Kaba Bukittinggi

Bukittinggi Waspada Kabut Asap, Kualitas Udara Terus Menurun

Bukittinggi, KABA12.com — Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, berdampak pada munculnya kabut asap, yang mulai menyelimuti hampir seluruh wilayah di Sumatera Barat.

Berdasarkan data yang dihimpun melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun GAW Bukit Koto Tabang di Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam, tercatat ada sejumlah Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat, mulai diselimuti kabut asap seperti Kota Padang, Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Kepala BMKG Stasiun GAW Bukit Koto Tabang, Wan Dayantolis, menyebutkan, kondisi saat ini terjadi penurunan kualitas udara untuk wilayah Sumatera Barat. Apalagi pada Jumat (13/09) lalu, yang memang menjadi kondisi udara terparah di Bukittinggi. Sementara Sabtu dan Minggu kualitas udara mulai membaik. Namun, pada Senin hingga hari ini (Rabu -red) kualitas udara kembali menurun.

“Pola angin menunjukkan bahwa angin bergerak dari wilayah timur dan selatan Sumatera, mengarah ke wilayah Sumatera Barat.

Hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan terus menurunnya kualitas udara di Sumatera Barat,” jelasnya, Rabu (18/09) saat ditemui di ruang Assisten II Setdako Bukittinggi.

Sedangkan parameter kualitas udara sambung Wan Dayantolis, berdasarkan pantauan pada 3 hari terakhir pola angin bervariasi dari timur hingga selatan, dan berdasarkan prakiraan hujan dasarian I dan II September 2019, curah hujan rendah diperkirakan terjadi di wilayah tengah hingga selatan Sumatera.

“Sementara untuk jarak pandang di Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padang Pariaman, terpantau 6 Km dan jarak pandang di Stasiun pemantau Atmosfer Global Bukit Koto Tabang terpantau sejauh 2 Km. Berdasarkan pantauan jarak pandang di Bandara Internasional Minangkabau dan Bukit Koto Tabang, kondisi jarak pandang ini mengalami penurunan, bahkan hingga kurang” terangnya.

Menurut Wan Dayantolis, jika hotspot pada sekitar Sumbar dan beberapa provinsi terdekat terus meningkat dan curah hujan masih terus berkurang perlu diwaspadai dampaknya terhadap kondisi kualitas udara di wilayah Sumatera Barat. Bahkan, pada malam hari pun menjadi kondisi yang cukup berbahaya bagi kesehatan warga.

Sementara itu, Assisten II Setdako Bukittinggi, Ismail, juga terus mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, baik siang dan malam hari. Apalagi, dari keterangan BMKG Koto Tabang, musim kemarau diprediksi akan lebih panjang dan awal musim hujan mulai pada 10 hingga 20 hari kedepan.

“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi pembakaran sampah, jerami serta mengurangi terjadinya kebakaran lahan dan menggunakan masker saat keluar rumah. Kalau bisa, kurangi aktivitas di luar ruangan,” ungkapnya.

Pemko juga akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait, untuk.mengadakan shalat istisqa atau shalat minta hujan.

“Jika turun hujan, masyarakat juga diharapkan dapat menghindar. Karena kadar asam dari hujan dicampur kabut asap akan tinggi. Ini rentan dengan penyakit kulit, kepala serta berpengaruh pada kebersihan pakaian,” jelas Ismail.

(Ophik)

To Top