Kaba Pemko Bukittinggi

Satu WNA Dicoret Dari DPT Pemilu 2019 Bukittinggi

Bukittinggi, KABA12.com — Setelah menerima informasi data pemilih pada Pemilu 2019 secara nasional, yang menyatakan adanya teridentifikasi 103 orang Warga Negara Asing (WNA) masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bukittinggi langsung melakukan pengecekan.

Ketua KPU Bukittinggi, Benny Aziz, menjelaskan, KPU RI memerintahkan seluruh KPU di Kabupaten dan Kota yang di dalam DPT nya terdapat WNA itu untuk melakukan validasi dan verifikasi data. Ternyata, di DPT Bukittinggi terdata satu orang WNA yang memiliki KTP Elektronik berkebangsaan Belanda.

“Diketahui salah seorang WNA di Bukittinggi itu bernama Damajanti, kelahiran 1996, terdata dalam DPT di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 7, dimana orangtua perempuannya berasal dari Indonesia dan warga asli Bukittinggi, yang beralamat di Kelurahan Bukik Cangang Kayu Ramang Kecamatan Guguk Panjang, sedangkan orang tua laki-lakinya berkebangsaan Belanda,” terangnya.

Menurut Benny Aziz, Pada saat dilakukan Pencocokan dan Penelitian (Coklit) data oleh Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih) pada 17 April hingga 17 Mei 2018 lalu, yang bersangkutan sedang kuliah di Bina Nusantara (Binus) Jakarta dan keluarga tidak bisa memperlihatkan KTP Elektroniknya. Namun karena namanya masuk dalam Kartu Keluarga (KK), sehingga Pantarlih memasukkan namanya dalam daftar pemilih.

“Pantarlih memang tidak mendata secara detail hingga memperhatikan yang bersangkutan terdata sebagai WNI atau WNA. Namun berpatokan pada Kartu Keluarga dan pada Pemilu tahun 2014 lalu yang bersangkutan juga telah masuk DPT, begitu juga dalam Pilkada serentak tahun 2015, namun tidak pernah datang ke TPS untuk memilih,” jelasnya.

Benny Aziz menambahkan, Damajanti lahir di Belanda, sejak tahun 2001 diketahui bersekolah di Kota Bukittinggi mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA, dan melanjutkan kuliah di Binus Jakarta. Sebagai tindak lanjut yang bersangkutan telah dicoret dalam DPT Pemilu 2019.

“Pencermatan DPT asing ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi beredarnya berita hoax yang sangat gencar di media sosial, yang kadang tidak di saring dulu sebelum membagikan, seperti informasi adanya jutaan WNA asal Tiongkok yang masuk DPT, dan KPU Bukittinggi menepis informasi yang tidak benar tersebut,” tegas Benny.

(Ophik)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top