Kaba Terkini

Tiga Situasi Saat Korban Membayar Tebusan WannaCry

Jakarta, KABA12.com — Virus ransomware WannaCry yang menggemparkan dunia beberapa waktu lalu, masih menjadi buah bibir di beberapa kalangan. Hal ini terkait tebusan yang diminta pelaku kepada korban sebesar US$200 hingga US600 dengan iming-iming data akan dikembalikan seperti semula.

Namun, sejumlah lembaga keamanan dunia mengimbau masyarakat untuk tidak menuruti permintaan pelaku.

Peneliti keamanan siber dari Hacker House, Matthew Hickey mengatakan WannaCry berbeda dengan virus ransomware tradisional di masa lalu. WannaCry memiliki saluran otomatis yang menerima data pembayaran dan dioperasikan oleh manusia.

“Ada sosok manusia yang menjadi operator untuk mengaktifkan dekripsi. Setidaknya akan ada tiga situasi yang mungkin terjadi jika korban memilih membayar uang tebusan,” ungkap Hickey seperti dilansir¬†IBTimes.

Disisi lain, ketiga situasi yang dimaksud Hickey ini yakninya pemilik data tidak mendapatkan kembali data mereka, korban melakukan negosiasi uang tebusan, dan ketiga korban bisa mendapatkan kembali semua data mereka.

Asisten presiden AS di bidang keamanan dalam negeri dan kontraterorisme, Tom Bossert pun ikut angkat suara dalam kasus ini. Ia mengatakan situasi pertama membuat pelaku berhasil mengumpulkan uang sekitar US$70 ribu. Meski telah membayarkan sejumlah uang, para korban mengaku tetap tidak memiliki akses ke data pribadi mereka.

Sementara bagi kalanga pelajar, membayar uang tebusan dengan nilai yang tidak sedikit terasa tidak mungkin. Seorang pria di Taiwan yang menjadi korban peretasan mengaku melakukan trik kedua dengan  menegosiasikan uang tebusan.

Selain itu, pria asal Taiwan itu pun mengaku hanya mengantongi pendapatan US$400 dan ia tidak sanggup membayar US$300. Seakan merasa iba, peretas justru tidak meminta bayaran dan memberikan kembali data sang pemilik.

Pada kondisi lain, seorang pengguna mengaku hanya sanggup bayar US$0,43 setelah melakukan negosiasi panjang dengan sang peretas. Meskipun negosiasi berhasil, namun tidak diketahui apakah ia berhasil mendapatkan datanya kembali.

Sementara sebagian besar korban berkeras tidak membayarkan uang tebusan dan berhasil mendapatkan kembali data mereka. Meski tidak ada angka resmi, sejumlah periset meyakini opsi ketiga ini berhasil dilakukan oleh sejumlah perusahaan untuk mendapatkan data mereka tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

(Dany)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

To Top