Cerpen

Double M

Oleh : SHO

***

Deg!

Irama yang begitu kurindukan itu terasa jelas di balik kulitku. Dadaku berdesir, jantungku berdegub dua kali lebih cepat. Aku menatapnya sangsi antara ingin cepat-cepat menjauh darinya atau ingin tetap melihatnya seperti ini. Wajahnya penuh dengan pembuluh darah yang mengalirkan darah segar di mataku, matanya yang berwarna seperti madu itu begitu menggodaku untuk meraihnya. Namun atas kegigihan sisi baikku aku melepaskan tangannya dari lenganku, membungkuk mengucapkan selamat malam dan segera keluar dari kamarnya.

Setidaknya aku mendengar dia mengatakan kata-kata sejenis ‘tidak akan membiarkan’ sebelum aku benar-benar menutup rapat pintu coklat pudar itu.

Aku menghela nafas kasar, detak jantungku belum kembali normal dan tempo nafasku masih terlalu cepat. Hal itu terus berlanjut hingga tanpa sadar aku sudah berjalan mendekati area permukiman warga. Perutku bergolak, setelah keluar dari kamarnya tadi susah payah kumuntahkan salad yang kumakan agar anak itu berhenti menyuruhnya.

Mulutku terus melontarkan kata-kata umpatan, merutuki sosok yang berdiri di atas ini, merutuki jati diri sosok yang bahkan tidak bisa menelan makanan yang ditelan seorang Mei, merutuki sosok yang dengan mudahnya menjatuhkan diri ke sisi rakusku seperti saat ini.

“Selamat siang,” seorang gadis yang terlihat seperti anak sekolahan menyapaku. Aku berhenti dan menoleh, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan detak jantungku yang tak karuan begitu mandapati buah jatuh tepat ditanganku. “Permisi, maaf mengganggu. Saya ingin meminta tolong, jalanan di kota ini begitu rumit sehingga saya sedikit kesusahan menuju toko buku yang sedang mengadakan event, maukah anda membantu saya menemukan jalannya?”

“Tentu saja, ikuti aku.” Tentu saja aku tidak tahu toko buku yang dimaksud, aku hanya menarik pergelangan tangan gadis itu asal berkeliling blok-blok yang berlawanan arah dari seharusnya. Gadis itu entah mengapa terus berceloteh tentang event yang ternyata acara penandatangan buku oleh seorang novelist yang ternyata adalah dirinya sendiri.

Aku berhenti, gadis yang keasyikan berbicara itu menabrak punggungku dan ber-aduh kecil. “Apa? Kita sudah sampai?”

“Sebenarnya aku berharap tidak ada seorangpun yang akan menyapa, tapi karna berhubung keberuntunganmu sangat buruk hari ini aku mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.”

Gadis itu jelas bertanya balik dengan bingung. “Apa maksudmu?”

Aku berbalik, gadis itu tersentak dan mundur beberapa langkah ketika akhirnya ia tahu sesuatu yang kusembunyikan dibalik penutup mata putihku.

“Aku turus berduka cita atas dirimu. Maafkan aku.”

***

Kriett..

“Mei, kau didalam?”

Marghareta Mei duduk diatas karpet, mulutnya terus saja mengeluarkan kata-kata seperti sedang mengobrol dengan lawan bicaranya. Teman-temannya yang itu kah?

“Aku tahu itu kau, aroma tubuhmu begitu pekat.”

Aku terdiam, kubenarkan posisi penutup mata putihku dan kemeja kusamku. “Kau masih menciumnya? Padahal aku baru saja mandi.”

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku bisa mendeteksi bau pada dirimu meskipun kau mandi kembang tujuh rupa tujuh malam sekalipun.”

“Aku khawatir, untuk itu aku langsung keatas,” aku masuk dan menutup pintu. “Tapi sepertinya kau baik-baik saja, bahkan terlihat bahagia mengobrol dengan si kembar.”

Mei terdiam dengan posisi yang masih membelakangiku. “Untuk apa kau kemari? Mereka berdua menemaniku sejak enam jam yang lalu. Ada urusan apa? Menanyakan menu makan malam?”

Aku mengernyit, dia benar-benar lucu diluar dugaan. “Sepertinya kau tidak sedang ingin diganggu. Baiklah aku akan pergi.”

“Kau keterlaluan.”

Aku mengernyit kembali. “Hm? Kau sakit, Mei?”

“Tidak, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Degub jantung dan aroma darah manis milik Mei tiba-tiba saja menyeruak memenuhi indra penciumanku dengan sebuah visualisasi jantung berlemak tipis yang berdetak sesuai ritme nafasnya. Begitu menggiurkan. Akh, aku merinding.

Sepertinya aku harus pergi dari sini.

Mei terlihat tak memiliki niat untuk melanjutkan pembicaraan. Tanpa menunggu hal buruk yang akan terjadi, aku langsung melangkah keluar tanpa menunggu angkat bicara.

Aku terus mengumpati diriku sendiri sambil sesekali memukul kepala agar tak mengingat irama detak jantung itu lagi. Well..

***

Kuregangkan kedua tanganku ke atas setelah selesai menulis di beberapa lembar kertas kemudian melipatnya. Kyle dan Kyne tidak ada di kamar,mungkin mereka keluar entah kemana. Ya entah kemana karena dari tadi aku tidak merasakan hawa ‘kehidupan’ mereka, untuk itu kuputuskan mencarinya di mana saja.

Kertas yang ragu kuberikan untuk bocah itu kugenggam erat setelah sadar tidak ada mainan yang bisa kumainkan. Gema langkahku terasa pekat di tengah kesunyian yang tiba-tiba ini. Anehnya aku menemukan Ken sedang berjongkok membelakangi posisiku. Kakiku maju dengan ragu, takut mengganggu kegiatannya. Tapi, apa yang sedang ia lakukan? Tangannya bergerak menuju mulut dan mulutnya sedang mengunyah(?)

Tiga detik berikutnya Ken bangkit sambil menepuk-nepuk bajunya. Sekali lagi kuperhatikan dia dengan mata terpicing untuk melihat objek dihadapannya. Nihil, hanya udara hampa. Ken berbalik, tubuhku menegang dengan nafas tercekat.

“Ke, Ken. Kau…kau tidak apa-apa?”

Dia disana, dengan warna kulitnya yang seputih kertas, bibirnya yang semerah darah, mulutnya yang penuh dengan gigi-gigi tajam menyeringai kecil yang mungkin bisa disebut dengan sebuah senyuman, matanya yang dulu kuakui cukup menarik tergantikan dengan bagian putih matanya yang menghitam dengan pupil merah. Setegah wajahnya tertutup oleh topeng aneh dan rambut berantakannya sudah cukup unutk membulatkan tekadku untuk mencukurnya. Jari-jarinya yang tumpul dan setengah badannya kini dihiasi dengan benda tajam yang terlihat berbahan sama dengan topengnya. Kakinya berjalan dengan terseok-seok seolah itu terluka, seringaian di mulutnya melebar menyeruak dari mulut yang kanan kirinya robek. Tunggu, apa aku sedang berhalusinasi?!

Tubuhku mulai merespon dan bernafas lagi setelah sepersekian detik pasokan oksigenku berhenti. Tubuhku menegang ketika dia semakin mendekat. Geraman kecil terdengar setelah desisan tak suka keluar dari mulutnya. Aku mundur teratur beberapa langkah sebelum akhirnya kuputuskan untuk berlari, tangan kiriku terasa hampa, adakah sesuatu yang terjatuh? Tapi aku menghiraukannya dan terus berlari menuju kamarku, mengunci dan menutup akses apapun agar Ken yang ini tidak dapat masuk.

Bola mataku berputar liar menabrak sudut-sudut kamar. Angin dingin berdesir di sekelilingku padahal jendela besar itu tertutup rapat. Otakku merespons suatu informasi yang dipaksa dijejalkan ke dalam otakku tanpa dilumat terlebih dahulu. Jangan bilang si kembar…

Bersambung!!! Kamis, 28 Juli 2017

Cerita Sebelumnya : Double M

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top