Kaba Tausyiah

Konsep Manusia Dalam Al-Qur’an

Konsep Manusia merupakan salah satu di antara tema sentral yang dibicarakan di dalam al-Qur’an. Hal ini terindikasi dari beberapa kata yang terdapat di dalam al-Qur’an yang itu semua berpulang pada makna dan tema yang satu, yaitu membicarakan manusia. Setidaknya ada empat kata di dalam al-Qur’an yang mewakili makna manusia: pertama, al-basyar, kedua an-nas, ketiga al-ins dan keempat al-insan.
Meskipun memiliki makna yang sama, bukan berarti keempat kata tersebut tidak memiliki unsur-unsur yang berbeda.

Sebab, dalam kaidah dasar ulum al-Qur’an menetapkan bahwa ayat al-Qur’an terlepas dari pemaknaan berulang-ulang secara sia-sia.

Konsep Al-Basyar

Secara Bahasa, kata al-basyar berasal dari kata basyara-basyran. Di antara makna dari kata tersebut adalah mengupas.

Pemaknaan kata mengupas tersebut, -jika kita merujuk kepada makna yang diberikan oleh al-Ashfahani di dalam mufradat al-alFazhal-Qur’an-dikarenakan kata basyar bisa menjadi al-bisyrah atau al-basyarah yang artinya kulit yang tampak. Beberapa ahli bahasa kemudian menjelaskan kenapa manusia disebut dengan kata basyar, karena secara fisik kulit manusia lebih tampak dari pada rambut/bulu-bulunya. Berbeda dengan hewan yang lebat bulunya atau sama sekali tidak memiliki bulu.

Makna al-Qur’an: Berangkat dari makna bahasa ini, maka secara umum ayat yang menggunakan kata al-basyar menunjukkan manusia secara fisik. Seperti pada firman Allah surat al-Furqan: 54 dan Shaad: 71. Hal ini diperkuat pada ayat-ayat lain yang memberikan definisi bahwa al-basyar adalah wadah fisik yang bersifat materil, membutuhkan makan dan minum dan menunjukkan siapa saja, baik nabi maupun orang kafir. (al-Anbiya: 1-8)

Konsep Al-Nas

Para ahli bahasa pendapat menyatakan bahwa al-Nas berasal dari kata unas yang berasal dari kata anisa yang artinya jinak-menjinakkan/ramah. Hilangnya hamzah pada kata tersebut disebabkan karena masuknya alif lam. Berbeda dengan pemaknaan tersebut, ahli bahasa lain berpendapat bahwa asal kata an-Nas adalah nasiya artinya lupa. Yang lain mengakarkan pada kata nasa-yanusu artinya bergoncang. Sementara dzu nawwas artinya yang memiliki keilmuan.

Makna al-Qur’an: Adapun jika dirujuk pada ayat-ayat yang menggunakan lafal an-Nas, maka setidaknya didapati tiga makna umum.

Pertama an-Nas merujuk pada makna jenis makhluk. Seperti pada firman Allah surat al-Hujurat: 13 yang menjelaskan bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang berasal dari jiwa yang satu yaitu adam.

Konsep Al-Ins

Al-Isfahani di dalam kitabnya menyebutkan kata al-Ins memiliki akar kata yang sama dengan al-Insan. Meski demikian, bagi al-Ashfahani al-Ins dan al-Insan memberikan penekanan yang sama sekali berbeda. Secara bahasa keduanya memang berasal dari alif nun dan sin, tetapi jika di lihat pada penggunaan katanya di dalam konteks ayat-ayat maka al-Ins, oleh beliau diartikan khilaful jinni (makhluk yang berbeda dari jin).

Adanya makna tersebut merupakan hasil dari adanya kenyataan bahwa kata al-Ins selalu disandingkan dengan al-Jinn tetapi tidak menunjukkan kesamaan melainkan justru perbedaan.

Konsep Al-insan

Sementara kata al-Insan, meskipun bukan kata yang paling banyak tersebutkan dalam al-Qur’an, tetapi memiliki porsi yang cukup luas dalam menjelaskan konsep manusia menurut al-Qur’an. Secara bahasa, al-Insan –sebagaimana yang dikutip oleh al-Isfhani adalah:
سمي بذلك لأنه خلق خلقه لا قوام له إلا بإنس بعضهم ببعض
(Dikatakan (al-insan) karena dia adalah makhluk yang diciptakan yang tidak bisa hidup kecuali bersama dengan manusia lainnya).

Makna al-Qur’an: Makna bahasa ini, bagi penulis kemudian menemukan perwujudannya dalam tiga pemakanaan yang terdapat dalam al-Qur’an. Pertama al-Insan itu menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan dengan bergantung kepada Allah. Kedua manusia itu diciptakan dengan membutuhkan pengetahuan dan manusia diciptakan dengan berbagai macam kekurangan.

Dengan adanya kesadaran tersebut, maka kata al-Insan yang disebutkan dalam ayat yang menjelaskan proses penciptaan manusia pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menunjukkan manusia dari segi fisiknya belaka, melainkan lebih kepada bagaimana manusia itu menyadari kekuasaan Allah atas dirinyaa sehingga manusia itu mengakui bahwa dia bergantung pada Zat yang menciptakannya.

Berhubungan dengan pemaknaan pertama, maka makna kedua bisa dijelaskan bahwa untuk menyadari ketergantungan manusia kepada penciptanya, maka al-Insan itu diberikan anugrah Allah berupa ilmu pengetahuan. Sehingga harusnya pengetahuan itu menjadi kebutuhan, di mana kebutuhan pokok dari keilmuan itu adalah untuk mengenal Allah dan menyadari kebutuhan kita akanNya

Adapun perwujudan makna al-Insan yang ketiga di dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia itu makhluk yang bergantung disebabkan manusia memiliki potensi merugi.

Kekurangan-kekurangan inilah yang sejatinya bisa menjadikan manusia berada pada kerugian. Sementara kerugian itu disebutkan dalam al-Qur’an dengan istilah asfala as-Safilin.

Adapun jika manusia memahami ketergantungannya kepada Allah, kepada pengetahuan akan Allah dan segala tindakan yang bisa menjurumuskannya dalam potensi-potensi buruk, maka manusia itu bisa kembali pada penciptaannya yang fitrah dan unggul, atau yang diistilahkan al-Qur’anahsanitaqwim.

Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa: Manusia di dalam al-Qur’an diwakili dengan empat kata: al-Basyar, al-Nas, al-Ins dan al-Insan

Al-Basyr menggambarkan manusia sebagai manusia secara fisik, wadah materil yang butuh makan dan minum dan menunjukkan manusia jenis apa saja, baik Nabi maupun kafir
Al-Nas memiliki tiga pemaknaan.

Pertama: menunjukkan jenis makhluk yang bernama manusia. kedua: manusia tidak sebagai entitas secara fisik tetapi sifat-sifat. Ketiga manusia makhluk yang berbeda karena memiliki potensi menjadi baik dan menjadi buruk.

Makna al-Ins merujuk pada makna berbeda dari Jinn dalam arti negatif
Makna al-Insan yang merujuk pada hakikat manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah, bergantung pada Allah, membutuhkan ilmu pengetahuan untuk mematuhi Allah dan menjauhkan diri dari potensi-potensi kerugian

Jika hendak diambil benang merah dari semua kata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa manusia di dalam al-Qur’an tidak hanya bersifat basyar saja. tetapi an-nas yang memiliki potensi baik dan buruk. Hakikatnya manusia harus menjadi al-Ins yang tidak tersesat oleh al-Jinn.

Untuk itu maka manusia harus menghayati dirinya sebagai al-Insan di mana potensi keburukan dan kerugiannya dijauhi dengan cara menyadari ketergantungannya kepada Allah melalui pengetahuannya kepada Allah dan mengaplikasikan pada tindakan untuk menghindari segala potensi keburukan dalam diri.

(Sumber: tongkronganislami.net)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

To Top