Kaba Terkini

HUKUMAN BAGI YANG MENYIMPANG    

Oleh : Rahman Buya

buya 1Rasulullah saw, sebagaimana  diriwayatkan Khawlah al-Anshariyah ra. berkata: Aku pernah mendengar Nabi saw. Bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang mengelola harta Allah dengan  tidak benar maka untuk dia neraka pada Hari Kiamat kelak.” (HR. al-Bukhari).

Syariah Islam secara terang telah mengajarkan bagaimana mengelola harta Baitul Maal, harta milik negara dan milik umum (publik) yang dibebankan (diamanahkan) kepada seseorang atau dalam konteks yang lebih luas adalah kepada pejabat publik (pegawai pemerintah) yang diberi wewenang dibidang itu. Para ulama hadis mengatakan ungkapan ‘harta Allah’ [maalilLaah] atau ‘maalilLaah wa Rasuulihi’  dalam hadis diatas maknanya adalah milik kaum Muslimin. Sebab ungkapan itu dalam berbagai nash mengandung arti harta kaum Muslim atau milik negara.    

Badruddin al-‘Ayni  menjelaskan bahwa frasa “yatakhauwwadhuuna” dalam hadis tersebut berasal dari ‘al-khawdh’, yaitu berarti berjalan di air dan menggerakkannya, lalu digunakan dalam makna yang luas yaitu terlibat dalam satu perkara dan bertindak di dalamnya, dan dikatakan itu adalah pencampuran dalam perolehannya secara tidak benar.

Namun dalam arti yang lebih luas, dijelaskan bahwa “yatakhauwwadhuuna”  secara bahasa mencakup semua bentuk  pengeloaan harta (tasharruf’), baik dari sisi perolehan atau pungutan maupun dari sisi pembelanjaan dan pengalokasian.

Saat ini bukan hal yang tabu, jika kita mendengar dan menyaksikan bagaimana orang-orang yang diberi kepercayaan mengelola kekayaan (aset) suatu badan, organisasi, dan bahkan kekayaan negara yang menyimpang. Perperilaku memperkaya diri sendiri, keluarga, kerabat/teman adalah ‘hal biasa’ serta menjadi pemandangan harian kita. Mereka berlarian siang dan malam ‘menjarah’, bagaikan orang yang kelaparan saat menemukan setumpukan kue dan makanan. Tidak tanggung-tanggung, tidak hanya untuk dirinya, keluarga, teman, kerabat, bahkan semua yang berkaitan dengan rantai kehidupannya pun dibawa.

Memang ‘medan magnet’ diseputar wewenang para pengelolanya (khususnya bagi pejabat publik atau pegawai negara) sangat kuat menarik siapa saja dalam pusaran ‘tasharruf’ (pengelolaan harta) itu. Bahkan Rasulullah SAW dalam hadisnya bersabda, “Ingatlah, sungguh dunia itu (ibarat) kue yang menarik. Betapa banyak orang yang membelanjakan di dunia dari harta Allah dan Rasul-Nya: tidak ada untuk dia pada Hari Kiamat kecuali neraka” [HR. al-Hakim]

Dan bagi mereka yang mengelolanya (harta kekayaan negara atau kaum Muslimin) dengan baik, dan mematuhi kaidah-kaidah syar’iah serta ketentuan yang telah disepakati oleh kaum muslimin (tata cara pengelolaan dan pemanfaatan) tentang harta ‘Allah dan Rasul-Nya’ [‘maalillaahi  wa rasuulihi’] tersebut, akan mendapat ganjaran yang baik dari Allah SWT kelak.  Dan didunia pun mereka sudah mendapatkan ‘ganjaran awal’ berupa ketenangan dan kedamian dalam hidupnya. Namun sebaliknya, bagi para ‘penista wewenang umat’ dalam masa hidupnya pun ‘persekot dosa’ sudah diperolehnya, berupa keresahan dan kesulitan hidup, hancurnya harga diri dan reputasi, dan bahkan tak jarang dengan ‘hukum negara yang adil’, mereka terpenjara secara lahir dan batin.

   Khawlah binti Qais, isteri Hamzah bin Abdul Muthalib mengatakan, Rasulullah saw. Bersabda, “ Sungguh harta ini ibarat kue yang menarik siapa saja yang mendapatkannya dengan benar, dia diberkahi di dalamnya. Betapa banyak orang yang membelanjakan dari harta Allah dan Rasul-nya dalam apa yang dikehendaki oleh dirinya: tidak ada untuknya pada Hari Kiamat kecuali neraka.”[HR. at-Tirmidzi].

Oleh karena itu, kaidah-kaidah  syariah semestinya harus menjadi rujukan (menjadi pedoman dan sumber hukum) bagi ‘regulasi’ pengelolaan harta kekayaan  umat dan menempatkan individu yang berkarakter baik sangatlah penting bagi keselamatan kekayaan negara untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat. Penguasa, pegawai negara, dan masyarakat atau individu yang diberi wewenang mengelola dan memeliharanya, lalu mereka berlaku batil dan menyimpang (membelanjakan harta kekayaan milik umat secara tidak benar), pantaslah mereka termasuk orang-orang yang tercela!

WalLaah  a’lam bi ash-shawaab.

[dari berbagai sumber]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top