Kaba Pemko Bukittinggi

Pemko dan Forkopimda Sepakat Sukseskan Vaksinasi Covid-19

Bukittinggi, KABA12.com — Pemko Bukittinggi dan Forkopimda sepakat untuk mensukseskan pelaksanaan Vaksin Covid-19 di Bukittinggi pada bulan Februari mendatang. Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias beserta Forkopimda pun siap untuk divaksin. Karena itu akan dilakukan sosialisasi mulai dari tingkat kota hingga kelurahan terkait pentingnya vaksinisasi Covid 19 ini demi kesehatan masyarakat.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, saat memimpin Rapat Koordinasi Pelaksanaan Vaksin Covid 19 pada Jumat (22/01) di Aula Balaikota Bukittinggi lalu mengatakan, perlu evaluasi kembali 1.001 orang telah terpapar Covid 19 di Bukittinggi. Berarti 1 bulan kira-kira 100 orang terpapar tanpa disadari. Saat ini masih ada dalam keadaan positif, masih ada dalam masa isolasi bahkan ada yang meninggal.

“Intinya virus corona ini belum selesai. Wali Kota memperkirakan pandemi covid 19 ini masih belum usai pada tahun 2021 ini. Lebih-lebih kesadaran masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan sangat rendah,” ujar Ramlan.

Pemerintah telah menyiapkan vaksin untuk memutus mata rantai penularan Covid 19. Ada jatah 4.400 vaksin untuk Bukittinggi tahap I. Vaksin diutamakan untuk tim kesehatan, ditambah petugas yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan memiliki resiko besar terpapar virus.

“Ada batasan usia untuk diberikan vaksin. Dampak pemberian vaksin pun kecil berdasarkan pengalaman orang yang telah melaksanakan vaksin. Kelangsungan kehidupan masyarakat dapat diperpanjang dengan memberikan vaksin,” ujarnya.

Ramlan menugaskan Dinas Kesehatan untuk menyebarkan edaran terkait vaksin ini ke Masjid-Masjid berikut penjelasannya. Sehingga masyarakat bisa mengerti dan tau kenapa vaksin Covid 19 penting. Tidak kontra lagi dengan adanya vaksin Covid 19. Salah satunya untuk mempermudah Calon Jamaah Haji bisa berangkat melaksanakan ibadah Haji.

dr. Deddy Herman, Spesialis Paru, yang turut hadir mengatakan ada Surat Keputusan Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes No. HK. 02.02/4/1/2021 tentang petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19, terlampir beberapa hal yang perlu jadi perhatian.

Salah satunya, kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan suntik vaksin.
Kondisi orang yang tak bisa disuntik vaksin Covid-19 :

  1. Terkonfirmasi menderita Covid-1. Sedang hamil atau menyusui. Mengalami gejala ISPA, seperti batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir.
  2. Ada anggota keluarga serumah yang kontak erat atau suspek atau konfirmasi atau sedang dalam perawatan karena penyakit Covid-19 sebelumnya.
  3. Memiliki riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak, dan kemerahan setelah divaksinasi Covid-19 sebelumnya (untuk vaksinasi ke-2).
  4. Sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah.
  5. Menderita penyakit jantung (gagal jantung atau penyakit jantung koroner).
  6. Menderita penyakit autoimun sistemik (SLE atau lupus, Sjogren, vaskulitis) dan autoimun lainnya.
  7. Menderita penyakit ginjal (penyakit ginjal kronis atau sedang menjalani hemodialysis atau dialysis peritoneal atau transplantasi ginjal atau sindroma nefrotik dengan kortikosteroid.
  8. Menderita penyakit Reumatik Autoimun atau Rhematoid Arthritis.
  9. Menderita penyakit saluran pencernaan kronis.
  10. Menderita penyakit hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.
  11. Menderita penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais atau defisiensi imun, dan penerima produk darah atau transfusi.
  12. Bila berdasarkan pengukuran tekanan darah didapati hasil 140/90 atau lebih.
  13. Menderita HIV dengan angka CD4 kurang dari 200 atau tidak diketahui.

Sementara, jika berdasarkan pengukuran suhu tubuh calon penerima vaksin sedang demam, yakni memiliki suhu tubuh 37,5 derajat Celcius atau lebih, vaksinasi Covid-19 diarahkan untuk ditunda. Penundaan sampai orang tersebut sembuh dan terbukti bukan menderita Covid-19, serta dilakukan skrining ulang pada saat kunjungan berikutnya.

Vaksinasi juga perlu ditunda bagi penderita penyakit paru, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau TBC sampai kondisi pasien terkontrol baik. Untuk pasien TBC dalam pengobatan dapat diberikan vaksinasi minimal setelah dua minggu mendapatkan obat anti tuberkulosis (OAT). Bagi penderita diabetes tipe 2, juga dapat diberikan vaksinasi kalau kondisinya terkontrol dan HbA1C di bawah 7,5%.

(Ophik)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });