Agam

KLHK Berdayakan Warga Melalui Hutan Kemasyarakatan

Lubukbasung, KABA12.com — Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (UPTD KPHL) Agam Raya Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat menyebutkan sudah terdapat 14 perhutanan sosial yang sudah memiliki izin/legal, dengan skema 3 Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan 11 Hutan Nagari/Desa.

Ke 14 lokasi perhutanan sosial itu yaitunya, 200 Ha di Silayang dan 127 Ha di Kampung Melayu Kecamatan Lubukbasung, 300 Ha di Nagari Sitalang Kecamatan Ampeknagari, 300 Ha di Nagari Baringin Kecamatan Palembayan, 250 Ha di Nagari Kotokaciak Kecamatan Tanjungraya, 228 Ha di Matua Mudiak Kecamatan Matua.

Kemudian 300 Ha di Kototangan Kecamatan Tilatangkamang, 300 Ha di Kamanghilia dan 300 Ha di Kamang Mudiak Kecamatan Kamangmagek. 300 Ha di Simarasok dan 250 Ha di Padangtarok Kecamatan Baso, 600 Ha di Kotorantang, 768 Ha di Pagadih dan 1.000 Ha lebih di Nagari Pasialaweh Kecamatan Palupuah.

“14 bidang perhutanan sosial itu secara keseluruhan kurang lebih sekitar 11.870 hektare, yang terdiri dari 785 hektare hutan kemasyarakatan dan 11.085 hektare hutan nagari ,” sebutnya.

Menurutnya, program perhutanan sosial ini untuk memanfaatkan atau mengelola kawasan hutan dengan prinsip masyarakat dapat memanfaatkan kawasan hutan lindung, namun kondisi hutan tetap terjaga.

“Prinsip dari perhutanan sosial itu adalah bagaimana masyarakat mengelola kawasan hutannya, hutan terjaga masyarakat dapat manfaat terutama dalam meningkatkan kesejahteraan perekonomian,” jelas Afniwirman.

Selain itu, sebutnya perhutanan sosial yang wilayahnya datar boleh dimanfaatkan untuk menanam tanaman semusim seperti, serai wangi, jahe, cabai dan lainnya. Sementara bagi lahan yang miring, tidak boleh diolah, namun masyarakat diminta untuk menanam pohon jenis kayu-kayuan.

“Ini untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor melanda daerah itu,” katanya.

Afniwirman menambahkan, disamping manfaat pemberdayaan tersebut, hutan kemasyarakatan dan hutan nagari dapat menjadi solusi untuk mengatasi konflik tanah ulayat, karena perhutanan sosial sudah pasti menjadi sumber kehidupan.

“Hutan itu sudah bisa dipastikan jadi sumber kehidupan. Walapun berada di pantai sekalipun tapi hutan berpengaruh, seperti contoh di daerah Tiku V Jorong, dampak dari hutan yang telah rusak, mengakibatkan banjir, longsor, terjadi kekeringan sawah tidak panen, karena tidak ada hutan yang akan meresapi dan penahan air, itu akibat dari penebangan pohon-pohon secara liar. Olehsebab itu, kami mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu menjaga hutan,” himbaunya.
(Jaswit)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top