Kaba Terkini

Tawakal dan Esensinya

Oleh  : Rahman

Islam mengajarkan perlunya keseimbangan, bekerja keras untuk kebutuhan duniawi dan bekerja keras untuk kebutuhanukhrawi dengan totalitasberibadah dalam konteks semata-mata Iillahi Ta’ala.

Tawakal bukan bermakna pasrah menerima keadaan apa adanya, tetapi ikhtiar pada prosesnya dan memasrahkan kepada Allah semata terhadap hasilnya. Karena bekerja keras adalah sesuatu yang diharuskan guna mendapatkan ma’isyah. Islam tidak mengenal dan tidak menganjurkan konsep hidup dengan menjauhi dunia secara total dan meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban bagi pemenuhan kebutuhan hidup setiap hari.

Bekerja dan berusaha dengan sepenuh hati,yang melibatkan segenap instrumen pendukung dan potensi diri, lalu  membulatkan tekad untuk itu adalah suatu kewajiban bagi setiap insan dimuka bumi ini.

Seluruh makhluk dialam ini pun melakukan hal yang sama bagi pemenuhan kebutuhan dan menjaga kelangsungan hidupnya, agar tetap bertahan dalam kerasnya kompetisi alam dalam rantai ekosistemnya. Untuk itu Allah swt telah melengkapi tiap-tiap makhlukciptaan-Nya dengan seperangkat ‘alat’ untuk mendukung kesempurnaan ciptaan-Nya. Dan dengan itulah, manusia, hewan dan seluruh makhluk melata dibumi ini berusahaagar tetap eksis dan terhindar dari kepunahan.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang sangat sempurna, tentu dibekali dengan hal yang paripurna juga yang melebihi makhluk lainnya. Dan hanya dituntut untuk mencurahkan segala bentuk pengabdian (amal) hanya semata-mata kepada-Nya. Bahkan sebuah kekeliruan yang terbesar ketika pengabdian manusia dipersembahkan bukan untuk selain-Nya.

Salah satu bagian dari bentuk  penghambaan diri dalam setiap usaha manusia adalah bertawakal kepada-Nya,dan merupakan hal yang esensi setelah segala daya dimaksimalkan  kapasitasnya. Allah swt berfirman,”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah” (Qs. Ali ‘Imran[3]: 159).Dan selanjutnya pada ayat lain Allah Ta’ala menegaskan, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (Qs. Ath-Thalaaq [65]: 3).

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Cukuplah Allah bagi kami sebagai penolong, Dia sebaik-baik pelindung.” Ini adalah perkataan yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim AS ketika dilempar kedalam api, dan juga pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir mengatakan,”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Karena itu, takutlah kepada mereka.”Ternyata perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka cuma mengucapkan, “Cukuplah Allah bagiku menjadi penolong, dan Dia sebaik-baik pelindung.” [HR. Bukhari].

Al Fudhlai menyataka bahwa orang yang bertawakal kepada Allah, percaya kepada-Nya dan tidak menuduh-Nya dengan keburukan, maka ia tidak akan takut terlantar. Jika Allah memberinya sesuatu dan ada kelebihan, maka ia tidak menyimpannya untuk hari esok kecuali dengan  niat hanya karena Allah dan tergantung kepada hak-hak Allah.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menerangkan, yakni yang menunaikan segala urusannya. Sesungguhnya Allah telah menjadikan setiap sesuatu sesuai dengan ukurannya. Ia mengatakan, “Orang yang bertawakal itu bukanlah orang yang mengatakan”Kebutuhanku telah terpenuhi”, melainkan orang yang memberi dan menahan sesuai dengan kemampuannya.

Orang yang bertawakal itu terkadang dicukupi dan terkadang tidak, tetapi nilai tawakalnya tidak berkurang sedikitpun.

Tawakal adalah memasrahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Setelah itu, menyerahkan segala urusan kepada Allah yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.Namun hal itu tidak berarti bahwa manusia tidak perlu bekerja, berusaha dan mencari rezeki.

Orang-orang yang pasrah tanpa mau berusaha dan berupaya merubah keadaan dirinya merupakan orang-orang yang malas. Dalam pemaknaan yang luas, harus dipahami bahwa berusahalah dengan segenap daya dan upaya yang sesuai dengan syariat-Nya terhadap apa yang diinginkan, setelah itu baru memasrahkan apapun hasilnya kepada Allah semata. Jika hasilnya sesuai harapan, maka bersyukurlah kepada-Nya, namun jika terjadi sebaliknya (tidak seperti yang diharapkan), bersabarlah dan jangan putus asa. Begitulah indahnya ajaran Islam memberi makna terhadap apapun yang dilkukan dan dialami oleh manusia, sebagaimana firman-Nya, “….Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Qs. Ar-Ra’d[13]: 11).

[Dari berbagai sumber]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top