Kaba Pemko Bukittinggi

Icu Zukafril : Peradaban Minangkabau Perlu Penguatan

Bukittinggi, KABA12.com — Mulai renggangnya sistem peradaban di Minangkabau mendapat perhatian khusus dari seorang aktivis dan penggiat sosial kemasyarakatan, H. Icu Zukafril, DT. Bandaharo. Ia berpendapat, budaya dan peradaban Minangkabau saat ini butuh penguatan agar dapat berjalan sebagaimana mestinya.

H. Icu Zukafril, menjelaskan, adat salingka nagari harus betul-betul salingka Nagari. Masing-masing daerah punya keunggulan yang dapat menjadi penyokong bagi daerah tetangganya. Sehingga dengan kearifan lokal yang dimiliki, daerah yang saling berkaitan ataupun bersebelahan, bisa saling bergandengan untuk kemajuan Minangkabau.

“Saat ini kami menilai, masing-masing daerah punya egosentris tersendiri. Akibatnya tidak ada kerjasama yang solid, sebagaimana sistem banagari kita dahulunya. Kita dulu di Minangkabau selalu diajarkan untuk mengedepankan kebersamaan untuk mencapai kemajuan. Ini yang mulai terpinggirkan dan butuh revitalisasi,” ungkap tokoh yang telah menamatkan tiga pendidikan pasca sarjana itu.

Contoh lainnya, lanjut Icu, saat ini penyelesaian masalah tanah di Minangkabau Sumatera Barat ini, sudah tidak seperi dahulu. Dimana dengan kekuatan urang Minang, meskipun dijajah oleh Belanda, tak ada satupun tanah yang jatuh kepada tangan kolonial.

“Yang ada, Belanda memakai tanah kita dulunya, menggunakan sistem sewa. Sekarang setelah merdeka, malah banyak yang meng klaim, ini tanah kami, ini tanah pihak ini, bahkan tiba-tiba ada yang dulunya tanah milik masyarakt, tiba-tiba jadi milik negara. Ini yang sangat disayangkan. Masalah tanah malah menimbulkan perpecahan dan kita malah terkotak-kotak. Ini bukti peradaban kita juga butuh penguatan dan perlu dilakukan revitalisasi,” ujarnya saat berbincang dengan sejumlah awak media, di sebuah cafe di bilangan Ngarai Sianok, beberapa waktu lau.

Lebih lanjut, Icu yang juga aktivis olahraga dari cabor silat ini, mencontohkan, saat ini sejumlah pemuka adat di Minangkabau, terlalu mudah memberi gelar adat kepada orang lain, yang dirasa belum pantas mendapatkan gelar itu. Sehingga seolah-olah siapa saja yang sedikit memiliki kekuasaan di negeri ini, langsung diberikan gelar adat.

Masalah pernikahan, lanjutnya, KUA sebagai lembaga untuk pencatatan administrasi pernikahan, bukan untuk yang menikahkan, karena di Minangkabau, ada tokoh-tokoh adat yang lebih berhak melakukan tugas menikahkan anak kemenakan. Sekarang kan sudah banyak yang jauh berbeda dari sistem itu.

“Peradaban dan budaya Minangkabau yang terjadi saat ini lah yang perlu dipetakan ulang. Kita harus kembali ke jalur yang benar. Kekuatan orang Minang sangat besar. Kebersamaan kita sangat kuat. Tapi yang terjadi sekarang, banyak yang sudah hilang. Seolah-olah kita di Minangkabau lupa akan jati diri kita sebagai masyarakat yang hidup kuat saling berdampingan dengan kebersamaan berlandaskan adat basandi syara’ syara’ basandi kitabullah,” pungkas putra asal Koto Marapak, Lambah, Ampek Angkek, yang sudah 60 tahun hidup di perantauan itu.

(Ophik)

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top