Sederet kasus bullying atau perundungan terjadi di sejumlah sekolah di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Pengamat pendidikan Budi Trikorayanto menyebut, salah satu faktor pendorong budaya bullying adalah sistem pendidikan yang berbasis kekerasan untuk mendidik siswa. Misalnya sekolah yang bagus sekolah yang disiplin, kalau telat dihukum, pakai poin.
Menurutnya, sistem seperti itu tidak mengedepankan kasih sayang dalam semangat pembelajarannya. Hal inilah yang menurut dia menjadikan budaya bullying yang sarat akan kekerasan bisa tumbuh.
Budi menegaskan bahwa setiap anak memiliki karakter dan potensi masing-masing, namun sistem menyamaratakan mereka.
Budi juga menyebutkan banyak pula lembaga pendidikan kedinasan di Indonesia yang justru mengedepankan budaya kekerasan dengan pretensi untuk menggembleng mental murid.
Sementara itu, menurut pemerhati pendidikan yang juga Wakil Kepala Program Studi PGSD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Apri Damai Sagita Krissandi, kasus bullying di sekolah menjadi bukti hilangnya kemampuan berempati pada anak.
Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya peran orangtua yang hanya memenuhi kebutuhan secara finansial keluarga tanpa membuka dialog antar pribadi dengan anak. Ia juga menambahkan, kasus bullying juga memunculkan pertanyaan apakah metode pendidikan karakter yang digencarkan Kementerian Pendidikan sudah dijalankan dengan tepat? Selama ini ada tim khusus pengembang pendidikan karakter di Kementrian Pendidikan, tetapi teknis pelaksanaannya belum mendarat dengan baik di sekolah.
Menurutnya, tim ini seharusnya bukan mengembangkan bahan ajar tetapi panduan teknis menumbuhkan empati melalui contoh-contoh nyata di sekolah, misal cara pendampingan emosi dengan permainan dan film, solusi ketika siswa bertengkar, solusi ketika guru menemui kasus perundungan, dan lain-lain.
(sumber: regional.kompas.com/ merdeka.com)