Catatan 12

Membangun “Sekedar “Peduli

Catatan : Harmen

Membangun peduli. Itu adagium paling rumit untuk diketengahkan dalam fakta. Yang selalu ada, justru kalimat provokasi, janji-janji, bahkan dibawah sumpah sekalipun untuk peduli.

Membangun peduli, justru mencakup beragam aspek, bahkan tak semata berwujud bertemu muka, face to face, tapi banyak kurenah dan media yang bisa diperjualbelikan untuk “sekedar peduli”. Atau, minimal say hello, menanyakan keadaan dan kabar, akan menjadi media peduli, walau sekedar peduli.

Tapi, fakta nya sangat luar biasa temuan lapangan yang membuat miris, bahkan bisa menyingkirkan sekedar peduli. Padahalnya, faktanya juga, sangat banyak yang berharap, sekedar peduli akan menjadi obat paling mujarab untuk sekedar meluapkan rasa senang, bangga bahkan berupa-rupa mimpi yang telah diwujud pada pihak-pihak yang “digadang-gadangkan” berkuasa atau sudah diberi kuasa untuk sekedar membangun peduli pada semua unsur yang berada dibawah tanggungjawabnya.

Adalah murka yang akhirnya mengemuka. Makian membabi buta yang justru jadi santapan harian disaat sekedar peduli terlupakan oleh dalih kesibukan, dalih tak kuasa merangkum semua harapan, apresiasi bahkan beban amanah yang sebetulnya tak begitu hambar jika dinikmati.

Alangkah luar biasanya, jika setidaknya membangun “sekedar” peduli bisa terpatri apik pada semua, karena mimpi dan prestasi yang diraih dengan perjuangan ekstra bahkan bertaruh nyawa bisa diraih, apalagi untuk ukuran anak dan remaja yang prestasinya ingin selalu dipuja, dihargai, diapresiasi bahkan dihargai sebagai bagian dari semua tim. Itu fakta yang tak bisa tidak.

Dan alangkah luar biasanya, para anak-anak taekwondo Agam yang sukses menyumbang 2 medali emas dan 1 medali perak untuk kabupaten Agam, dan atau cabang-cabang olahraga  lain dalam Porprov XIV Sumbar di Padang, yang terpaksa tersungut-sungut menahan hati karena kecewa, beriba-hati dan menganggap diri anak tak berbapak di perantauan.

Taekwondo Agam saja yang sudah memperlihatkan prestasi maksimal dan harus bermain di ujung negeri Padang, di audiotorium Semen Padang, harus menelan kecewa, apalagi jika cabang olahraga yang tak bisa menyumbang apa-apa untuk daerah ini. Entahlah.

Mungkin ini jadi sebuah catatan pahit karena “ membangun sekedar peduli terabaikan”. Entahlah.- ( *** )

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top