Kaba Terkini

Akal Manusia Sebagai Pembeda

Oleh : Rahman Buya

buya rahmanAkal merupakan karunia agung Allah ‘Azza wa Jalla kepada anak cucu Adam. Akal menjadi pembeda antara manusia dengan hewan, dan dengannya manusia dapat berinovasi, berkreasi dan membangun peradaban. Akal akan menjadi alat kontrol yang dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, sesuai dengan jangkauan akal itu sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan dan mendorong umatnya agar menjadi muslim yang paripurna dalam memahami syariat Islam, dan hal itu tidak akan mudah dicapai kecuali dengan memanfaatkan seluruh potensi akalnya.  Beliau Rasulullah bersabda, “Orang yang paling baik dimasa jahiliyyah, adalah orang yang paling baik setelah masuk Islam, jika mereka menjadi seorang yang faqih (ahli dan alim dalam ilmu syariat).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian ulama mengkatergorikan akal menjadi dua, yaitu akal insting dan akal tambahan. Akal ‘insting’  adalah kemampuan dasar manusia untuk berfikir dan memahami sesuatu yang merupakan potensi yang dibawa sejak lahir. Sementara itu akal ‘tambahan’ adalah kemampuan berfikir dan memahami, yang dibentuk oleh pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki manusia. Namun tidak berarti adanya pemisahan dua potensi akal tersebut (akal insting dan akal tambahan), karena pada prinsipnya akal tambahan merupakan akal insting yang potensinya telah berkembang linier dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman seseorang.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, jika dua akal ini berkumpul pada seorang hamba, maka itu merupakan anugerah besar yang  diberikan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, urusan hidupnya akan menjadi baik, dan kebahagiaan akan mendatanginya dari segela arah.

Akal sebagai karunia yang terbesar yang Allah Ta’ala berikan kepada setiap insan, maka sangatlah penting untuk menjaganya agar senantiasa berada dalam bimbingan wahyu. Ajaran Islam menggariskan bagiamana semestinya menjaga nikmat akal, mensyukurinya, dan mengembangkan segenap potensinya. Beberapa upaya yang disyariatkan dalam ajaran Islan untuk menjaga dan mengembangkannya, antara lain:

  1. Mencegah apapun yang dapat menyebabkan ‘hilangnya’ akal, baik makanan, minumam ataupun tindakan. Seperti Allah SWT mengharamkan meminum khamar, karena dapat merusak dan menghilangkan fungsi akal, disamping merusak fungsi organ tubuh lainnya.
  2. Syariat Islam memasukkan akal dalam beberapa hal yang pokok yang harus dijaga, yakni agama, jiwa, keturunan , akal dan harta
  3. Menjadikannya sebagai syarat utama taklif (kewajiban dalam syariat), sehingga ada batasan seseorang dibebani tugas dan tanggung jawab (kewajiban) yang dikenai hukum jika tidak melaksanakannya pada batasan Karena orang yang belum baligh biasanya belum sempurna akalnya. Sehingga sesorang yang hilang fungsi akalnya, bebas atau gugur dari kewajiban menjalankan syariat
  4. Menganjurkan bahwa mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu (belajar). Dan bagi siapa yang berilmu lalu mengamalkannya, maka diberi kedudukan yang tinggi diantara manusia lainnya
  5. Melarang umatnya memfungsikan akal pada hal-hal yang dapat menyesatkannya, baik berupa bacaan, mendengarkan perkataan yang jauh dari hikmah atau hal lainnya.

Dan masih banyak penegasan lainnya yang dapat dimaknai betapa pentingnya menjaga akal agar berfungsi sebagaimana fitrahnya manusia.

Dalam kitab Suci Alqur’an banyak terdapat ayat-ayat yang memotivasi manusia memanfaatkan akalnya untuk hal-hal yang bermanfaat terutama untuk mencari hakikat kebenaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Katakanlah: samakah antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Tidakkah kalian memikirkannya?!” (QS. Al-An’am[6]: 50).

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman, “Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang  tanda-tanda (kekuasaan Kami), agar mereka memahami(nya)!” (QS. Al-An’am [6]: 65).

Masih banyak ayat-ayat lain yang Allah Ta’ala firmankan, agar manusia menggunakan akalnya untuk memahami dan mempelajari sesuatu dari ciptaan-Nya. Namun betapapun besarnya potensi akal seseorang dengan berbagai ilmu pengetahuan yang kandungnya, tetap memiliki keterbatasan. Bukankah manusia hanya makhluk yang lemah? Tidak serba sempurna? Oleh sebab itu akal semata tidaklah layak dijadikan sebagai sandaran kebenaran  sejati. Dan ajaran Islam memberi ruang khusus bagi akal, ia hanya boleh menganalisa sesuatu yang masih dalam batasan jangkauannya, dan tidak boleh melewati batasan tersebut, kecuali dengan petunjuk dan nash-nash yang diwahyukan Allah SWT.

Ulama Islam terkemuka, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang mengatakan bahwa akal merupakan suatu syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga merupakan syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai semua itu), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tetapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan yang dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan Alqur’an, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari.

Islam menempatkan akal pada posisi yang layak, sekaligus menjaganya agar tidak jatuh dalam jurang kesesatan. Jika ada sumber kebenaran hakiki yang diwahyukan, itulah yang dijadikan sandaran utama, sementara akal diberi ruang untuk memahami dan menerimanya.

Namun jika berkaitan dengan fenomena alam yang memerlukan kajian dan penelitian yang mendalam, maka pada posisi itu akal diberi ruang yang luas untuk, menganalisa, meneliti dan menemukan serta mengolahnya untuk kemaslahatan umat manusia.

“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dia pula yang (mengatur) pergantian malam dan siang. Tidakkah kalian menalarnya?!” (QS. Al-Mukminun[23]: 80).

            Hanya Allah ‘Azza wa Jalla  yang layak menerima pujian, yang telah menganugerahkan kepada manusia hati nurani, yang dengannya mereka menjadi berakal, dapat berfikir, merenungi kebesaran Allah SWT dan seluruh ciptaan-Nya serta dapat membedakan antara yang baik dan buruk.

Sebagaimana firman-Nya, “Dialah yang menjadikan kalian memiliki pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl[16]: 78). Imam ibnu Katsir  rahimahullah menafsirkan ayat ini, bahwa “Allah ‘Azza wa Jalla memberikan mereka telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati – yakni akal yang tempatnya dihati- untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan. Dan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan umat manusia kenikmatan-kenikmatan ini, agar dengannya mereka dapat beribadah kepada Rabb-nya.

[Disarikan dari berbagai sumber]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top