Kaba Tausyiah

Menghindari Perdebatan dan Emosi Saat Berpuasa

Lubukbasung, kaba12 — Berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego. Terkadang yang membuat pahala menipis bukan rasa haus, melainkan perdebatan yang tak perlu dan emosi yang tak terkendali.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan ketenangan. Namun dalam praktiknya, justru hal-hal kecil bisa memicu amarah—di jalan, di tempat kerja, bahkan di rumah. Padahal, inti puasa adalah melatih pengendalian diri.

Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberi solusi praktis. Saat emosi datang, ingatkan diri sendiri: saya sedang berpuasa. Kalimat sederhana itu bukan hanya penolak konflik, tetapi juga pengingat bahwa kita sedang menjaga ibadah.

Di era sekarang, perdebatan tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga di media sosial. Komentar pedas, sindiran tajam, hingga debat panjang yang tak berujung bisa menguras energi dan pahala. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memilih damai daripada menang argumen.

Ramadhan 1447 H hendaknya menjadi latihan kedewasaan. Tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Kadang diam lebih mulia daripada panjang penjelasan.

Karena sejatinya, kemenangan saat berpuasa bukan saat kita berhasil membalas, tetapi saat kita mampu menahan diri.

(TAUFIQ)

0Shares
Menghindari Perdebatan dan Emosi Saat Berpuasa
To Top