Kaba Terkini

” Qiramat ” Tradisi Ritual Yang Bertahan di Jorong Sonsang

Sonsang, kaba12.com — Kecamatan Tilatang Kamang memendam beragam tradisi dan budaya yang hingga kini masih dipertahankan dengan kuat oleh masyarakat.

Banyak jenis tradisi budaya bahkan ritual yang sudah menjadi bagian dari aktivitas utama masyarakat yang dilestarikan hingga kini bahkan oleh generasimuda.

Salah satu tradisi menarik yang masih sangat kuat dilaksanakan masyarakat Tilatang Kamang, khususnya di jorong Sonsang, nagari Koto Tangah, adalah tradisi ” qiramat”.

Tradisi ” qiramat ” adalah ritual yang sudah mentradisi sejak nenek moyang masyarakat Sonsang, berupa ritual ibadah, dengan berzikir bersama, membaca surat Yasiin dan berdoa bersama di hamparan sawah.

Ritual itu, merupakan wujud syukur dan berserah diri pada Allah, SWT, atas segala rahmat dan rezeki yang dilimpahkan pada para petani, sehingga hasil panen padi mereka melimpah dan jauh dari segala macam hama.

Ritual ini juga wujud berserah diri pada Allah, SWT, dengan memohon perlindungan agar kegiatan perhatian dan hasil panen selanjutnya terjaga, jauh dari musibah dengan hasil yang memuaskan.

Menariknya ritual itu, hanya dilakukan 1 kali dan 14 bulan, sesuai perhitungan dan tradisi yang sudah diwarisi secara turun temurun di wilayah Sonsong.

Dan, moment ritual 14 bulanan itu, jatuh pada hari Minggu,(24/2), masyarakat Jorong Sonsang, nagari Koto Tangah, bersama – sama turun kesawah,sambil ” manjujuang ” nasi untuk ” berqiramat” bersama .

Ritual unik yang dipertahankan hingga kini tersebut, dihadiri Camat Tilatang Kamang Ade Harlien, Walinagari Koto Tangah Mashuri, Kapolsek Tilatang Kamang AKP. Lirman,tokoh masyarakat, niniak mamak,alim ulama caliak pandai dan bundo kanduang serta pemuda.

Camat Tilatang Kamang Ade Harlien, yang ikut bersama masyarakat melaksanakan ritual ” qiramat ” menyebut, tradisi seperti itu harus terus dipertahankan.

Pasalnya, wujud kegiatan ritual qiramat, adalah untuk berserah diri pada Allah, memohon ampunan, dan memohon limpahan rezeki berupa panen padi yang banyak terhindar dari segala musibah.

Tradisi ritual seperti itu, ulas Ade Harlien, wujudnya untuk tetap mempertahankan kebersamaan, menjadikan warga dan umat Islam sebagai hamba yang selalu bersyukur serta selalu bekerja keras untuk meraih rezeki yang halal.

” Kami mengapresiasi tradisi seperti ini, karena banyak aspek yang bisa dikaji, apalagi untuk kebersamaan dalam masyarakat,” ungkap Ade Harlien lagi.

Ritual qiramat, yang dilaksanakan sekali 14 bulan sebelum panen itu, bertujuan mensyukuri nikmat Allah dengan berdo’a agar petani menghasilkan panen yang memuaskan.

Ritual yang sudah menjadi tradisi itu, diawali dengan Yasinan, dzikir, berdo’a, makan bersama kemudian menyiram tanaman padi masyarakat menggunakan sejenis tanaman herbal.

(Jaswit)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top