Catatan 12

“Super Market Bencana Yang Minim Sarana “

Catatan : Harmen

Entah sekedar menjual opini, atau memang begitu faktanya. Wilayah kabupaten Agam sejak pasca gempa 2009 disusul serangkaian bencana lain yang begitu hingar-bingar membuat semua lini ekstra sibuk menyebut wilayah kabupaten Agam sebagai daerah yang beradalam dalam garis “ancaman bencana” paling besar dan lengkap (supermarket bencana).

Begitu seram dan menakutkan sebetulnya, jika istilah ini kedepankan dalam keseharian masyarakat. Tapi faktanya seperti itu. Kabupaten Agam punya laut di Tanjung Mutiara ditengarai rentan ancaman gelombang pasang bahkan tsunami jika gempa besar terjadi, wilayah Agam yang berada dalam garis lintas (urat ) sesar gempa, sangat rentan dan menakutkan memicu ancaman longsor, banjir besar, karena di Tanjung Raya ada danau Maninjau yang dikelilingi bukit, rentan longsor bahkan sudah banyak menelan korban jiwa.

Kabupaten Agam berada di sebagian kawasan gunung Marapi, yang jika “mengamuk” akan mengancam kehidupan masyarakat. Termasuk patahan yang membelintang dari wilayah Padang Pariaman-Lubukbasung-Sianok, menjadi potensi menakutkan.

Belum lagi, mayoritas wilayah Agam yang dikelilingi pebukitan dan banyak sungai, justru rutin terjadi musibah longsor dan banjir, apalagi jika perubahan cuaca mendadak, sehingga semua bukit dan tebing rapuh karena “pertahanan” hutan sudah ambruk karena penebangan hutan serampangan.

Duka-duka itu masih terus berlanjut saat musim kemarau, seperti hari-hari ini melanda wilayah kabupaten Agam. Musibah kebakaran, menjadi langganan rutin daerah ini. Bahkan rata-rata ada kebakaran tiap hari terjadi di 16 kecamatan kabupaten Agam. Bahkan, tadi malam, lahan warga di Tiku Utara terbakar dan masih sulit dipadamkan.

Supermarket bencana, istilah yang jadi “ikon” Agama bagi para praktisi kebencanaan justru imbas dari luar biasanya potensi yang dimiliki daerah ini. Agam ada laut, danau, gunung, lembah, sungai dan beragam potensi lain yang notabone-nya jika tidak terurus dengan baik justru akan memicu dampak lain bagi wilayah ini.

Tak hanya itu, banyak aspek sebetulnya yang patut jadi bahan renungan. Disebut sebagai daerah dengan sentral potensi kebencanaan yang tinggi, justru tidak terlihat focus perhatian daerah ini secara factual di lapangan.

Untuk personil penanganan pasca bencana saja contohnya, jumlahnya saja tidak begitu banyak, baik di pemadam kebakaran, maupun di BPBD. Untuk membangun kekuatan bersama, para kepala OPD harus berpanda-pandai di lapangan, membentuk beragam organisasi sosial akan bisa terbantu jika ada musibah.

Itu personil yang minim. Dana operasional pun relative rendah, bahkan terkadang harus “bercakak pula” dengan oknum atasan yang kerap galirmemanfaatkan situasi mencari keuntungan pribadi, dengan dana dana piket tidak ada, dana makan tidak dianggarkan, atau dalih lain yang ujung-ujungnya membuat petugas di lapangan merana.

Apalagi jika dikaji soal sarana, dibanding dengan luas wilayah, sarana penanganan pasca bencana yang dimiliki kabupaten Agam pun sangat minim. Armada pemadam kebakaran, armada penanganan bencana, dan bentuk sarana lain yang (mungkin)akan terpikirkan untuk penyediaannya saat bencana sudah terjadi.

Jangankan sarana yang memadai, kantor pusat komando operasional sendiri, baik BPBD Agam maupun pemadam kebakaran tidak memiliki kantor yang representative untuk pusat kegiatan penanganan pasca bencana. BPBD Agam masih “mengontrak” gedung Dekopin Agam, pemadam kebakaran “berkelumun” bersama Satpol PP, sementara yang katanya kantor baru di kompleks stadion Bukik Bunian hingga kini masih tak jelas ujung pangkalnya.

Itulah adanya, wilayah dengan potensi ancaman bencana yang sangat kompleks masih dirundung ragam persoalan rumit, antara sarana, personil dan perhatian yang seutuhnya. Kondisi ini, entah akibat tak “kreatifnya” para pimpinan OPD yang dipercaya pimpinan daerah ini, atau memang pimpinan daerah ini yang kurang respek terhadap hal-hal vital dan mesti ada sebelum bencana datang. Tapi jika ada yang bertanya pun, daerah ini sudah punya sarana yang (cukup) lengkap. Entahlah.- ( *** )    

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top