Kaba Tausyiah

Berhijrah Dari Jalan Maksiat

Ilustrasi

Ketetapan hati untuk memindahkan langkah kaki dari jalan maksiat kepada jalan taat merupakan hal yang harus dipuji dan disyukuri. Karena hal itu pertanda sehatnya hati. Namun perlu disadari bahwa ketika telah berada di jalan taat ia tidak akan kembali lagi di jalan yang telah ditinggalkan. Justru potensi untuk ia terjerumus kembali ke jalan awal sangat besar.

Sebab setan akan berupaya kuat untuk menarik kembali dirinya ke jalan maksiat. Sebab setan tidak ridha jika melihati manusia bertaubat.

Maka bisa dikatakan, berhijrah dari jalan maksiat ke jalan taat adalah berat, namun yang lebih berat dari itu adalah istiqomah saat berjalan di atasnya. Maka perlu ilmu dan arahan tentang hal-hal yang dapat meneguhkan seseorang ketika telah berada di atas jalan hijrah, agar tak kembali lagi ke jalan semula. Di antara cara agar dapat istiqomah saat hijrah adalah sebagai berikut:

1.         Berdoa.

Sebab terbesar yang mampu menopang seorang hamba untuk teguh diatas jalan hijrah adalah do’a. Oleh karena itu, do’a yang paling sering dilantunkan Rasulullah adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi )

2.         Memperbanyak Amal Shalih.

Memperbanyak amal shalih termasuk perkara yang dapat meneguhkan langkah seorang hamba di atas jalan hijrah. Allah berfirman:

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka.” (QS. Al Baqoroh: 265)

Maka selain untuk menambah pundi-pundi pahala, amal shalih juga berfungsi untuk mengokohkan hati agar tegar di jalan hijrah.

3.         Memperbanyak Baca Al-Qur’an

Perbanyaklah berinteraksi dengan Al-Qur’an, dengan membaca, mentadabburi, dan mengamalkannya. Sebab, selain kelak akan menjadi syafaat bagi hamba, Al-Qur’an juga dapat meneguhkan hati agar teguh ketika menapaki jalan hijrah.

Allah ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl: 102)

4.         Berteman Dengan Orang Shalih.

Jika seseorang ingin kebaikan maka hendaknya ia berteman dengan orang baik. Sebagaimana jika seseorang ingin pandai dalam berdagang, maka hendaknya berteman dengan para pedagang, bukan dengan para petani atau nelayan.

Bagaimana mungkin orang yang ingin taubat dari dosa zina, namun ia masih berkumpul dan berteman dengan para pezina. Atau ingin agar istiqomah dalam mengerjakan shalat, namun ia sering berpergian dengan teman yang tidak mengerjakan shalat.

Hal terpenting dalam masalah pertemanan ini adalah keberanian diri untuk menolak setiap tawaran teman yang berupaya menarik kita kembali ke jalan yang buruk. Seperti memberi bayaran gratis, atau dengan cara lainnya.

(Sumber: kiblat.net)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top