Cerpen

Guarantor

Oleh : SHO

Tiit..tiit..tiit

Aku menegerjap-ngerjapkan mata, ada bunyi ‘tiit’ di telinga sebelah kananku dan sepertinya ada yang memasang infus di tangan kananku.

Aku mengerjapkan mata lagi. Tidak ada orang?

“Khm,” Ryuzaki?. “Hey, Hikaru.”

Aku mencoba duduk. Ryuzaki berdiri disamping ranjang dengan senyum lebar dan mata segarisnya.

“Wow.. Kau muncul.”

Ryuzaki tetap tersenyum. “Untuk seseorang yang baru ditanam setelah pingsan 3 hari kau cukup fit, ya?”

“Sebelum kau bertanya, aku bertanya kenapa kau tahu aku dirawat? Tunggu, Rai?!”

“Ada yang harus aku sampaikan, tapi kau harus baca ini terlebih dahulu.” Ryuzaki memberikan sebuah map sambil terus tersenyum.

“Harus dibaca?”

“Ya, harus.”

Aku mendelikkan bahu. Membuka map, mengeluarkan kertas dan membacanya. Nama.. Ki Mirai. Akibat.. Kecelakaan antara mobil dengan mobil. Status.. Koma.

“Ja..jadi,” kutatap matamya lekat-lekat berharap ini bohongan , tapi dia  menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Ti..Tidak mungkin.”

“Kamarnya ada di sebelah kamarmu. Kau boleh marah padaku.”

Marah padanya? “Apa maksudmu?”

“Sepertinya waktu itu ia sedang tidak ingin diganggu, tapi aku terus berceloteh ini itu. Dan dia…” Ryuzaki mengurut matanya dan menghela nafas, “kecelakaan itu karnaku,”

Aku tersentak. Apa..Dia pasti bohong!

“Silahkan marah.”

Dia ingin aku marah? “Hah.. Lupakan saja. Bukan sepenuhnya salahmu, kan? Santai saja, hehe..” Aku mencoba tertawa, tapi Ryuzaki malah menatapku datar. “Apa lagi?”

“Ikut aku ke kamarnya.”

Kutatap datar papan nama didepan pintu. Astaga, aku tak mau mempercayai hal ini!

“Ayo!”

Pintu terbuka pelan dan tampaklah sebuah ranjang disudut dekat jendela. Aku takkan mempercayai ini, tapi itu jelas Sano dengan perban putih yang melilit kepala dan setengah matanya, itu Sano dengan berbagai macam selang yang tertusuk di badannya, itu Sano dengan masker oksigennya, itu Sano yang terbaring kaku!

Aku berjalan mendekat, Ryuzaki mengikutiku dalam diam. Semakin dekat dengan ranjangnya semakin dekat pula aku sadar dirinya yang semakin menjauh dariku disertai derik nafasnya. Aku meringis, pandanganku mulai berkabut.

“Sudah 3 hari dia begini?” Alat pendeteksi detak jantungnya menunjukkan grafik gunung yang rendah, Ryuzaki mengangguk pelan. “Dan tidak ada yang membesuknya?”

“Kau yang paling tahu tentang orangtuanya, Hikaru.” Aku mematung sejenak. Aku lupa yang membawanya padaku adalah bocah ini, sepertinya dia juga tahu seluruh cerita dibalik semuanya.

“Aku mengerti. Sejak kapan kau mengetahuinya? Kau jelas-jelas bukan pembesuk biasa saat kau pertama kali menemuiku.”

“Aku melakukan semuanya demi Sano.”

Keningku berkerut. “Jadi benar namanya Suzuki Sano?”

“Ya, namanya memang Suzuki Sano. Tenang saja, Sano akan membaik.”

Aku mengepalkan tinjuku menahan amarah. “Apa ini kelihatan baik-baik saja?! Aku yakin kau juga berpikir dia tidak akan baik-baik saja!”

Dengan santai ia menghela nafasnya dan itu membuatku semakin kesal. “Ada lagi yang ingin kau sampaikan? Sebelum aku masuk ke bagian inti?”

Aku sama sekali tak berminat menjawabnya lagi, jadi ia menghela nafasnya lagi dan melanjutkan kalimatnya. “Aku bukan manusia.”

Dingin merayapi tengkukku. Ha? Bukan manusia? Dia pasti salah minum obat.

“Hahaha.. Kau pasti bercanda,” kupandangi ujung kaki hingga ujung kepalanya. “Bukan manusia? Lalu kau hantu? Dan kau mau bilang aku dan dia indigo?”

“Aku juga bukan hantu, Hikaru-san. Bukan juga manusia.”

“Hahaha… Lalu kau mau bilang kau makhluk diantara keduanya? Aduh, aku yakin kau berhalusinasi. Kau bukan pengguna, kan?” Hahaha, dia membual aku juga akan membalasnya dengan bualanku.

“Yang seperti aku ini, akan selalu tercipta ketika seorang manusia terperosok ke jurang terdalam jiwanya. Ya, semacam penangguh dan penjamin seseorang yang terperosok itu, dan mengingatkan kembali dirinya pernah merasa bahagia. Itulah aku.”

“Hahaha..Kau berkata seolah kau bukan manusia,” aku menyentuh lengannya dan mencubitnya, dia sama sekali tak menghindar. “Kau sepadat diriku.”

Dia diam saja, lalu ia melanjutkan ceritanya ketika aku tak bersuara lagi. “Tempat kecelakaan 10 tahun yang lalu ada di Osaka ketika mereka sekeluarga berlibur. Maka dari itu kau tidak pernah menemukan Sano di Tokyo karna ia tak pernah kembali hingga akhirnya kau pindah kemari beberapa tahun belakangan.”

Aku terdiam. “Jadi seperti itu kejadiannya.”

“Aku muncul pertama kali didepan kamarnya, dan langsung mengerti apa yang harus kulakukan, sejak saat itulah aku merawat dan menjaganya dirumah yang kubeli dari warisan orangtuanya. Aku sadar dia kehilangan seluruh ingatannya ketika ia hanya menatap datar foto keluarganya dan bertanya ‘keluarga siapa itu’ padaku. Ya, tentu saja aku sedih, dia merasa hanya sendiri didunia ini, menganggapku sebagai kakaknya sebelum akhirnya dia sadar aku hanya penolong bukan keluarganya.

Tapi, kau tahu? Selama 10 tahun ini ia hanya menyebut nama Mitsumi Hikaru dalam tidurnya, aku pikir dia hanya memanggil nama temannya di sekolah, tapi tidak ada yang bernama itu disana. Jadi kupikir orang itu pasti orang yang telah lama bersama dengannya dan sangat berharga baginya. Aku mencari nama itu di database lokal dan mendapatkannya, dengan alasan itulah aku menemuimu.”

Aku meliriknya setelah ia berbicara panjang lebar, ada sebutir air mata yang ia biarkan jatuh dari matanya.

“Apa..Kau menyukainya?” Tanyaku hati-hati, aku tahu pasti dia kesal Rai atau Sano hanya menganggapnya sebagai sosok kakak yang menolongnya. Ya, kalau dipikir-pikir Sano memang seperti itu.

Ryuzaki mengerjap-ngerjap dan mencoba mengelak dengan bodohnya. “Ti, tidak juga. Tapi,” dan bisa kupastikan ada semburat merah dipipinya.

“Hahaha.. Ya aku mengerti, tenang saja. Tapi, kau benar-benar bukan manusia, ya?”

Sikapnya kembali normal. “Aku akan segera menunjukkannya padamu. Tapi, berjanjilah padaku untuk tidak pernah membicarakan tentang seseorang bernama Ryuzaki  atau Chan dihadapannya,”

Ryuzaki menghilang dari tempatnya. Tapi, didetik berikutnya sosoknya digantikan dengan tubuh transparan dengan muka tak bermata, hanya ada lubang hitam tak berdasar dan wajah seputih kertas. “Karna ia hanya ingat tentang monster ini. Kau percaya padaku?”

Aku ingin kabur ketakutan jika seandainya aku tidak mengingat Sano harus melihat pemandangan ini setiap saat. “Jadi, kau asli. Dan.. Sano melihat ini setiap hari?”

“Begitulah aku dibuat. Bisa berwujud manusia dengan sosok asli berwujud monster,” Aku bisa mendengar nada menyedihkan dari suaranya. “Tolong jaga dia dariku. Akulah mimpi buruknya.”

“Hei, Ryu..” Aku terlambat. Dia benar-benar lenyap dengan tubuh ‘tiada’nya itu. Tapi Aku bisa merasakan ia berbisik selamat tinggal di telinga Sano.

Jadi, tinggal aku sendiri disini.

Kugenggam erat tangannya yang dingin selama 5 menit sebelum akhirnya kuputuskan untuk kembali kekamarku. Seluruh kejadian ini benar-benar membuatku lelah.

“Hey, Sano. Sampai jumpa saat kau bangun, ya? Daah..”

Tapi, tanganku dicegat! Aku mematung saat mendengar bunyi mesin itu semakin kencang yang menandakan aktifitas jantungnya meningkat. Aku panik bukan main dan berniat menekan tombol darurat sebelum akhirnya sebuah tangan lainnya meremas tanganku.

Dengan ragu kubalikkan badanku melihat Sano yang sudah duduk dan menatapku ketakutan. “Ken..”

Greb..

“Hi..hikaru,” suaranya bergetar, aku membalas pelukannya yang tiba-tiba dan mengelus kepalanya agar ia tenang. “Hikaru, tolong aku. Tolong aku.”

Suaranya seperti lolongan serigala sekarat ditelingaku, dia jelas ketakutan setengah mati. Ada apa dengannya?

Akulah mimpi buruknya.

Oh tidak, jangan-jangan..

“Monster itu, monster itu mengejarku, Hikaru!. Dia memburuku!”

Tamat!!!

Cerita Sebelumnya : Guarantor

2 Comments

2 Comments

  1. yuni e

    19 Juli 2017 at 19:24

    wah, tamat ya? semoga besok ada cerita baru lagi. semoga kaba12.com selalu menghadirkan sastra bermutu.

    • Admin KABA12.com

      19 Juli 2017 at 21:16

      untuk chapter guarantor iya mba yuni, tunggu saja kisah lainnya semoga dapat menikmati sajian cerita yang kami ketengahkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top