Oleh : M. Nur Idris (Pemerhati Kota Bukittinggi)
Tanpa terasa 17 Pebruari 2020 ini, kepemimpinan Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias dan Wakil Walikota Irwandi sudah mencapai empat tahun atau 48 bulan. Satu-satunya pasangan Walikota dan Wakil Walikota yang berasal dari jalur independen di Provinsi Sumatera Barat yang terpilih sebagai pasangan kepala daerah serentak tahun 2016. Ramlan yang berlatar belakang pengusaha dan Irwandi berlatar belakang birokrat dan keduanya merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Bukittinggi serta sama-sama asli putra Kurai. Itu juga yang menurut sebagian orang mengatakan hubungan keduanya sampai sekarang masih akur, dibanding daerah lain yang baru seumur jagung tapi hubungannya sudah tidak harmonis lagi.
Dalam kurun empat tahun berjalan beberapa pencapaian pun sudah terlihat, mulai pembangunan infrastruktur hingga pencapaian bidang lainnya secara bertahap mulai dikerjakan secara perlahan. Masih teringat oleh masyarakat Kota Bukittinggi, baru seminggu setelah dilantik dimana masih banyak juga karangan bunga dan iklan di media massa sebagai ucapan selamat kepada pasangan Walikota dan Wakil Walikota ini, keduanya mulai bergerak aksi kerja nyata sebagaimana slogan motto kampanye mereka dahulu. Keduanya bergeriliya ke pelosok pasar dan lingkungan kelurahan. Dilihatnya selokan pasar, riol dan saluran drainase lingkungan dan jalan utama, dilihatnya satu-satu taman kota yang kurang terurus dan selokan yang selama ini menjadi penyebab banjir.
Diam-diam dimintanya para kepala dinas terkait untuk mengekspos tupoksi kerja menyangkut kebersihan, pertamanan, pasar dan penataan drainase dan jalan. Disinilah ide biasa namun berkesan bagi masyarakat ditelorkan oleh Walikota Ramlan dan Wakil Walikota Irwandi dengan kegiatan Jumat bersih. Dikerahkannya semua pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam lingkungan Pemerintahan Kota Bukittinggi untuk membersihkan selokan dilokasi pasar dan terminal Simpang Aur. Dia ajak semua Lurah dan RW/RT untuk meningkatkan kebersihan lingkungan perkampungan masing-masing. Memasuki tahun kedua, dilihatnya sekolah-sekolah SD dan SMP banyak yang sudah tidak layak, sebagai kepala daerah yang pernah hidup dan sekolah di Kota Bukittinggi segera diprogramkan pembangunan baru sekolah-sekolah SD dan SMP.
Langkah awal Walikota Ramlan dan Wakil Walikota Irwandi untuk program kebersihan kota ini tidak hanya langsung dirasakan masyarakat, namun juga berbuah manis dimata pemerintah pusat. Kota wisata yang sudah 20 tahun tidak pernah mendapatkan penghargaan Adipura sebagai penghargaan tertinggi bidang kebersihan, ditangan Walikota Ramlan dan Wakil Walikota Irwandi berdua ini, sianak hilang Piala Adipura kembali pulang ke Kota Bukittinggi. Tidak perlu menunggu lama, Penghargaan Adipura sebagai awal penghargaan yang diterima pasangan Walikota dan Wakil Walikota Ramlan-Irwandi ini.
Kemudian menerima beberapa penghargaan bertaraf nasional seperti; Piala Wahana Tata Nugraha bidang Tata Tertib Lalu Lintas, penghargaan Pastika Parama bidang kesehatan, penghargaan Kota Layak Anak, Penghargaan Baznas Award, penghargaan dari Menteri Keuangan berupa Opini WTP, penghargaan Kota Sehat dan penghargaan sebagai Kota Peduli Hak Asasi Manusia dan Anugerah sebagai Kota Cerdas Indonesia serta puluhan lagi penghargaan yang diterima dan terakhir awal tahun 2020 diterima penghargaan Akuntabilitas Kerja SAKIP 2019 dengan Predikat Nilai BB.
Pemerintah Kota Bukittinggi dibawah kepemimpinan Walikota Ramlan dan Wakil Walikota Irwandi mempunyai visi “Terwujudnya Bukittinggi Kota Tujuan Pariwisata, Pendidikan, Kesehatan, Perdagangan dan Jasa Berlandaskan Nilai-Nilai Agama dan Budaya” dengan sembilan skala prioritasnya; penerapan ajaran agama, adat dan budaya, tata kelola pemerintahan yang baik, peningkatan pendidikan, peningkatan kesehatan, pengembangan pariwisata, ekonomi kerakyatan, penanggulangan kemiskinan, peningkatan kualitas infrastruktur dan pelestarian lingkungan hidup.
Kota Bukittinggi kini semakin tacelak, taman dan trotoar mulai ditata rapi yang bertujuan agar warga dan pendatang dapat memiliki ruang ekspresi dan berinteraksi yang ramah bagi anak dan keluarga serta difabel. Dibangunnya pedestrian di kawasan jam gadang dan dibangun trotoar yang lebih luas menambah nyaman bagi pejalan kaki. Dibuatnya bangku-bangku sepanjang jalan utama menambah estetika dan kenyamanan bagi warga untuk duduk santai sepanjang jalan Sudirman dengan internet wifi gratis. Tugu pahlawan tak dikenal yang dulu terkesan seram sekarang dijadikan taman terbuka. Lahan kosong di simpang surau gadang, kini berubah menjadi icon baru taman kota dengan air mancur sebagai tempat bermain warga dan wisatawan. Rumah sekolah SD dan SMP yang dulu tidak layak kini dibangun baru, kantor pemerintah yang tidak repsentatif serta kantor lurah serta Mal Pelayanan Publik kini dibangun untuk mempermudah pelayanan dan kenyamanan masyarakat.
Kini, warga kota Bukittinggi boleh sedikit lega. Dibaca media sosial selama ini membuat berita tentang negatif kota Bukittinggi. Mulai tarif parkir termahal, harga makanan yang mamakuak, akses jalan pasar yang sempit, pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar, taman kota yang tidak terawat, riol pasar yang kumuh, trotoar jalan sempit, lampu jalan dan taman banyak yang mati, pelayanan air bersih, kini semua secara perlahan nyaris tidak ada lagi digunjingkan orang di media sosial. Sekarang sulit bagi sosial media untuk memberitakan negatif tentang Bukittinggi, walau belum sepenuhnya sempurna karena sedang dikerjakan oleh Walikota Ramlan dan Wakil Walikota Irwandi.
Diluar prestasi dan pekerjaan yang sudah diukir selama 4 tahun terakhir, namun sejumlah permasalahan dan pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Bukittinggi masih belum terselesaikan. Diantaranya lanjutan pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan pembangunan gedung DPRD Kota Bukittinggi karena kendala teknis administrasi, namun tahun sekarang akan dikerjakan kembali dan sedang tahap proses lelang. Selanjutnya pekerjaan rumah lainnya yang mendapat sorotan warga adalah terkait dengan banjir dan macet. Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan genangan air tak lagi bisa dibendung sehingga banjir menjadi keluhan warga dibeberapa lokasi. Begitu juga masalah kemacetan yang juga tak kalah penting di beberapa titik terutama menuju objek wisata pusat kota Jam Gadang, keduanya kini sedang dicarikan antisipasi dan jalan keluar dengan perencanaan yang baik.
Dalam penataan reformasi birokrasi, Pemko Bukittinggi sudah memberlakukan pelayanan administrasi secara online sebagai kota smart city. Untuk mengetahui persoalan dan potensi di wilayah Walikota Ramlan langsung turun menyelesaikan, bahkan untuk perencanaan pembangunan Ramlan datang secara bergiliran setiap kelurahan untuk bertemu warga berkumpul bersama dalam kegiatan musrenbang kelurahan. Memang Ramlan belum membuat kegiatan menginap di rumah warga untuk melihat kondisi wilayah dan kehidupan warga, namun kedepan cara ini mungkin bisa dilakukan untuk mengikat rasa dekat pemimpin dengan masyarakatnya.
Satu tahun sisa kepemimpinan Ramlan dan Irwandi tentunya menjadi waktu yang cepat untuk menuntaskan janji-janji kampanye dan merealisasikan sembilan skala prioritas, hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi keduanya. Sinergitas antara Pemkot Bukittinggi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) harus tetap solid.
Disamping itu, yang terpenting kondisi birokrasi Pemko Bukittinggi kini adalah kejelian Walikota dan Wakil Walikota Ramlan dan Irwandi membina staf dan menggerakan dinas-dinasnya. Walikota Ramlan dan Wakil Walikota Irwandi tiga dan empat tahun berlalu sudah berlari kencang, kita khawatir staf masih berjalan santai bahkan jalan ditempat. Bersyukurlah Walikota Ramlan punya Wakil Walikota yang pamong senior, dimana semua kebijakan birokrasi masa depan kota Bukittinggi sudah dikaji secara matang. Kepemimpinan Ramlan dan Irwandi memang sudah berumur empat tahun, namun berbagai prestasi dan perubahan kota sudah mulai diperlihatkan oleh keduanya. Memang belum sempurna karena “tak ada gading yang tak retak”, namun keduanya sudah “membangkik batang tarandam” bagi Kota Bukittinggi.
Dalam kesempatan perayaan HJK Kota Bukittinggi ke-235 Tahun 2019 lalu, Ramlan selaku Walikota mengatakan jika keberhasilan pembangunan di Kota Bukittinggi tak lepas dari dukungan DPRD dan sinergitas yang terbangun antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat. Ia menegaskan akan terus berkomitmen akan pembangunan yang lebih baik, jika terdapat yang kurang maka akan kita kejar kekurangan itu. Namun jika ada yang salah dan lambat dikerjakan oleh aparatur, maka itu menjadi tanggung jawab saya. Suatu pidato, yang penulis nilai sebagai sebuah komitmen seorang pemimpin yang bertanggungjawab terhadap amanah yang diembannya.
Tahun 2020 ini menjadi tahun keempat bagi Ramlan dan Irwandi dalam memimpin Kota Bukittinggi atau tahun keempat dalam menjalankan RPJMD Kota Bukittinggi periode 2016-2021. Artinya masih tinggal satu tahun lagi sisa jabatan untuk mengejar pekerjaan rumah yang tersisa. Satu tahun tersisa tidak hanya singkat tapi penuh tantangan, karena mengerjakan pekerjaan rumah yang beriringan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah Kota Bukittinggi periode 2020-2025. Tentu kenyamanan bekerja akan sedikit terganggu dengan berbagai kritikan yang tidak dipungkiri akan menjurus kepada kampanye hitam bagi pihak-pihak tertentu. Tapi penulis optimis pasangan Ramlan dan Irwandi akan bisa mengakhiri tugas periode ini dengan baik, seyakin penulis dengan prinsip Ramlan dan Irwandi selama ini “Dipuji Tidak Terbang, Dicaci Tidak Tumbang”.(*)