Lubukbasung, Kaba12 — Dunia kerja kini memasuki fase perubahan besar seiring meningkatnya kehadiran Generasi Z — mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012. Gaya kerja, nilai hidup, serta ekspektasi mereka mulai membentuk budaya kerja baru yang lebih fleksibel, digital, dan bermakna.
Salah satu ciri khas Gen Z adalah keinginan kuat untuk bekerja secara fleksibel. Menurut laporan LinkedIn Workforce Report 2024, lebih dari 70% profesional muda menyatakan bahwa mereka lebih memilih pekerjaan dengan sistem hybrid atau remote dibandingkan pekerjaan tetap di kantor, meskipun gajinya lebih tinggi. “Fleksibilitas bukan lagi bonus, tapi sudah menjadi kebutuhan dasar bagi kami,” ungkap Rani (24), seorang desainer grafis freelance di Jakarta.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, Gen Z juga terbukti lebih cepat mengadopsi alat kerja modern. Mereka menggunakan berbagai platform digital seperti Notion, Slack, hingga AI seperti ChatGPT sebagai bagian dari aktivitas kerja harian mereka. McKinsey dalam laporannya The Gen Z Effect in the Workplace (2024) menyebutkan bahwa generasi ini tidak hanya terbiasa dengan teknologi, tetapi juga menjadikannya alat utama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efektif.
Nilai sosial juga menjadi faktor penting dalam keputusan karier mereka. Generasi Z cenderung hanya ingin bekerja di perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu seperti keberagaman, inklusi, dan lingkungan. Berdasarkan Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey 2024, sebanyak 59% responden Gen Z menyatakan mereka enggan bekerja di perusahaan yang tidak memiliki komitmen terhadap tanggung jawab sosial. “Saya ingin bekerja di tempat yang selaras dengan nilai hidup saya, bukan hanya tempat cari uang,” kata Dito (23), pegawai startup energi terbarukan.
Tak hanya itu, cara pandang mereka terhadap karier juga sangat berbeda. Gen Z tidak terpaku pada jenjang jabatan atau status formal. Banyak dari mereka menjalani karier portofolio, yakni bekerja freelance, membangun bisnis sampingan, hingga aktif di media sosial sebagai personal brand. Seperti dijelaskan oleh Harvard Business Review (2023), Gen Z lebih memprioritaskan pertumbuhan diri, pengalaman baru, dan rasa makna dalam pekerjaan.
Perubahan yang dibawa Generasi Z ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan. Untuk bisa menarik dan mempertahankan talenta muda, organisasi harus mulai bertransformasi — membangun budaya kerja yang lebih fleksibel, terbuka, serta berorientasi pada nilai.
(TAUFIQ)