Kaba Terkini

Perbaiki Keislaman Dalam Diri

Oleh: Rahman Buya

Abu Hurairah r.a berkata, Rasululullah saw bersada, “Apabila seseorang diantara kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukanya ditulis untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya balasan yang sepadan dengan kejelekannya.” (Shahih Bukhari)

Setiap kita tentu selalu berharap, agar nilai keislaman yang terpatri dalam diri semenjak kita mulai paham dan mengenal ajaran Islam itu sendiri. Sehingga dengan itulah kita melakukan apasaja dalam hidup ini selalu bersandarkan pada-Nya.

Tidak jarang terlihat, banyak diantara umat muslim yang sikap dan prilakunya sangat sedikit bersentuhan dengan nuansa Islam itu sendiri. Bahkan nyaris kita lihat seolah-olah agama itu hanya mejadi bagian kelengkapan data atau identitas diri. Seakan ajaran agama menempel hanya pada saat-saat tertentu.

Jika kita menyimak dengan kesungguhan hati, tidak ada memberatkan dari ajaran Islam itu, kecuali bagi orang yang telah tertutup berkah itu dalam sanubarinya. Rasulullah saw sebagaimana Abu Hurairah mengatakan, bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan akan mengalahkannya. Maka berlaku luruslah, berlaku sedanglah, bergembiralah, dan mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan sedikit pada akhir malam.”(HR:Bukhari)

Bagaimana saat ini lingkungan sosial masyarakat disekitar kita, begitu sunyi dari aktifitas “amar ma’ruf nahi mungkar”. Tiada kepedulian, dan ironis hampir disetiap pelosok kampung dan desa, aktivitas dakwah mulai ‘mati suri’. Seakan-akan semua berlepas diri. Kemungkaran sudah dipadang dalam konteks kewajaran. Bahkan jika ada sekelompok orang yang gigih mendakwahkan kebaikan, dipandang ‘ganjil’ oleh lingkungannya. Minuman keras, narkoba, pergaulan bebas, dan berbagai penyakit masyarakat lainnya bagaikan ‘tradisi baru’ yang mulai menyatu dalam keseharian.

Ativitas kaum muda sebagai generasi masa depan begitu mencemaskan. Mereka bagai buih, menjadi ‘bulan-bulanan’ roda zaman. Tanpa identitas diri, dimana jati dirinya sebagai ‘umat yang terbaik’ mulai diragukan. Ruang gerak mereka seakan terkungkung dalam perahu yang oleng. Mereka sebagian malah tidak sadar, sudah dijadikan objek kepentingan sesaat para elit bangsa. Orang yang ingin bertarung mendapatkan jabatan politik, sangat senang mendekati kaum muda untuk membantunya mewujudkan impiannya. Umpama mendorong mobil mogok, setelah mobil melaju, mereka tinggal menghisap debu.

Sejenak, menyadarkan kita, kondisi umat saat ini sudah bergeser menjauh dari nilai-nilai spiritualitas ajaran Islam yang mulia ini. Aktivitas dakwah di rumah ibadah (masjid dan surau/mushalla) sepi pengunjung. Hiburan malam yang terkadang berhiaskan ‘ketidakpantasan’ menjadi magnet yang menghipnotis kebanyakan kaum muda dan remaja Islam.

Jika ada regulasi yang membatasinya, dibeberapa tepat justru ditentang oleh mayoritas kaum muda. Lucu, menggelikan, dan menyedihkan! Mereka lupa, dan bahkan benar-benar melupakan, bahwa sikap itu telah keluar jauh dari konsep “amar ma’ruf nahi mungkar” (menyuruh berbuat baik dan mencegah yang mungkar), yang pada hakikatnya mereka telah menentang perintah Allah dan Rasul-Nya.Ketahuilah, bahwa kemaksiatan terbesar tentu saja saat hukum-hukum Allah swt dicampakkan manusia, tidak diterapkan dalam kehidupan.

Saat manusia berpaling dari syari’ah-Nya, maka kesempitan hiduplah yang bakal mereka rasakan.

Memang, sangatlah tepat apa yang sampaikan oleh Rasulullah bahwa kita disuruh untuk senantiasa memperaiki keislaman kita, agar ‘paradigma’ serta sikap dan perilaku kita tetap lurus di jalan-Nya! Karena Islam adalah pedoman hidup yang sempurna. Islam punya aturan dan solusi terhadap berbagai persoalan yang hadapi umat manusia.

Marilah kita bersama-sama dalam barisan “amar ma’ruf nahi mungkar” yang rapi dan terorganisir, dan hal itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya memperbaiki paradigma keislaman kita.”!!

Allah swt berfirman, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diatara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal (8): 25).

(Dari berbagai sumber)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top