Galetek

32 Tahun Ibukota dan Kontestasi Sekda Agam Lubukbasung, Nilai Tawar Yang Akankah Tetap Tawar?

Oleh : HARMEN

Moment nya mungkin, disaat euphoria rasa bangga bahwa Ibukota Kabupaten Agam di Lubukbasung sudah berusia 32 tahun, ada hal lain yang bagi banyak pihak menjadi hal yang luar biasa, yakni kontestasi Sekretaris Daerah Kabupaten Agam.

Posisi Sekretaris Daerah, yang sangat sentral, sebagai koordinator pelaksana pemerintah, koordinator ASN, pengendali masalah keuangan, bahkan menjadi penentu arah kebijakan pemerintahan yang akan dilaksanakan Bupati-Wakil Bupati.

Peran sentral ini, justru menjadi salah satu ajang “pertarungan berpolitik” walau sebetulnya posisi Sekretaris Daerah ini, adalah ASN dan pejabat karier yang aturannya untuk menggapai posisi itu, sudah ada acuan dan ketentuannya.

Sebagai koordinator aparatur pemerintahan dan segudang tanggungjawab yang sangat luar biasa beratnya, posisi Sekretaris Daerah yang disebut-sebut sebagai posisi puncak karier bagi Aparatur Sipil Negara yang diakui atau tidak menjadi ajang rebutan, bak pertarungan politik, proses pemilihan sekretaris daerah justru akan lebih sengit dibanding pilkada, bahkan terkadang harus “memakan korban”, walau dalam politik hal-hal semacam itu menjadi hal yang lumrah.

Ada sebetulnya yang menarik di Kabupaten Agam. Beberapa dekade terakhir, jabatan Sekretaris Daerah, posisi Koordinator ASN di Pemkab.Agam, seakan sudah menjadi “jatah” tokoh dari Kecamatan Lubukbasung. Apalagi, merunut dari dua Sekretaris Daerah sebelumnya, yakni H.Martiaswanto Dt.Maruhun dan H.Edi Busti, merupakan putra kecamatan Lubukbasung.

Ini, walau tidak “terikrar” secara tertulis, posisi Sekretaris Daerah bagi putra Kecamatan Lubukbasung seakan menjadi “bargaining position”dalam politik pemerintahan di daerah ini, setidaknya dalam upaya membangun keseimbangan, Bupati dari kawasan Timur, Wakil Bupati kawasan Tengah dan Sekretaris dari kawasan Barat. Cukup adil sebetulnya.

Namun, hal ini berkaca pada fakta yang ada sebelumnya. Entah untuk saat ini, Bupati H.Beni Warlis tentu punya pola dan strategi yang berbeda dalam menyikapi hal ini.
Lubukbasung, Kota yang semakin dinamis dengan kemajuan pola pikir dan ragam aktivitas warganya yang semakin dinamis, sehingga tingkat kepentingan pun akan beragam dan akan selalu dinomorsatukan, meninggalkan hal-hal yang dianggap sakral untuk dipersamakan, termasuk semangat bersama untuk satu dalam kepentingan yang sama. Itu ciri warga kota yang semakin maju.

Itu satu catatan. Dan ada yang hal luar biasa lainnya, 19 Juli 2025, disaat usia Ibukota Kabupaten Agam di Lubukbasung genap berusia 32 tahun, justru terbangun kembali hal-hal special, sebagai wujud semakin tingginya peran semua elemen yang ada dalam mendorong kemajuan daerah.

Upacara peringatan 32 tahun Ibukota Kabupaten Agam di Lubukbasung, diperingati special, tidak lagi hanya pawai dan arak-arakan jamba, tapi semua tampil dengan kearifan lokal, Bupati Beni Warlis memakai pakaian ninik mamak memimpin upacara, Nasrial Dt.Asa Labiah, tokoh ninik mamak Lubukbasung membacakan sejarah ringkas perpindahan ibukota Kabupaten Agam dari Bukittinggi ke Lubukbasung, bahkan keikutsertaan warga bersama kalangan ninik mamak terbilang luar biasa dibanding moment-moment serupa sebelumnya. Ini kebanggaan yang patut disyukuri .

Namun ditengah keluarbiasaan itu justru tak terdengar bahkan mengemuka ke ranah publik, tuntutan, harapan atau aspirasi lain.

Dua hal penulis simak betul dalam prosesi peringatan 32 Tahun Ibukota Agam di Lubukbasung yang kemeriahannya menarik bahkan harus tercatat dalam sejarah daerah ini. Catatan pertama, tidak ada permintaan agar dibangun monument sejarah perpindahan ibukota Agam dari Bukittinggi ke Lubukbasung, yang nantinya akan mencatat proses perjalanan sejarah termasuk nama-nama para tokoh dan pejabat daerah yang berperan penting sebagai pelaku sejarah.

Catatan Kedua, tidak ada pernyataan terbuka ( setidaknya pernyataan resmi dari para tokoh) melalui media massa dan atau setidaknya di media sosial, yang meminta Bupati Agam menempatkan putra terbaik Lubukbasung sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Agam pengganti H.Edi Busti, putra Manggopoh Lubukbasung yang akan memasuki masa pension.

Atau setidaknya ada “bocoran”bisik-bisik yang bisa membangunkan aura bersama selaku warga, bahkan sosok tertentu asal Kecamatan Lubukbasung tertentu yang dikaderkan. Entah ( atau mungkin) ada tokoh yang dekat atau setidaknya merasa dekat dengan Bupati Agam saat ini , yang meminta secara khusus menjadikan moment kontestasi Sekretaris Daerah Kabupaten Agam saat ini, memprioritaskan putra Kecamatan Lubukbasung yang memenuhi persyaratan dan dianggap layak menempati posisi “Ketua OSIS” itu.

Apalagi ini, ( bukan sebagai opini berbau SARA), tapi setidaknya untuk berbagi porsi dan keseimbangan, karena dampaknya justru hanya untuk kenyamanan pelayanan pemerintahan semata,- dari 10 pejabat terbaik Pemkab.Agam yang kini lolos dalam seleksi administrasi dan Jumat, (25/7) akan mengikuti uji kompetensi di Pekanbaru, ada 2 tokoh muda asal Kecamatan Lubukbasung yakni Fauzi,STTP, Msi, ( Staf Ahli Bupati Agam) dan Helton, SH, MM, (Kadinas Dukcapil Agam) yang ikut bersaing.

Akankah dua sosok ini, bisa mendapat “point khusus” ditengah ketatnya persaingan bersama 8 pejabat daerah lain, masing-masing Andrinaldi, ( Kadishub ), Hamdi, ( staf ahli Bupati Agam), Helton , M.Lutfie, ( Kepala DPMPTSP), Rahmad Lasmono, (Kepala Bappeda), Rinaldi,(Kepala Perkim), Rio Eka Putra ( Kepala Perindag-Naker), Syatria, ( Kadis Kominfo) dan Welfizar, ( Inspektur Daerah), yang notabone adalah para pejabat terbaik, dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang komplit.

Bukan penulis menggiring opini, bukan pula membangun keberpihakan, bahkan juga bukan “bersekutu” harus putra Kecamatan Lubukbasung yang harus menjadi Sekretaris Daerah, namun ada mungkin poin-poin penting yang dampaknya juga akan meringankan beban kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintah, setidaknya ada rasa “adem”, karena terbangun keseimbangan, atau setidaknya bisa menjabarkan harapan ditengah duka tak terpilihnya putra asal daerah ini sebagai pemimpin dalam Pilkada-Pilkada sebelumnya.

Tapi entahlah, karena memang ini galetek dari penulis untuk mengusik hal-hal sensitive yang selama ini sudah terpelihara apik di daerah ini. Entah memang, dalam kontestasi Sekda Agam saat ini, Bupati Agam akan berpijak ada aturan yang ada, dan memberi ruang betul-betul putra terbaik daerah ini yang akan menjadi pemimpin tertinggi ASN Pemkab.Agam, atau ada hal-hal ,khususnya lain, yang setidaknya bisa jadi “sitawa-sidingin”ditengah rasa cemas yang berharap-harap, karena semua berharap putra terbaik mereka akan menjadi pemimpin.

Dan ini bukan berarti calon putra dari kecamatan lain tidak berpeluang. Semua masih dalam kisaran meraba-raba arah. Karena penulis menyimak , sudah lebih 100 hari masa kerja Bupati Beni Warlis, justru banyak hal-hal yang diluar dugaan lain yang muncul.

Tapi akankah ini, menjadi bahan kajian dan pemikiran oleh Bupati Agam H.Beni Waris ?. Karena saat-saat ini pun, Bupati Beni Warlis harus dihadapkan pada pertentangan yang dibangun sendiri. Bahkan, harus “berhadapan” dengan warga di kampung sendiri, pasca pengusiran Sekretaris Nagari Panampuang Ampek Angek yang notabone-nya kampung dan nagari Beni Warlis sendiri, termasuk pro-kontra pengukuhan ninik mamak di Nagari Panampung yang dijadualkan Sabtu, (26/7) .

Dan mungkin saja, saat-saat ini sudah ada 1 nama yang akan menempati posisi strategis di Pemkab.Agam. 1 nama yang lama dipersiapkan, sementara proses yang ada sekarang, hanya sekedar formalitas belaka. Namun, hal-hal yang terselip tak tertulis dalam rangkaian tata naskah pemerintahan, atau poin-poin kecil untuk bisa mendorong semakin kokohnya pondasi dalam ranah politik pemerintahan, atau setidaknya sekedar diserap juga aspirasi warga yang berani bersuara. Karena mereka bersuara, dilatari rasa cinta akan kemajuan daerah ini. Bukan untuk pribadi, bukan untuk kelompok dan bukan untuk sesuatu yang tak jelas wujudnya. Entahlah. Semoga.-(*).-

0Shares
32 Tahun Ibukota dan Kontestasi Sekda Agam Lubukbasung, Nilai Tawar Yang Akankah Tetap Tawar?
To Top