Catatan 12

“ Lisan Yang Tertata “

Catatan : Harmen

Menjaga lisan (kata-kata), menjadi persoalan serius yang dalam kekiniannya sangat sulit untuk bisa disesuaikan alur yang ada. Lisan. Kini, seakan tak punya makna yang bisa diperhalus sebagai media pengantar komunikasi yang memberi gambaran hakiki tentang sesuatu.

Kini, seakan menjadi sebuah barang langka. Jabaran lisan dalam praktek keseharian seakan tak lagi ada strata berpola rang Minang dalam berkata-kata. Tak hanya dalam konteks keseharian, komunikasi dua arah secara langsung, tapi juga dalam beragam pertemuan terbuka, lisan yang terpola dan berkaidah, seakan menjadi barang langka.

Apalagi kini. Istilah “zaman now” yang banyak diberi warna oleh media sosial yang seakan bebas bersilat kata. Bahkan, kini sudah didominasi kalimat-kalimat sarkas, kata dan kalimat penuh benci, apalagi jika mengungkap sesuatu yang menurut etikanya tak layak untuk diperdebatkan.

Dibagian tertentu, media sosial seakan menjadi ajang pelampiasan amarah, ajang mengumbar benci tak terarah bahkan menjadi ajang untuk membangun fitnah yang notabone-nya semata-mata mengarah pada hal-hal pribadi yang terkadang tabu untuk bisa diketengahkan ke ranah public.

Alangkah luar biasa dampak dunia global, hadirnya fasilitas internet, munculnya media sosial yang juga mempengaruhi sikap dan perilaku kita, termasuk di ranah Minang yang selama ini dikenal menjunjung tinggi etika berbahasa, santun dalam bersikap bahkan sangat menghargai kata-kata berupa lisan yang terucap.

Semua kini, di sebagian atau bahkan dibanyak status media sosial justru yang bisa dinikmati hanya umbaran emosi yang terkadang entah kepada siapa ditujukan. Bahkan sudah sangat banyak yang berasumsi, media sosial sudah menjadi keluarga dekat untuk berkeluh kesah. Parahnya, melupakan silaturrahmi karena bisa saja, disaat duduk bersama, lisan bisa berbagi keluh kesah. Namun terkadang, sengaja menjadi moment pemancing untuk saling menyudutkan.

Ini dampak negative. Tapi terkadang, dampak negative ini dinikmati sebagai bagian dari penyampai pesan-pesan yang terkadang enggan untuk disampaikan, atau bahkan takut untuk disampaikan secara terbuka karena alasan tertentu. Bahkan media sosial menjadi salah satu senjata jarak jauh untuk menjatuhkan vonis.

Alangkah menariknya dampak era global jika disikapi dengan bijak. Namun kini, sangat langka punya untuk bersikap bijak, karena pintu-pintu untuk “berbijak ria” itu justru seakan tertutupi oleh semangat bermedia sosial, karena seakan media sosial adalah segalanya.

Entah dengan apa sebetulnya untuk menata lisan yang bijak jika berselancar di media sosial itu. Walau sebetulnya pemerintah sudah membangun rambu-rambu yang tegas, bahkan sudah banyak pemain media sosial yang tergelincir karena menabrak aturan yang ditetapkan pemerintah (hukum). Tapi itu seakan tak menjadi efek jera. Malah, justru semakin menggurita kalimat sarkas yang mewarnai laman-laman beragam media sosial. Itulah kekinian zaman now.

Tapi sesungguhnya, apapun bentuk zaman, apapun bentuk dinamika yang terjadi, sepenuhnya harus tetap berpulang pada diri. Komitmen membentengi diri dengan tata lisan yang bermakna, menjaga perilaku agar selalu terpelihara di jalur lurus yang tetap menjunjung tinggi norma, akibat dan tatanan yang adanya. Walau sulit, tai itu fakta lain yang harus dijalani.- Semoga.- (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top