alterntif text

Bukittinggi

Yesi Endriani Gunakan Baju Anak Daro Minangkabau ‘Manjalang Mintuo’ di Rakernas Dekranasda

Bukittinggi, KABA12.com — Lain padang lain belalang, lain lubuak lain ikannyo. Lain nagari lain pakaian nyo, itu uniknya adat istiadat di Minangkabau.

Salah satunya pakaian adat yang ditampilkan oleh Ketua Dekranasda Kota Bukittinggi Ny. Yesi Endriani Ramlan Nurmatias pada pembukaan pameran Kriya Nusa 2019 yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (11/09).

Yesi Ramlan Nurmatias bersama Ketua Dekranasda dari 19 Kabupaten dan Kota se Provinsi Sumbar dan Ketua Dekranasda Provinsi berkesempatan peragakan baju adat dari daerah masing-masing.

Baju adat yang digunakan Ny. Yesi Ramlan Nurmatias itu terdiri dari Baju Basiba Beludru Hitam bamisia batabua banang ameh dipakai anak daro pai manjalang mintuo.

Kodek kain balapak artinya seorang padusi iyo batutuik aurat handakno, Salendang dibahu kain balapak surang padusi artinya pendukung generasi penerus dan pendidik anak yang baik.

Tikuluak di kapalo rang namokan tikuluak tanduak basongkok ameh, terbuat dari kain balapak ditutupi dengan perhiasan emas.

Selanjutnya, dukuah pinyaram agak tigo lenggek terdiri dari pinjaram artinya kok picak alah bisa dilayangkan. Kudo-kudo artinya sipemakainya nantinya kuat dan kokoh dalam menempuh hidup berumah tangga. Bareh ampiang artinya pengantin ini bisa merajut tali kasih dengan sempurna di keluarganya nantinya.

Pengantin ini harus tacelak nampak jauah tabarombang nampak dakek. Lalu memakai galang gadang ditangan dua buah pemanis tangan anak daro menandakan seorang yang berpunya maka anak diberi perhiasan waktu jadi raja sehari. Uncang ditangan panyapo alek datang panyiriah urang lalu, selop batutuik artinya seorang perempuan harus pandai menyimpan rahasia dan kameh rapi dalam rumah tangganya.

Begitu dalam makna pakaian yang diperagakan istri Ramlan Nurmatias, Walikota Bukittinggi itu.

Dalam kesempatan itu, Ny. Yesi Endriani Ramlan Nurmatias, mengatakan, sangat bangga bisa tampil dengan memakai pakaian adat. Menurutnya, sebagai salah satu kekayaan adat dan budaya Minangkabau, pakaian adat hendaknya selalu dipakai, tidak saja pada acara ataupun seremonial pernikahan saja.

“Namun makna dan tafsiran nya tetap dibudayakan dan mendarah daging kepada anak kemenakan kita, terutama kaum wanita,” ujarnya.

Kehadiran Yesi pada acara tersebut pun untuk mempromosikan adat budaya dari Kota Bukittinggi sekitarnya dengan keunikan dan makna dari pakain anak daro yang dipakainya. Baju adat yang dipakainya itu biasanya dipakai oleh “Anak Daro” yang turun dari rumahnya di Koto Tangah Tilatang Kamang untuk berpawai mengikuti seremonial “Manjalang Mintuo” ke Manggih Kurai Limo Jorong.

(Ophik)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top