Bukittinggi, KABA12.com — Masyarakat Kelurahan Garegeh Kota Bukittinggi, sambut baik peralihan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syech M Djamil Djambek Bukittinggi.
Hal ini tidak lepas dari sejarah kampus pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang dulunya berada di Jalan Paninjauan Garegeh. Meski telah beralih status menjadi Universitas, namun rintisan UIN Syech M. Djamil Djambek Bukittinggi berasal dari Garegeh Bukittinggi.
Saat ini kampus UIN telah pindah ke Jalan Gurun Aua, Nagari Kubang Putih, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Untuk mengingatkan kembali akan sejarah IAIN Bukittinggi ini, masyarakat Garegeh berharap kepada civitas akademika UIN Syech Djamil Djambek untuk bisa memanfaatkan kembali kampus pertama tersebut, minimal ada satu fakultas di Garegeh.
“Atas nama pribadi kami memberikan apresiasi atas dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 85 Tahun 2022 Tanggal 8 Juni 2022, tentang Universitas Islam Negeri Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi. Alih status UIN ini mengingatkan kita kembali tentang keberadaan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN ) di Garegeh, yang kemudian pada 2014 beralih status menjadi IAIN,” ujar Anggota DPRD Bukittinggi, Dedi Fatria, selaku salah salah seorang tokoh masyarakat, Rabu (15/06).
Ia menyebutkan, masyarakat Bukittinggi tentu cukup berbangga dengan keberadaan kampus yang telah melahirkan banyak tokoh penting dinegeri ini. Namun sedikit catatan yang perlu disampaikan kepada seluruh civitas akademika UIN Syech Djamil Djambek, bahwa keberadaan UIN ini berasal dari satu fakultas yang terletak di Garegeh.
Masyarakat garegeh sudah sangat dekat dengan keberadaan kampus STAIN/ IAIN yang sudah lama berada di Garegeh. Bahkan keberadaan kampus STAIN/IAIN di Garegeh berdampak positif terhadap perekonomian warga sekitar, seperti tumbuhnya sejumlah warung makanan dan minuman serta usaha lainnya di sekitar lokasi kampus.
Tidak hanya itu, beberapa kebutuhan kampus secara eksternal juga sediakan masyarakat sekitar dengan menyediakan rumah kost/konrakan bagi mahasiswa, sehingga sangat banyak rumah kos yang sudah ada di Garegeh. Dengan pindahnya Kampus IAIN ke Kubang Putiah Banuhampu, sangat berpengaruh secara ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Melihat kondisi yang ada sekarang, Dedi Fatria sangat berharap ada pertimbangan kembali oleh semua pemangku kepentingan mulai dari Civitas Akademika sampai ke Kementerian, untuk juga dapat memanfaatkan kembali keberadaan kampus pertama IAIN Bukittinggi. Hal ini mengingat rintisan UIN Syech M Djamil Djambek Bukittinggi ini berasal dari Garegeh Bukittinggi.
“Harapan kita minimal ada satu fakultas yang berada di Bukittinggi agar linier antara nama universitas dengan lokasinya, mewakili masyarakat, kami sangat berharap lahir kebijakan oleh civitas akademika kampus juga. Kami juga mohon dukungan oleh para alumni yang sangat kami yakini memiliki histori dengan kampus di Garegeh,” ujarnya.
(Harmen/*)