Pariwisata

Mesjid Raya Bingkudu Sentral Pengembangan Ajaran Islam di Sumbar

Canduang, kaba12.com — Sumatera Barat memiliki sejarah panjang dalam perkembangan agama Islam, bahkan memiliki masjid- masjid kuno bersejarah yang menjadi tempat beribadah dan penyebaran agama di Minangkabau.

Salah satunya Masjid Raya Bingkudu yang terletak di Jorong Bingkudu, Nagar Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di wilayah tersebut, bahkan Sumatera Barat. Lokasi pendiriannya merupakan hasil kesepakatan dari 4 delegasi yang mewakili daerah Bingkudu.

Menurut masyarakat setempat Masjid Raya Bingkudu dibangun pada tahun 1823 M atau awal abad ke-19 oleh Haji Salam, Inyiak Canduang yang bergelar Inyiak Basa.

Baca Juga:  Pesilat Sumbar Tampil Memukau di Festival Bela Diri Dunia

Arsitektur atap masjid ini memiliki khas masjid- masjid kuno di Sumatera Barat, karena bentuknya yang unik dan bertingkat mempunyai filosofi konsep kepemimpinan di Minangkabau yakni “Tigo Tungku Sajarangan” (Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai).

Pada mihrab terdapat tulisan menggunakan huruf arab dan latin yang yang menunjukkan angka tahun 1316 H atau 1906 M, angka tahun tersebut diduga merupakan angka tahun pembuatan mihrab. Dilokasi masjid tersebut selain bangunan utama terdapat beberapa kolam air yang berada di sebelah Barat dan selatan bangunan masjid. Sementara disebelah Utara masjid terdapat bangunan MDA berlantai 2, disebelah Timur terdapat bangunan tempat berwudhu. Denah ruangan utama masjid berukuran 21 x 21 meter.

Baca Juga:  Goresan Pesona Alam di Kain Beludru

Sementara pada kontruksi kaki masjid ini berupa pondasi beton setinggi 40 cm, sedangkan lantai masjid terbuat dari papan kayu Surian yang disusun rata. Di dalam ruang utama masjid ini terdapat 25 buah tiang. Tiang utama terletak ditengah-tengah ruang utama yang terbuat dari beton berbentuk segi 12 dan berdiameter 1,25 meter. Di sekeliling tiang utama terdapat 24 tiang kayu berbentuk segi 16 yang diameternya berukuran antara 20-45 cm. Di dalam komplek masjid, terdapat makam seorang ulama yang berpengaruh di daerah ini yaitu Syekh Ahmad Taher yang meninggal pada tanggal 13 Juli 1962.

Baca Juga:  Gunung Agung Masih Aman, Berikut Destinasi Seru di Bali Yang Bisa Jadi Pilihan

Hingga kini bangunan masjid yang terletak di kaki gunung Marapi ini telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Agam sejak 1989 dan menjadi salah satu tempat wisata religi yang ada di wilayah tersebut.

(Bryan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top