Kaba Tausyiah

Sikap Ummat Islam Dalam Menghadapi Gelombang Dahsyat Penghancur Akhlak

Ada gelombang dahsyat yang menimpa umat Islam sedunia, yaitu gelombang budaya jahiliah yang merusak akhlak dan akidah manusia yang disebarkan lewat berbagai media. Gelombang itu pada hakikatnya lebih ganas dibanding senjata-senjata nuklir.

Masyarakat Muslim pun beraneka ragam dalam menghadapi kepungan gelombang dahsyat tersebut.

Golongan pertama, prihatin dengan bersuara lantang di masjid-masjid, di majlis-majlis ta’lim dan pengajian, di tempat-tempat pendidikan, dan di rumah masing-masing.

Mereka melarang anak- anaknya menonton televisi dan mengakses Hp yang terhubung internet. Dikarenakan hampir tidak diperoleh manfaat darinya, bahkan lebih besar madharatnya. Mereka merasakan kesulitan dalam mendidik anak-anaknya.

Kemungkinan, memondokkan ke pesantrenlah yang relatif lebih aman dibanding pendidikan umum yang lingkungannya sudah tercemar akhlak buruk.

Golongan kedua, Ummat Islam yang biasa-biasa saja dalam menyikapinya.

Diam-diam masyarakat Muslim yang awam itu justru menikmati aneka tayangan yang sebenarnya merusak akhlak dan akidah mereka dengan senang hati.

Mereka beranggapan, apa-apa yang ditayangkan itu sudah lewat sensor, sudah ada yang bertanggung jawab, berarti boleh-boleh saja. Sehingga mereka tidak merasa risih apalagi bersalah. Hingga mereka justru mempersiapkan aneka makanan kecil untuk dinikmati sambil menonton tayangan-tayangan yang merusak namun dianggap nikmat itu.’

Golongan ketiga, masyarakat yang juga mengaku Islam, tapi lebih buruk dari sikap orang awam tersebut di atas. Mereka berangan-angan, betapa nikmatnya kalau anak-anaknya menjadi pelaku-pelaku yang ditayangkan itu.

Entah itu hanya jadi penari atau berperan apa saja, yang penting bisa tampil. Syukur-syukur bisa jadi bintang top yang mendapat bayaran besar.

Mereka tidak lagi memikir tentang akhlak, apalagi akidah. Yang penting adalah hidup senang, banyak duit, dan serba mewah, dengan tujuan agar terkenal. Untuk mencapai ke ‘derajat’ itu, mereka rela mengorbankan segalanya termasuk anak yang dimilikinya.

Na’udzubillaah. Padahal kita ketahui bersama, anak adalah amanah yang nantinya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.

Inilah kenyataan yang terjadi hari ini. Masyarakat jauh lebih mengunggulkan pelawak daripada ulama’. Lebih menyanjung penyanyi dan penari daripada ustadz ataupun kiyai. Lebih menghargai bintang film daripada guru ngaji. Dan lebih meniru penari daripada imam masjid dan khatib.

Mencampur kebaikan dengan kebatilan

Kenapa masyarakat tidak dapat membedakan kebaikan dan keburukan? Karena “guru utama mereka” adalah televisi dan semisalnya.

Sedang program- programnya menampilkan aneka macam yang campur aduk. Baik kebohongan, misalnya iklan-iklan yang sebenarnya bohong, tak sesuai dengan kenyataan, namun ditayangkan terus menerus. Lalu ditayangkan film-film porno, merusak akhlak, merusak akidah, dan menganjurkan kesadisan.

Serta bermacam perkataan yang tidak mendidik.
Sehingga, para penonton lebih-lebih anak-anak tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Masyarakat pun demikian.

Hal itu berlangsung setiap waktu, sehingga dalam tempo sekian tahun, umat Muslim khususnya tidak lagi bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil.

Padahal Allah Ta’ala telah melarang pencampur adukan antara yang hak dengan yang batil:
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 42).

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita pada jalan yang lurus. Serta menurunkan hidayah-Nya kepada kita sampai ajal menjemput kita. Amin ya rabbal ‘alamin

(Sumber: an-najah.net)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top