hanya berjarak sekitar 5 km atau dapat ditempuh sekitar 15 menit perjalanan dengan kendaraan roda 4 maupun roda 2.
Sebagai calon destinasi wisata baru, lokasi ini memang baru saja dikembangkan oleh masyarakat setempat secara swadaya sejak pertengahan tahun 2024 ini, walaupun secara resmi akan dibuka untuk umum direncanakan pada pertengahan bulan Desember 2024. Namun karena berbagai fenomena yang luar biasa yang ada di Tabiang Barasok, menjadikan tempat ini cepat viral dan dicari-cari para wisatawan yang haus dengan destinasi-destinasi yang masih fresh dan menyimpan berbagai keunikan.
Ada apa di Tabiang Barasok
Berada dalam kawasan Geopark Nasional Sianok Maninjau, tentunya Tabiang Barasok kaya dengan berbagai keberagaman geologi (geodiversity), keberagaman biologi (biodiversity) maupun keberagaman budaya (culturaldiversity).
Posisi Tabiang Barasok yang persis berada di pinggir Ngarai Sianok, tentunya tempat ini menyimpan berbagai kekayaan geologi dan menjadi “bukti nyata” untuk dapat melihat secara langsung dan mudah keberadaan Patahan Semangko yang membentang di sepanjang Pulau Sumatera dari utara ke selatan.
Dari segi view, Tabiang Barasok merupakan salah satu lokasi terbaik untuk menikmati keindahan view Ngarai Sianok. Dari Tabiang Barasok akan terlihat 270° pemandangan Ngarai Sianok. Ke arah selatan akan terlihat jelas Puncak Taruko dan Tabiang Takuruang yang merupakan bukit kecil yang menjulang di lembah Ngarai Sianok dengan kemiringan tebing di sekeliling bukit tersebut hampir mencapai 90°. Kemudian ke arah timur akan kelihatan dinding-dinding tebing Ngarai Sianok yang terjal dan curam, yang berada di Kelurahan Bukit Apik Puhun maupun yang berada di Nagari Sianok Anam Suku Kabupaten Agam.
Sedangkan di sebelah barat akan kelihatan jelas fenomena yang sangat menakjubkan, yakni relief berbentuk sabik (arit) yang sangat besar yang berada di tebing Ngarai Sianok yang terjal. Konon sejak zaman dahulu kala, relief ini tidak pernah berubah bentuk atau runtuh atau juga tertutup semak belukar. Relief berbentuk sabik ini sepertinya kekal melewati berbagai perubahan zaman dan fenomena alam yang sering terjadi, seperti gempa yang setiap saat terjadi di sepanjang patahan semangko. Karena adanya relief berbentuk sabik yang kekal ini, makanya masyarakat setempat menyebut tempat ini sebagai Ngarai Sabik.
Tidak hanya keindahan tebing-tebing curam Ngarai Sianok yang dapat dinikmati dari Tabiang Barasok. Dari lokasi ini juga terlihat 4 buah gunung yang merupakan kekayaan alam Sumatera Barat, yakni Gunung Marapi, Gunung Singgalang, Gunung Talamau dan Gunung Pasaman. Betul-betul tempat yang memanjakan mata. Sangat sedikit tempat yang bisa langsung untuk menikmati keindahan banyak gunung yang berada di daerah sangat berjauhan. Tidak hanya itu, dari Tabiang Barasok juga terlihat kaldera Gunung Tinjau atau Gunung Maninjau yang merupakan gunung berapi purba yang mengalami erupsi ribuan tahun silam yang sekarang ini membentuk Danau Maninjau.
Kemudian, apabila menoleh ke bawah tebing Ngarai Sianok maka akan terlihat jelas sungai yang membelah Ngarai Sianok yang dikenal dengan Sungai Batang Sianok. Dan persis di bawah Tabiang Barasok kita juga disuguhi pemandangan yang sangat cantik dan unik yakni pertemuan dua sungai yang berasal dari aliran yang hulunya berasal dari Gunung Marapi dan satunya lagi sungai yang hulunya berasal dari Gunung Singgalang. Karena adanya pertemuan 2 sungai ini, maka lokasi ini disebut dengan Ngarai Patamuan.
Ada yang unik dan fenomenal dari Ngarai Patamuan ini. Walaupun aliran air dua sungai yang berasal dari hulu yang berbeda ini telah bertemu, namun airnya tidaklah bercampur. Mirip seperti pertemuan air laut di Selat Gibraltar, yang mempertemukan air laut dari Samudera Atlantik dan air laut dari Laut Mediterania. Walaupun airnya bertemu tapi tidak bercampur seolah muncul batasan atau garis diantara keduanya. Jadi, fenomena alam di Selat Gibraltar juga terjadi di Ngarai Patamuan, dan ini hanya bisa terlihat dengan jelas dari Tabiang Barasok.
Tidak hanya kekayaan geologi yang disertai dengan ini view yang indah, Tabiang Barasok juga menyimpan kekayaan flora dan fauna. Disini masih banyak ditemukan satwa-satwa endemik yang hidup liar di hutan/rimba yang masih terjaga dengan asri. Kita akan dengan mudah menemukan/melihat kawanan kerbau liar yang di hidup di lembah Ngarai Sianok, monyet/kera ekor panjang dan juga ekor pendek, babi hutan dan berbagai satwa lainnya yang hidup berdampingan dengan masyarakat tanpa ada yang merasa terganggu dan diganggu.
Kemudian, berbagai flora/tumbuhan juga hidup dengan subur baik yang tumbuh liar maupun yang telah dibudidayakan oleh masyarakat. Disini kita akan banyak menemukan pohon salak hutan, pohon kopi hutan, pohon nangka hutan, enau, bambu dengan berbagai jenis, durian dan berbagai tanaman dan tumbuhan lainnya.
Selanjutnya, sebagai sebuah wilayah yang masuk kawasan geopark, Tabiang Barasok juga kaya akan budaya. Masyarakat disini memiliki berbagai sanggar seni untuk melestarikan seni budaya Minangkabau. Ada kelompok randai, tambua tansa, tari piriang dan lainnya yang setiap saat bisa disuguhkan untuk menghibur pengunjung yang datang.
Tidak hanya itu, masyarakat Kampuang Lapau Batu tempat dimana Tabiang Barasok berada, juga sangat terampil dan ahli mengolah kuliner yang menjadi kekayaan kuliner Minangkabau khususnya kuliner Kurai Limo Jorong yang merupakan masyarakat hukum adat di Kota Bukittinggi. Dengan mudah disini kita akan menemukan masyarakat yang membuat sarabi talua, inti, kacimuih, rendang, pangek dan berbagai kuliner khas Bukittinggi lainnya.
Kapan Waktu Menikmati Keindahan Tabiang Barasok?
Disamping keberagaman view yang ada serta kekayaan flora, fauna dan budaya, salah satu keunggulan Tabiang Barasok dibanding objek wisata lain adalah adanya fenomena yang berbeda-beda yang dapat dinikmati di setiap waktu. Di waktu setelah subuh (sekitar pukul 05.30 – 07.00), saat malam akan berakhir dan siang datang menjelang, Ngarai Sianok akan dipenuhi dengan lautan awan. Tabiang Barasok seolah-olah berada di Negeri Di atas Awan dengan perkampungan dibawahnya, disertai kerlap kerlip lampu tertutup awan tipis.
Kemudian, saat fajar berakhir dan matahari mulai terbit (sekitar pukul 06.00) kita akan disuguhi sunrise, matahari terbit yang muncul dari balik Gunung Merapi. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Setelah itu, saat matahari beranjak naik, (sekitar pukul 08.00 – 09.00) kita akan dapat menikmati siraman sinar matahari yang menembus diantara ranting dan daun pepohonan. Dan ini adalah spot yang sangat cantik terutama bagi para penggiat seni fotografi.
Setelah hari mulai siang, walaupun matahari telah memancarkan sinarnya dengan terik, namun Tabiang Barasok tetap nyaman dan sejuk. Anginnya yang sepoi-sepoi serta pepohonan yang masih asri, disini adalah tempat yang tepat bagi yang ingin bersantai di alam terbuka. Disini juga nyaman untuk kegiatan outbond, gathering maupun capacity building di luar ruangan karena udaranya betul-betul sejuk dan asri.
Beranjak sore menjelang malam (sekitar pukul 16.00 – 18.30), sinar matahari sore yang lembut betul-betul enak untuk dinikmati sambil menunggu sunset atau matahari terbenam tepat di atas kaldera Gunung Tinjau/Gunung Maninjau yang merupakan gunung berapi purba yang menyebabkan terbentuknya Danau Maninjau.
Dan saat malam datang (sekitar pukul 19.00 dst), udara malam yang sejuk dan bagi sebagian akan terasa dingin, Tabiang Barasok adalah lokasi yang tepat bagi penyuka hidup di alam terbuka dengan berkemah. Tiupan angin gunung dari Gunung Singgalang disertai pemandangan kerlap kerlip lampu dari lembah Ngarai Sianok, serasa kita berada di alam bebas sambil menikmati dan mensyukuri karunia dari Allah SWT, sang Maha Pencipta.
Itulah sedikit deskripsi tentang Tabiang Barasok, destinasi wisata yang fenomenal yang baru muncul di Kota Bukittinggi. Semoga, tulisan singkat ini akan lebih memudahkan para wisatawan mengenal lebih dekat Tabing Barasok.
Kenapa bernama Tabiang Barasok?
O iya, sebelum menutup tulisan ini perlu dijelaskan dari mana berasal nama Tabiang Barasok dan apa artinya.
Tabiang Barasok, apabila diterjemahkan secara harfiah ke dalam Bahasa Indonesia berarti Tebing Berasap atau tebing yang mengeluarkan asap. Daerah/kawasan ini diberi nama atau disebut masyarakat setempat dengan Tabiang Barasok karena memang dari Tebing Ngarai di daerah ini sejak dahulu mengeluarkan asap abadi yang tidak berhenti. Asap selalu mengepul keluar dari tebing ngarai di lokasi ini. Sehingga masyarakat lokal disini sejak zaman dahulu secara turun temurun menyebut daerah ini Tabiang Barasok.
Namun sejak fenomena gempa bumi yang intens terjadi di awal tahun 2000 an sampai tahun 2010, asap yang keluar dari tebing ngarai ini berangsur-angsur berkurang dan akhirnya hilang sama sekali. Apakah hal ini disebabkan terjadinya penutupan atau tertimbunnya sumber asap akibat gempa atau disebabkan oleh faktor lain belum ada yang tahu dan belum ada penelitian sacara akademik oleh para ahli.
Tentunya diharapkan, para ahli akan tertarik untuk meneliti ini sehingga bisa sebagai bahan edukasi kepada masyarakat material apa yang ada di tebing ngarai Tabiang Barasok sehingga dulu pernah mengeluarkan asap dan kenapa saat ini asap tersebut menghilang. Apakah memang karena tertutup material lain atau material yang mengeluarkan asap tersebut kandungannya telah habis? Kita tunggu penelitian dari para ahli. Dan syukur-syukur dari hasil penelitian nantinya, asap tersebut bisa dimunculkan kembali sehingga Tabiang Barasok betul-betul menjadi destinasi yang unik dan fenomenal, dengan Tabiang nya yang selalu mengeluarkan Asok.
Selamat berkunjung ke Tabiang Barasok.
(Harmen/*)