Kaba DPRD Bukittinggi

Perseteruan HMI dan DPRD Bukittinggi

Bukittinggi, KABA12.com — Hari pertama masuk merja pasca libur Idul Fitri 1442 H, DPRD Bukittinggi langsung menerima pertemuan silaturrahmi dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bukittinggi, di Gedung DPRD, Senin (17/05).

Namun, dalam pertemuan itu, terjadi miss komunikasi yang membuat suasana tidak kondusif, yang berujung dengan walk outnya HMI dari pertemuan itu.

Perwakilan dari HMI, mengatakan bahwa DPRD tidak mengakomodir aspirasi dari mahasiswa, sehingga mereka mengambil keputusan untuk walk out.

Sementara itu pihak DPRD Bukittinggi menjelaskan kronologis kejadian pertemuan silaturrahmi DPRD Kota Bukittinggi dengan HMI cabang Bukittingg, Senin, 17 Mei 2021 sekitar pukul 10.00 WIB.

Berawal dari permintaan Pengurus HMI Cabang Bukittinggi untuk Mohon Audiensi melalui surat Pengurus HMI Cab. Bukittinggi No. 45/B/SEK/07/1442, tanggal 09 Maret 2021 dalam rangka pengevaluasian kinerja DPRD Kota Bukittinggi 2 Tahun Berjalan.

Kemudian surat tersebut direspon dengan baik oleh DPRD, dengan menyarankan kepada pengurus HMI agar surat tersebut disampaikan untuk tujuan bersilaturrahmi. Kemudian pada tanggal 08 April 2021, pengurus HMI cabang Bukittinggi menyampaikan surat Nomor 69/B/SEak/08/1442 perihal mohon silaturrahmi.

Baca Juga:  DPRD Bukittinggi Rekomendasikan Ganti Rugi Tanah By Pass

“Sebagai lembaga perwakilan masyarakat yang tetap selalu menanggapi setiap surat yang masuk, DPRD telah merespon dengan baik, dengan telah mengagendakan Pertemuan tersebut melalui Rapat Bamus DPRD, pertemuan tersebut dilaksanakan pada Senin, 17 Mei 2021,” ujar Ketua DPRD Bukittinggi, Herman Sofyan, didampingi anggota DPRD lainnya.

Pada jadwal yang telah ditetapkan tersebut, lanjutnya, DPRD telah memfasilitasi pertemuan silaturrahmi dengan baik.

Walaupun yang menandatangani surat permohonan untuk silaturrahmi tidak hadir dan tercatat sebagai pengurus HMI cabang Bukittinggi Periode 2019-2020, DPRD tetap memfasilitasi pertemuan tersebut.

Pada awal pertemuan Ketua DPRD telah menjelaskan mengenai prosedur administrasi dan penjadwalan kegiatan DPRD yang menyebabkan pertemuan dengan HMI tersebut sedikit terlambat.

Baca Juga:  DPRD Bukittinggi Pelajari E-Government Malang dan Surabaya

Kemudian, diawal pertemuan tersebut DPRD telah memberikan waktu kepada perwakilan HMI yang hadir untuk memperkenalkan diri, dan menyampaikan maksud dan tujuan dari HMI untuk melakukan pertemuan dengan DPRD.

Permasalahan terjadi berawal dari penyampaian sambutan yang dirasa kurang pas dari Perwakilan HMI.

Pada awal sambutannya, HMI sudah menyampaikan kekecewaan kepada DPRD karena menganggap pertemuan ini sudah sangat terlambat direspon DPRD.

Agar kondisi dan situasi pertemuan tetap kondusif, maka DPRD mempertanyakan mengenai kehadiran ketua umum dan sekretaris umum yang menandatangani surat yang ditujukan ke DPRD, agar pertemuan tidak lari dari maksud dan tujuan.

Karena adanya bahasa bahasa dari HMI yang seakan-akan menjustice dengan memberikan rapor merah ke DPRD, menggembok DPRD, mengatakan DPRD mandul dan juga jalannya pertemuan sudah kurang kondusif, maka pembicaraan rapat sudah tidak terkontrol dan tidak sesuai lagi dengan maksud dan tujuan dilaksanakan pertemuan.

Baca Juga:  Walikota Hantarkan Perubahan Perda no 6 Tahun 2011 Tentang RTRW

Oleh karena itu, diawali dengan keputusan HMI untuk meninggalkan rapat, maka DPRD mengambil sikap untuk menutup pertemuan dengan HMI tersebut.

Anggota DPRD Bukittinggi, Syaiful Efendi, yang juga Ketua Bapemperda DPRD Bukittinggi, menambahkan, pihak DPRD telah beritikad baik untuk menerima kehadiran dari HMI. Namun dalam pertemuan, oknum mahasiswa dinilai kurang memberikan pernyataan dan sikap yang baik.

“Setiap kami berbicara selalu dipotong. Bagaimana kami menjelaskan titik persoalannya. Etika berbicara dengan orang yang lebih tua pun tidak ada. Ini sangat kami sesalkan. Kami terus berupaya maksimal menjalankan amanah dan tugas sebagai anggota DPRD. Tapi sepertinya beberapa dari mereka tidak mengetahui apa fungsi dan tugas DPRD, kami jelaskan, pembicaraan kami dipotong. Kami berharap, mari kita saling menghargai. Siapapun boleh sampaikan aspirasi, tapi tentu dengan etika yang baik pula, sesuai dengan prosedurnya juga ,”jelasnya.

(Ophik)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

To Top