Catatan 12

“Peduli Icak-Icak, Icak-Icak Peduli”

Catatan : Harmen

 

Judul diatas entah “nyambung” atau tidak, tapi menurut panafsiran penulis bermakna sama. Intinya sama-sama memendam “kadar bohong”. Peduli Icak-Icak (Peduli Pura-Pura, disingkat PII saja), mungkin berarti sekedar membangun persepsi perhatian yang besar terhadap sesuai, sekedar menyenangkan hati orang lain, bahkan sekedar “membangun” wajah peduli agar orang lain senang, sementara dalam hati entah “bersengkarut”.

PII samalah diartiakan sebagai bergaya kamuflase untuk sekedar penebar pesona dan membangun opini sendiri, sehingga orang lain pun menaruh simpati saat ini. Tak PII sebetulnya bertahan lama, karena mayoritas orang takkan bisa melihat realisasi dari PII, termasuk cerita peduli itu sendiri, karena yang merasa PII justru orang dipedulikan secara “icak-icak” itu tadi.

Samalah kiranya dengan “ Icak-Icak Peduli” ( Pura-Pura Peduli- disingkat IIP saja). Walau konotasinya bisa beda, tapi dalam aplikasi kesehariannya bisa sama. Hanya saja prakteknya, bisa berbeda, dan bisa bisa tergambar dari sikap secara langsung, atau sekedar statemen, yang muaranya juga hanya sekedar menyenanngkan hati sesamaan bagi pihak yang merasa dipedulikan.

Tapi dalam harfiahnya, kedua istilah penafsiran penulis itu, sama tidak bermanfaatnya secara factual untuk keseharian masyarakat.Semua hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Sekedar pemenuhan opini, atau sekedar pemenuhan aspirasi dan kepentingan semata.

PII dan bahkan IIP , justru menjadi salah satu ancaman yang akan mengesankan lawan-lawan politik untuk membangun bahan “serangan” politik untuk menjatuhkan, karena PII-IIP merupakan boomerang karena semua hanya “icak-icak alias pura-pura” belaka.

Kepura-puraanlah yang selama ini, menurut analisa penulis sebagai “penghancur” abadi dalam beragam aspek, apalagi yang berhubungan langsung dengan kepentingan dan aktivitas hidup orang banyak. Apalagi dalam aktivitas sosial-pemerintahan dan politik.

Kepura-puraan akan menjadi “santapan rutin” bahkan menjadi bagian dari propaganda, menjadi bahan pendekatan politik, kampanye politik, termasuk untuk menyaru simpati banyak pihak. Intinya, bahkan “icak-icak” menjadi tujuan apik, agar semua orang yang di”icak-icakan” menaruh simpati bahkan membutuhkan keberpihakannya.

Tapi dalam ragam polah politik, perilaku para “icak-icak” ini, merupakan hal yang lumrah, karena para pengicak-icak, justru sudah mendapatkan label dalam masyarakat yang kian cerdas akibat perkembangan tekhnologi, dan perubahan perilaku yang diperlihatkan pengicak-icak itu sendiri.

Perubahan perilakukan inilah yang terkadang membuka aib sendiri, tentang apa dan siapa, sehingga opini yang sebelumnya sudah terbangun positif, perlahan luntur karena sejak awal memang, para pengicak-icak sesungguhnya, tidak menaruh perhatian, bahkan sama-sama tidak respek.

Yang “memilukan”  bahkan memprihatinkan justru, aksi “icak-icak” justru tidak memandang bulu, tak lagi hanya sekedar untuk tujuan membangun opini baik semata, tapi para pengicak-icak justru sudah membangun hati dan nurani para pelaku lapangan yang biasanya polos dan lolayis yang tak pandang bulu memberi perhatian jika simpatinya sudah terbangun.

Tapi, terkadang itulah, jika belajar memperlajari hidup yang sesungguh, polah para pengicak-icak justru adalah bagian dari permainan hidup yang sesungguhnya. Karena para pengicak-icak takkan peduli akan komentar, opini, rasa sedih, termasuk makian yang muncul dengan sendirinya dari banyak orang, jika apa yang “diicak-icakannya” terbongkar dihadapan para orang yang diicak-icakannya.

Dan itulah, yang terkuak satu demi satu, janji, pernyataan, komitmen dan segala bentuk peduli (icak-icak) yang digembar-gemborkan saat kepentingan dan kebutuhan akan dukungan orang yang “diicak-icakan” tinggi. Setelah nya, pupus. Itupun wajar, karena jika diperdebatkan, perhatian, kepedulian, janji dan komitmen yang disebut sebelumnya hanya “icak-icak” . Tinggal icak-icak sajalah. Entahlah.- (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top