Catatan 12

Polemik Cadar di Ranah Minang

Oleh : Fifi Afrianti

(Aktifis Perempuan dan Guru SMKN 1 Ampek Nagari)

Ranah minang yang selama ini terkenal dengan simbol  “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” kini juga dimeriahkan oleh isu anti cadar dibeberapa kampus Islam di ranah Minang diantaranya IAIN Bukitinggi dan IAIN Imam Bonjol Padang.

Hayati Safri adalah seorang dosen yang akrab dipanggil umi di lingkungan kampus IAIN Bukitinggi. Ia lebih memilih untuk libur mengajar demi mempertahankan keyakinannya untuk mengenakan cadar. Tindakan Ibu Hayati dalam mempertahankan keyakinannya didukung penuh oleh para alumni IAIN Bukittingi diantaranya Irma dan Defra.

Irma meyakini dengan memakai cadar tidak akan mengganggu proses perkuliahan dan tak akan mengurangi pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh Hayati. Disisi lain Defra sangat menyayangkan langkah almamaternya yang terlalu berlebihan dalam menanggapi keputusan Hayati untuk bercadar. Menurutnya dengan adanya polemik yang muncul sekarang akan mengundang banyak pertanyaan di beberapa kalangan, mengapa kampus yang berlabelkan Islam justru tidak mendukung seorang muslimah dalam menjalankan keyakinanya untuk taat.

“Apalagi kampus kita, berlatarkan islam. Lain lagi kalau kampus kita adalah kampus umum”. katanya,Kamis  (14/3) REPUBLIKA.CO.ID

Rabu pada tanggal 14 Maret 2018 seluruh organisasi di lingkungan kampus IAIN Bukittinggi mencoba menyampaikan aspirasi pada pihak kampus yang pada saat itu diterima oleh Wakil Rektor III bBagian Kemahasiswaan.

 Pada waktu itu Wakil Rektor III menegaskan bahwa tidak ada larangan menggunakan cadar, namun kampus juga memiliki kode etik dalam berpakaian. Seolah-oleh kode etik itu harus dipenuhi terlebih dahulu oleh  Hayati baru setelahnya menjalankan keyakinannya bercadar dalam rangka taat kepada Allah.

Dalam membahas perempuan dan masalahnya kaum feminis berpijak pada teori “hanya perempuanlah yang lebih paham tentang perempuan”.

Hal tersebut selalu didengungkan oleh kaum feminis untuk memutuskan segala aspek mengenai dirinya sendiri mulai dari karir cara berpakaian sampai masalah suka sesama jenis. Tak satupun diluar dirinya berhak mengatur hal tersebut termasuk pemerintahan apalagi Islam.

Sampai saat ini pun belum ada larangan atau sanksi pemerintah bagi perempuan yang mengaku beragama Islam namun membuka auratnya di tempat umum, gak ada larangan untuk itu. Hal ini membuktikan bahwa adanya kebebasan di negeri ini untuk seluruh perempuan dalam berpakain.

Namun ketika perempuan Islam ingin menjalankam keyakinanya dengan mengunakam cadar malah dilarang, seolah wanita bercadar lebih menakutkan dari pada godaan wanita setengah telanjang. Sangat disayangkan sekali ketika cadar lebih dipermasalahkan dari pada pengunaan celana jeans yang ketat bahkan tanpa penutup kepala.

Seharusnya agama Islam dan adat Minang  memuliakan perempuan, namun sekarang fakta dilapangan seolah dimanipulasi.

Sebagian pendukung kaum femisnis adalah Islam dan sebagian yang menentang cadarpun adalah orang yang mengaku Islam. perlu dipertanyakan kenapa hal ini terjadi? Inilah dampak terparah dari paham sekulerisasi memisahkan agama dari kehidupan. Pemahamam agama hanya diambil dari sisi ibadah ruhiyah semata. Padahal dalam agama Islam semuanya diatur tidak hanya masalah ibadah saja namun juga semua aspek kehidupan baik dari segi ekonomi, sosial atau pendidikan. Semuanya diatur jelas dalam Islam. namun saat ini pemahaman umat Islam terhadap agamanya sendiri sangat lemah,  hal ini terlihat dari susahnya penerapan Islam di setiap aspek. Kalangan yang seharusnya paham dengan agama justru memposisikan diri berhadapan menentang nilai-nilai agama mereka sendiri.

Seperti yang terjadi di kampus IAIN Bukitinggi sebagai kampus yang berlabelkan islam yang sebagian pengajarnya ahli fiqh, malah sangat menakuti perempuan bercadar  berada di lingkungan kampus dengan alasan takut dianggap sebagai kampus penganut paham radikal oleh pemerintahan. Masalah khilafiyah yang seharusnya merupakan kekayaan dari khasanah Islam malah dipertentangkan.

Jika demikian tentu akan menimbulkan wacana di tengah masyarakat, jika kampus berlabel Islam seperti IAIN Bukitinggi saja merasa takut, apalagi kampus umum. Sungguh Negeri ini rindu islam yang berani meneriakan kebenaran.

Menyelamatkan islam di Ranah Minang berarti meyelamatkan slogan masyarakat Minangkabau ” yaitu “Adat basandi syara’. Syara’ basandi kitabullah”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top