Kaba Pemko Bukittinggi

Bundo Kandung Punya Peran Startegis Dalam Pembangunan dan Rumah Tangga

Bukittinggi, KABA12.com — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bundo Kanduang Kota Bukittinggi periode tahun 2017-2022 dikukuhkan.

Pengukuhan dilaksanakan di Hall Badan Keuangan Bukittinggi, oleh Ketua Bundo Kanduang Provinsi Sumbar Prof. DR. Puti Reno Raudha Thaib dan disaksikan Payuang Panji Bundo Kanduang Kota Bukittinggi Wakil Wali Kota, Penasehat Bundo Kanduang Kota Bukittinggi beserta SKPD terkait, Senin (07/10).

Penasehat DPD Bundo Kanduang Kota Bukittinggi, Ny. Yesi Ramlan Nurmatias mengatakan, saat ini adat Minangkabau mulai tergerus kemajuan zaman. Anak kemenakan sebagai penerus di Bukittinggi harus diarahkan kembali ke Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.

“Salah satu cara yang telah berjalan, lewat sekolah keluarga. Bundo Kanduang ikut berkontribusi menjadi narasumber dalam materi Sekolah Keluarga sejak dari tahun pertama. Membimbing anak kemenakan merupakan tanggung jawab kita bersama. Tanpa Bundo Kanduang, tentu kegiatan tidak bisa kita kerjakan. Karena memang tidak hanya adat istiadat saja yang menjadi tanggung jawab kita, tapi seluruhnya. Semua apek kehidupan anak kemenakan kita menjadi tanggung jawab kita para ibu, dan Bundo Kanduang lah narasumber kita,” ungkapnya.

Yesi berharap kedepan tetap bisa selalu bersinergi dengan Bundo Kanduang. Tanpa Bundo Kanduang kegiatan perempuan di Bukittinggi tidak bisa berjalan.

“Kami urang mudo di Bukittinggi sangat butuh ilmu tentang berkehidupan dari Bundo Kanduang. Sekaligus mengajak masyarakat kita untuk kembali mengamalkan adat basandi syarak syarak basandi kitabullah,” ujar Yesi.

Perwakilan LKAAM Kota Bukittinggi, Gusrizal Dt. Salubuak Basa, mengatakan terkait dengan seminar adat dan budaya Minangkabau, modernisasi rasanya belum mampu menggerus nilai kearifan local di Sumbar. Dengan semangat kalangan adat untuk menjaga nilai adat di alam Minangkabau. Bukittinggi kota kecil yang tumbuh dengan adatnya yang kuat, dibentuk oleh pemuka adat yang bijak dan berintelektual yang menegakkan tonggak adat dan budaya pada setiap sendi kehidupan masyarakat.

“Implementasi adat itu dengan keberadaan Bundo Kanduang yang ada di Bukittinggi. Para Bundo Kanduang masih tetap eksis dan sangat dihargai keberadaannya dan memberikan warna tersendiri baik itu di rumah tangga maupun dimasyarakat. Baik dalam prosesi adat maupun pengambilan kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan,” jelasnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, Bundo Kanduang siap dengan konsep kekinian. Bundo Kanduang harus modern dan memiliki wawasan yang luas menghadapi zaman kekinian dengan bekal adat dan budaya minangkabau. Yang penting kita tidak tergerus oleh zaman.

“Zaman boleh berubah tapi nilai budaya MInangkabau tetap harus kita pertahankan. Terkait pelaksanaan adat dan budaya di Minangkabau, KAN dan LKAAM juga memiliki tugas. Bekerja sama dengan Bundo Kanduang bahu membahu melestarikan adat,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Bukittinggi Irwandi, mengatakan Bundo Kanduang memiliki peran yang strategis di dalam rumah tangga. Ditangan Bundo Kanduang lah kunci keluarga, bagaimana membekali anak-anak. Salah satu Narasumber Sekolah Keluarga juga dari Bundo Kanduang.

“Bundo Kanduang menjadi jaminan penguatan kedudukan ibu di nagari. Alhamdulillah posisi Bundo Kanduang tetap kokoh menjaga adat di Bukittinggi. Mulai dari melahirkan, mengasuh anak dan mendidik anak dibutuhkan peran Bundo Kanduang. Banyak sekali peran Bundo Kanduang ditengah keluarga dan masyarakat. Selama kita berlandaskan adat dan budaya kita, peran kaum ibu sebagai tulang punggung keluarga, pelaksana pendidikan, wanita karis dan profesi lainnya, akan tetap menjada adat dan budaya Minangkabau,” ungkap Irwandi.

Irwandi memberikan penghargaan yang tinggi kepada seluruh kaum perempuan Minangkabau di Provinsi Sumbar umumnya dan perempuan Minangkabau Bukittinggi khususnya karena telah berbuat yang terbaik bagi lingkungan masing-masing. “Efeknya tentu telah memberikan kontribusi kepada Kota Bukittinggi. terutama sebagai kota wisata, setiap kita tentu harus memiliki perilaku yang tertera didalam sumbang 12 yang akhirnya merujuk kepada Kota yang nyaman untuk dihuni dan disinggahi,” ujar Wawako.

Sementara itu, Ketua DPD Bundo Kanduang Provinsi Sumbar Prof. DR. Puti Reno Raudha Thaib mengatakan, persoalan yang paling mendesak bagi seluruh Perempuan Minang dewasa ini adalah menyiapkan diri sendiri untuk kembali berperan dan berfungsi secara benar, mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar dapat memahami dan mengamalkan ABS-SBK dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak terpeleset dari jalur adat dan budaya Minangkabau serta dari ajaran agama Islam serta membenahi pola asuh kelangsungan hidup individu orang Minangkabau.
(Ophik)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top