Khazanah

Pendistribusian Daging Qurban Menurut Islam

Khazanah, KABA12.com — Berqurban merupakan bagian dari syariat Islam yang sudah ditetapkan ALLAH SWT semenjak manusia ada. Ketika putra – putra Nabi Adam AS diperintahkan untuk berqurban, maka Allah SWT akan menerima qurban yang baik dan diiringi dengan ketakwaan serta menolak qurban yang buruk. Allah SWT berfirman:

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Maaidah 27).

Selain itu, kita juga sudah mengetahui khazanah Qurban yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Al-quran. Akan tetapi, terkadang banyak dari manusia keliru akan proses pendistribusian daging qurban, banyak dari mereka tidak faham akan hal tersebut. Hal ini, mengakibatkan kesenjangan akan tujuan utama dalam berqurban. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yakni : “Makanlah, berilah makan orang miskin dan hadiahkanlah.”

Sedangkan panitia yang dititipi amanah untuk menyembelih, justru dilarang untuk mendapatkan bagian dari daging itu secara langsung, kecuali lewat jalur lainnya. Larangan itu sesuai dengan yang diriwayatkan Ali ra sewaktu diperintahkan oleh Rasulullah :“Dari Ali RA berkata, Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku menyembelih unta dan menyedekahkan dagingnya dan kulitnya. Tapi tidak boleh memberikan kepada penyembelihnya.  Beliau berkata, Kami memberi upah kepada penyembelih dari uang kami sendiri ”.

Dalam riwayat Muslim disebutkan, tidak boleh dikeluarkan dari daging itu biaya untuk penyembelihannya. Maka yang paling aman dalam masalah ini adalah bila ada akad dimana salah seorang pemberi hewan qurban menghadiahkan bagiannya untuk dimakan para panitia. Hal ini, bisa disebut sebagai hadiah atau bisa juga sebagai sedekah. Tetapi bukan sebagai upah apalagi bayaran.

Bahkan kalau ada di antara panitia itu yang ikut berqurban, lalu dia memberikan sebagian dari daging hewan yang diqurbankannya itu untuk makan para panitia, tentu akan lebih utama. Namun bila inisiatif mengambil daging qurban itu hanya datang dari panitia semata, sedangkan pihak yang berqurban tidak mengetahuinya, tentu saja hal itu harus dihindari. Terutama, bila akadnya hanyalah panitia itu membantu menyembelihkan dan membagikan, sama sekali tidak ada akad memberi hadiah atau sedekah kepada panitia.

Intinya, panitia berhak atas daging hewan qurban itu selama mereka diberikan sebagai hadiah atau sedekah, bukan sebagai ‘pembayaran’ atas jasa panitia.

Semoga dengan khazanah ini, kembali mengingatkan kita umat Islam, bagaimana pendistribusian daging qurban yang diridhai oleh Allah SWT. Supaya, tidak ada kesenjangan pada hari raya Idul Adha 1437 H.

(***)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top