bunfo kanduang

“Bundo Kanduang sebagai limpapeh rumah nan gadang sebagai tonggak yang akan menopang kiri-kanan, menjadi guru yang mendidik, membimbing dan memberi petunjuk nasehat terhadap kaumnya maupun di rumah tangganya sendiri,” sebut perempuan kelahiran 28 Desember 1948 itu.

Menurutnya, Bundo Kanduang di ranah Minang sama halnnya dengan Kartini yang menyuarakan emnsipasi wanita di era colonial Belanda .Kartini dimasanya menyibak fungsi perempuan yang terpinggirkan, karena tidak setaranya hak antara laki-laki dan perempuan.

Namun Bundo Kanduang, sosok yang sangat berpengaruh dalam membangun martabat kaumnya, keputusan apapun yang dikeluarkan oleh seorang Panghulu tidak akan ada artinya jika Bundo Kanduang tidak setuju (walau kunci rangkiang dek datuak panghulu, pantang tabukak kalau Bundo kanduang indak rila).”Begitu besar dan pentingnya peran Bundo Kanduang di Minangkabau,” ucapnya dengan tegas dan bangga.

Sosok Hj. Rosmitai, yang tumbuh ditengah keluarga seniman, guru, dan juga organisatoris, membuat Rosmiati piawai dalam berbagai skill, seperti menari, dan mahir berbahasa inggris.

“Mungkin karena Bundo dulu lahir dari keluarga yang memiliki bacground seniman, guru, dan juga aktif dalam organisasi, makanya Bundo jadi suka berorganisasi,” ujarnya dengan tawa.

Tak hanya aktif dalam organisasi kemasyarakatan, Rosmiati juga merupakan seorang politisi.Ia merupakan kader partai Golkar, dan pernah duduk sebagai anggota DPRD Agam tiga periode.Rosmiati, aktif di berbagai bidang, di Himpunan Wanita Karya, di partai Golkar, dan menjadi anggotaDPRD  Agam tiga periode sejak 1992 – 2009.

Tidak hanya itu, menjadi Ketua Bundo Kanduang 2013 sampai Desember 2017 ini. Jadi memang sudah menjadi kesenangan dan hobi. “ Hampir kepala tujuh, Bundo masih aktif dimana-mana, Alhamdulillah tidak ada kendala, dan diberi kesehatan,” ungkapnya bangga.

Padatnya rutinitas yang dijalani Ibu tiga anak ini, tidak mengurangi perhatiannya kepada keluarga.Diusianya yang terbilang senja 69 tahun, Ketua Bundo Kanduang Agam ini selalu memulai aktifitasnya sepertiga malam.”Sejak menikah Bundo sudah biasa bangun sepertiga malam untuk tahajud, setelah itu baru memulai aktifitas utama sebagai Ibu rumah tangga, dan tidak tidur lagi. Sebelum subuh urusan rumah selesai, Bundo mandi dan sholat Subuh dan berdandan. Jadi ketika suami dan anak-anak bangun, Bundo sudah kelihatan cantik,” ujarnya.

Usai sebagai Ibu rumahtangga, politisi Golkar ini langsung menjalankan aktifitasnya sebagai Bundo Kanduang bagi kaumnya, “kegiatan Bundo sangat banyak, turun ke kecamatan, nagari, bertemu dengan masyarakat secara langsung,” paparnya.

Meski sukses dalam rutinitas yang digelutinya berpuluh-puluh tahun, namun masih ada hal yang masih belum bisa diwujudkan oleh dirinya, “dibalik aktifitas ini, masih ada yang belum tercapai Bundo lakukan, dan karena pernah menjadi anggota legislatif, Bundo ingin aspirasi masyarakat dituntaskan,” ungkapnya.Dan moment peringatan Kartini, Rosmiati mengingatkan kaum perempuan, Bundo Kanduang di ranah Minang untuk lebih memahami peran utamanya.

“Ini yang masih membuat prihatin bahkan menjadi PR utama Bundo sebagai Ketua Bundo Kanduang di Agam, Ibu-ibu rumah tangga saat ini masih ada yang belum tahu dan paham akan peran Bundo Kanduang sebenarnya, bagaimana mendidik anak, melayani suami, bagaimana bersikap, tau sumbang duo baleh, “ ujarnya.Yang utama, menurutnya sikap dan pemahaman peran, berinteraksi dengan masyarakat,dan banyak yang harus dipahami, karena Bundo Kanduang, atau kaum perempuan Minang adalah penentu kemajuan.

Penulis   : Jaswit

Editor    : Harmen

To Top