Kaba Agam

Deteksi Kanker Serviks, PKK Agam Dorong Perempuan Test IVA

Lubuk basung,  KABA12.com — Kanker leher rahim atau serviks jadi penyebab kematian perempuan nomor dua di dunia setelah jantung koroner.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, setiap dua menit seorang perempuan meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) ini.

Di Indonesia, angka kasus kanker serviks juga cukup tinggi. Setiap hari, tak kurang 40 orang wanita di Indonesia terdiagnosa penyakit ini. Tak pelak Kementerian Kesehatan menempatkan kanker serviks sebagai penyakit ‘pembunuh’ penyebab kematian wanita di negeri ini.

Upaya deteksi dini pun dilakukan disejumlah daerah termasuk di kabupaten Agam, yang telah mencanangkan Gerakan Nasional Pemeriksanaan Dini Kanker Serviks melalui test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)  di Puskesmas Kecamatan Sungai Pua kecamatan Sungai Pua beberapa waktu lalu sebagai nagari percontohan untuk tingkat Agam.

Ketua TP-PKK Agam Ny. Vita Indra Catri mengatakan, tes IVA sesuai himbauan pemerintah pusat dalam upaya menurunkan

“Dengan gerakan ini dapat memotivasi masyarakat khususnya kaum perempuan dalam memerangi kanker leher rahim atau serviks melalui pemeriksaan Tes IVA. Pokja IV akan kita intenskan untuk menggiatkan pemeriksaan ini, terutama kepada wanita yang telah menikah ” ujarnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), metode IVA dilakukan dengan cara inspeksi visual pada serviks yang diberi asam asetat atau dikenal dengan asam cuka. Setelah dilihat posisinya, leher rahim dipulas dengan asam asetat kadar 3-5 persen, selama 1 menit.

Proses ini tidak menyakitkan. Hasilnya langsung diketahui saat itu juga, antara normal (negatif), atau positif (ada lesi pra-kanker).

Jika ada kelainan, plak putih akan muncul pada serviks. Plak putih ini yang harus diwaspadai sebagai luka pra-kanker.

Metode IVA ini sudah dikenalkan sejak 1925 oleh Hans Hinselman dari Jerman, tetapi baru diterapkan tahun 2005.

 Biaya mendeteksi kanker serviks dengan metode IVA ini juga terjangkau. Deteksi dini ini tidak harus dilakukan oleh dokter, tetapi juga bisa dilakukan oleh tenaga terlatih seperti bidan di puskesmas.

(Jaswit)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });