Cerpen

Guarantor

Oleh : SHO

“Apa-apaan maksudnya tadi? Ryuzaki? Kau memalsukan namamu, ya?” Desakku saat kami dalam perjalanan pulang, kepalaku benar-benar akan pecah karena kebingungan ini.

“Aku hanya menepati janji lamaku. Bukankah kau pernah berharap menemukan saudaramu?”

“Saudara? Apa maksudmu? Kau sendiri tahu aku anak tunggal dan tak memiliki sepupu. Sekarang kau bilang aku punya saudara? Kau pasti bercanda. Dan Mitsumi Hikaru, kenapa harus gadis itu kalau benar kau berpikir dia saudara yang kau bilang itu? Akh, aku tak peduli,” kepalaku mendadak sakit, depresi benar-benar berdampak buruk bagiku. “Kau bawa obatku?” Astaga, konyol sekali sakitku kambuh hanya karna kebingungan.

Chan hanya diam. Namun, matanya melihat kearahku, lalu dengan nada dingin dia berkata, “Aku tak menyangka amnesiamu bakalan separah ini. Baiklah, dengarkan aku, sepuluh tahun yang lalu kau pernah mengalami kecelakaan, dan di kehidupan sebelum kecelakaanmu itu kau bersaudara dengan seseorang bernama Mitsumi Hikaru. Kau mungkin berpikir Hikaru sudah melupakanmu, tapi sesungguhnya Hikaru benar-benar tak pernah berhenti memikirkanmu. Hikaru terus mencarimu dan hasilnya nihil. Akhir-akhir ini aku memikirkan sesuatu dan memutuskan untuk mencari orang itu 5 bulan yang lalu dan seterusnya hingga saat ini.”

Kubalas tatapan matanya sebentar dan tersenyum kecil. “Kau mengarang dengan sangat baik, Chan. Hahaha, terimakasih telah menghiburku. Tapi kalau benar aku begitu, sepertinya kau harus membawaku ke dokter untuk terapi hipnosis sekaligus cek dna.”

“Bodoh, kau memang bodoh ternyata.” Chan terdengar sedikit frustasi.

Aku merasa semuanya menjadi kosong dan datar, aku tidak peduli lagi. “Ya, kecelakaan itu pasti sudah membuatku bodoh, dan menurutku orang yang memaksa orang lupa ingatan untuk mengingat itu, sama bodohnya.”

°°°

Chan’s side

“Ya, memang waktu itu kau hampir mati. Tapi, aku serius.”

“Ok. Ok. Alasanmu apa? Entah mengapa aku yakin ini lebih ke masalah pribadi. Ceritakan saja, kantorku masih jauh.”

Aku mendesah pelan, dia yang tiba-tiba menjadi dingin ini sama sekali diluar prediksiku.

“Sepertinya kau tidak mempercayaiku lagi, ya? Yah..Baiklah. Aku hanya ingin membuat hidupmu berwarna lagi seperti dulu. Ah, aku lupa mengatakan kalau aku beli tiket ke Kyoto untukmu.”

Ah, kenapa aku malah bilang yang itu?! Sano tentu saja akan berkata, “Lalu?” Dengan datar.

“Kau tahu kalau aku seharusnya tidak ada bukan? Aku memikirkan hal itu sepanjang hidupku, itu benar-benar menyiksaku,”

“Kenapa kau harus merasa sakit? Bukankah kau itu ‘sesuatu yang tidak ada’?” Potong Sano.

Aku tahu kondisinya yang seperti ini memang hanya bisa membuat orang mengurut kening, dan itulah yang kulakukan sekarang.

“Sudah cukup hatiku menderita dengan fakta ‘sesuatu yang tidak ada’ itu, aku ingin membuat kau bahagia, dan aku telah menemukannya.”

Aku tahu yang barusan itu sangat payah, tapi otakku tidak bisa diajak kompromi untuk berpikir. Memangnya aku bisa berpikir? Benar juga apa yang dikatakan Sano barusan, seharusnya ‘sesuatu’ sepertiku ini tidak merasakan apapun. Hahaha, aku tidak mengerti lagi sekarang.

Aku rasa, aku sudah gila.

Dia tertawa. “Sebegitunya?”

Aku merutuk dalam hati dan menghela nafas pelan. “Aku serius.”

“Terimakasih,” aku terdiam, kuputar sedikit posisiku menghadapnya. “Apalagi?”

“Tidak ada. Aku senang hanya kau yang bisa melihatku.”

“Tidak masalah, heran saja kenapa orang lain melihatmu seperti melihat artis terkenal.”

“Hahaha, kau benar. Andai saja mereka melihat wajahku yang kau lihat,” Sano tersenyum kecil seolah ia menyetujui kalimatku.

“Aku suka kau yang tersenyum, untuk itu aku mengembalikan saudaramu itu padamu.”

“Hahaha…aneh sekali. Ini ucapan perpisahanmu, ya?” Aku tersentak, dia memandangku sekilas dengan air muka yang campur aduk. Dia menyadarinya?

“Bukan,”

“Kau payah dalam berbohong, anak muda.”

Aku mendesah, haruskah aku bilang itu? “Baiklah, aku serius. Aku memang akan pergi dan aku lega bisa pergi dengan tenang.”

“Lalu?”

Lalu? Dia ingin aku mengatakan apa? Aku mendecak kesal. “Aku serius.”

“Ok.”

“Hanya, ‘ok’?”

“Terimakasih.”

Aku tersenyum. “Aku menyukaimu Sano.”

Aku pikir dia akan membalasnya dengan senyuman atau sekedar dehaman. Tapi, tak sempat aku berkedip, tubuhku terpental keras ke dashboard mobil, menyaksikan tubuh Sano yang seperti terkocok di adukan semen dan berakhir dengan badannya yang membentur kaca dan terpelanting ke jalanan . Tak bergerak.

Ya tuhan, apa yang baru saja aku lakukan?

Susah payah kudobrak pintu yang sialnya macet dan segera menghampiri Sano. Dia sama sekali tidak bergerak, ia bermandikan darah yang harusnya tidak terbuang cuma-cuma seperti itu, tapi aku masih bisa merasakan denyut nadinya. Di..Dia sekarat.

Kakiku refleks berjalan mundur karna orang-orang mulai berkerumun ingin membantu. Mereka melewatiku. Sa..Sano. Kepalaku serasa dipukul godam bertubi-tubi sedangkan mataku masih nanar menatap pemandangan mengerikan ini. Apakah karna aku? Apakah aku yang telah melakukan ini? Apakah aku telah membunuh Suzuki Sano?!

Penglihatanku memburam disertai dengan tulinya telingaku. Hatiku kosong. Apa yang telah kulakukan Tuhan? Apa yang telah kulakukan?!

Yah..jujur saja aku tak berniat begini. Tapi, seorang pembunuh tetap pembunuh, bukan? Aku sudah menemukan saudaranya, bukankah sebaiknya aku menyingkir? Lagipula, sama seperti nihilnya bayanganku, harapan untuk selalu bersamanya sama nihilnya dengan 1+1=3. Jujur aku tidak merencanakan apapun, tapi entah kesialan apa lagi yang kubawa. Sano nyaris mati, sedangkan aku? Aku selamat tanpa lecet sedikitpun!

Tuhan, tolong.. Jangan buat aku begini.

Ini benar-benar menyakitkan.

….Hikaru’s side

Otakku masih penuh dengan wajah gadis itu, karna aku merasa mengenali wajah itu lebih dari apapun, tapi aku tak bisa mengingat siapa dia! Namanya Ki Mirai, tapi entah bagaimana dalam otakku namanya menjadi Suzuki Sano. Astaga, siapa dia?! Benarkah dia orang yang selama ini kucari?

“Hi-chan, saatnya minum obat.” Kak Nana menyapaku sambil membawa nampan berisi obat-obatan.

Aku tersenyum kecut. “Baiklah, kak. Kak, tau seseorang yang bernama Ki Mirai? Hm.. Dan Suzuki Sano?”

Kak Nana berpikir. “Sano, ya? Hm.. Saudara yang kau cari itu, kan? Mirai.. Orang yang mebesukmu tadi, kan? Hey, kupikir gadis itu mirip dengan gadis yang difoto yang pernah kau kasih.”

“Mirip, kan?!”

Yosh! Dugaanku benar. Ki Mirai adalah orang yang kucari, aku harus menemuinya! Tapi, dari mana Ryuzaki-kun tahu aku mencari seseorang dan langsung membawa orang yang tepat tanpa pernah bertanya sebelumnya. Terserah, yang penting aku harus menemui mereka berdua dan meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya.

Kak Nana menyentuh pundakku lembut. “Nanti saja, ia pasti akan kembali kalau ia juga berpikiran sama denganmu. Ini obatmu.” Dia menyodorkan obat dan dengan patuh aku meminumnya. Tapi, otakku masih dipenuhi oleh anak itu. Sano!

“Konnichiwa, Ryuk-kun, Shin-san.” Sapaku pada mereka berdua yang selalu stand by di meja mereka. Sepertinya mereka sibuk lagi.

“Oh, konn..”

Krieet..krieet~

Bunyi roda ranjang terdengar dari arah pintu, detik berikutnya sebuah ranjang didorong dengan kecepatan ekstra menuju pintu IGD. Seorang gadis yang kepalanya berdarah, luka-luka di sekujur tubuh dan nafasnya yang tersengal-sengal.

Aku melihat mukanya sekilas. Wajahnya pucat pasi dengan sebuah tanda di dagu kirinya. Hm..

Deg! Tidak, tidak mungkin..

“Sa.. Sano?!”

Kepalaku mendadak sakit, beratus ribu cuplikan gambar ketika aku melihat kecelakaan 10 tahun lalu melintas cepat didalam otakku, saling bertabrakan dan hancur berkeping-keping. Kacau.

Apa yang harus kulakukan?!

Tunggu, apa yang terjadi padanya?! Apa yang dilakukan?! Astaga, bencana sedang terjadi dan Sano.. Tidak, itu pasti bukan dia. Tapi, tanda didagunya itu? Tidak.. Tidak, ini pasti bercanda. Tidak mungkin. Tuhan, lelucon apa ini? Sungguh, ini sama sekali tidak lucu. Tuhan, apa yang terjadi?!

“Hikaru-san? Hei, anda tidak apa-apa? Anda mimisan, nona. Hikaru-san?”

Dan aku menjadi buta.

Lelucon yang buruk, tuhan. Aku takkan pernah percaya hal ini.

Bersambung !!! (Rabu, 18 Juli 2017)

Cerita Sebelumnya : Guarantor

1 Comment

1 Comment

  1. yuni e

    18 Juli 2017 at 12:07

    wuih….tambah seru nih ceritanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

Alamat : Jl. SUDIRMAN, NO.02, PADANG BARU, LUBUK BASUNG, KABUPATEN AGAM

Telp (0752)76808, e-mail : redaksi.kaba12@gmail.com.

Copyright © 2018. Theme by KABA12.com. All right reserved

To Top