eva

“Ibu tidak akan tenang keluar rumah sebelum kerjaan di rumah selesai. Jika Ibu ada agenda pagi, malam sebelumnya seluruh kebutuhan di rumah sudah dipersiapkan, sehingga saat menjalankan tugas di organisasi tidak ada lagi beban, pikiran dan hati tenang,” ulasnya.

Dengan itu, dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab organsisasi bisa lebih maksimal dan ikhlas, karena keikhlsan adalah kunci sukses berbagai kegiatan, apalagi kegiatan sosial untuk masayarakat luas.

“Kebiasaan perempuan Minang mengacu kepada aturan adat dan agama Islam. Tidak ada perempuan yang benar-benar luput meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang ibu di kabupaten Agam, kalau pun ada, hanya kasusistis dan bisa dihitung dengan jari , “ sebutnya.

Ketua DWP Agam itu menjelaskan, lancarnya setiap tugas dan peran yang dijalaninya itu berkat pengertian dan dukungan dari seluruh anggota keluarganya.Serta menanamkan keikhlasan atas niat ibadah kepada Allah.

“Kuncinya ikhlas. Niat beribadah karena Allah, karena amanah yang Ibu jalankan ini tidak ada imbalannya, ini merupakan organisasi sosial untuk mensejahterakan kaum perempuan di kabupaten Agam,” jelasnya.

Mantan guru SMA Ampek Nagari dan SMA Palembayan itu mengungkapkan, persoalan perempuan dan gender juga sangat jadi perhatian oleh pemerintah kabupaten Agam, “perempuan di Agam sangat dihargai, terutama oleh pemerintah, karena sekarang ini banyak perempuan yang mengisi jabatan struktural di lingkungan Pemkab. Agam, bahkan sampai ditingkat terkecil seperti jorong sekalipun,” ujarnya.

Harus Kreatif dan Inovatif

Menurutnya, sebagai perempuan, bercita-cita tinggi dan inovatif itu harus dan perlu. Karena di Minang sendiri, seorang Bundo Kanduang itu Ibu sejati yang memiliki sifat keibuan dan kepemimpinan, membentuk dan menentukan watak anak yang akan menjadi penerus keturunan.

“Perempuan itu harus bercita-cita tinggi dan inovatif, karena dia akan mewariskan hal itu ke anak-anaknya dan keturunannya. Bundo Kanduang adalah golongan yang jadi perantara keturunan yang mesti memelihara diri dengan aturan adat basandi sarak, sesuai dengan ajaran Islam,” tegasnya.

Dengan bercita-cita tinggi, punya impian besar, bisa berinoviasi dan berkreasi untuk kemajuan, perempuan Minang akan semakin maju dan berkembang. Hal itu penting sebagai bagian tak terpisahkan dalam upaya mendorong kemajuan yang sesungguhnya, apalagi perempuan adalah penentu perkembangan daerah.

Meski dirinya sendiri tidak bisa mencapai keinginannya menjadi seorang guru (PNS), namun lewat amanah-amanah yang dipercayakan padanya saat ini, Eva mengaku sudah cukup puas dengan hidup dan aktifitasnya kini.

“Ibu sudah puas seperti ini meski tidak tercapai keinginan menjadi PNS, cita-cita tidak terwujud tapi kepuasan sudah didapat dari rutinas berorganisasi berbicara dengan orang banyak dan menjadi guru di rumahtangga sendiri,” ungkapnya dengan bangga.

Masa depan sebuah bangsa tergantung pada para wanitanya. Wanita adalah Ibu, istri, pendamping, dan pemimpin sebuah peradaban. Wanita-wanita yang berbudi akan mendidik anak bangsa sehingga memiliki kehormatan dan martabat. Dan itu  wanita adalah penentu. Sukses dan luar biasa wanitanya, akan luar biasa daerah dan bangsanya sendiri.

Penulis   : Jaswit

Editor    : Harmen

To Top