Kaba Terkini

ISTIQAMAH PENYEMPURNA IMAN

Oleh : Rahman Buya

buya“Maka Hendaklah kamu (Muhammad) dijalan yang benar (beristiqamah) seperti yang diperintahkan kepadamu …. .” [QS. Hud (11): 112]

Menurut pendapat Ibnu ‘Abbas, tidak satupun ayat Al-Qur’an yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dirasakan berat dari ayat ini. Oleh karena itu, Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Aku menjadi beriuban karena turunnya Surat Hud dan sejenisnya”.

Allah menyuruh Rasulnya dan orang-orang yang bertaubat bersamanya agar tetap ‘istiqamah’ (lurus). Kata ini (istiqamah) merupakan kata-kata yang mempunyai arti luas, mencakup apa saja yang berkaitan dengan ilmu, amal, dan akhlak yang mulia. Menurut ulama tafsir, ayat ini merupakan isyarat tentang kewajiban mengikuti nas-nas dalam segala perkara keagamaan, baik dalam soal kepercayaan (aqaid) atau ibadah-ibadah, dan menghindari pendapat akal atau ‘taqlid’ yang tidak benar dalam perkara agama. Jadi sudah seharusnyalah kita berpegang teguh kepada kitabullah Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

Adapun perbedaan pendapat pada selain itu, dalam urusan-urusan penghidupan adalah hal yang wajar terjadi, bahkan menjadi faktor munculnya kreatifitas dalam mencari yang terbaik, asalkan tidak keluar dari kaidah-kaidah atau nilai-nilai yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya.

Abdul Qasim Al Qusyairi berkata: “Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqamah didalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal”. Selanjutnya juga dikatakan, “Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanya bisa dijalankan oleh orang-orang besar, teguh di hadapan Allah SWT dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, istiqamahlah kamu sekalian, maka kamu akan selalu diperhitungkan orang”.

Selanjutnya Al Washiti mengatakan juga mengungkapkan bahwa istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan keperibadian  seseorang dan tidak adanya sifat ini (tidak dimiliki seseorang ) rusaklah keperibadian seseorang.

Dalam syarah Hadits Arbain Nawawi ke-21 tantang Istiqamah Dalam Beriman, dijelaskan:  pada suatu ketika Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku telah berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tidak dapat menanyakannya kepada seseorang pun kecuali kepadamu’. Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: ‘Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu”. [HR. Muslim ]. Para ahli hadist menguraikan bahwa kalimat “Katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada sesorang pun kecuali kepadamu”, maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti, sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya beramal. Maka Rasulullah SAW menjawab. “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu”.

Ini adalah kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dalam dua kalimat ini telah memenuhi pengertian iman dan Islam secara utuh. Baliau menyuruh orang tersebut untuk selalu memperbarui imannya dengan ucapakan lisan dan mengingat di dalam hati, serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi semua perilaku yang mengundang dosa. Hal ini karena sesorang tidak dikatakan istiqamah jika ia menyimpang walaupun hanya sebentar.

Allah SWT juga berfirman dalam ayat lain, “Sesungguhnya mereka yang berkata: Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah ….”. [QS. Fushshilat: 30], yaitu iman kepada Allah semata-mata kemudian hatinya tetap teguh pada keyakinannya itu dan taat kepada Allah sampai akhir hayatnya. Umar bin Khaththab berkata “Mereka (para sahabat) istiqamah demi Allah dalam mentaati Allah dan tidak sedikitpun mereka berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang”. Maksudnya, mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatan kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan dan mereka terus menerus berbuat begitu sampai akhir hayatnya (sampai mati). Demikianlah pendapat sebagian besar para ahli hadits.

(dari berbagai sumber).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top