Catatan 12

Keteguhan Prinsip Dalam Mengambil Keputusan

Oleh : Rahman Buya

Memutuskan sesuatu, terutama menyangkut hal-hal yang prinsip dan berdampak luas bagi kehidupan umat, bukanlah hal yang mudah. Keteguhan dan kepercayaan diri suatu hal yang mutlak harus dimiliki dan ‘membuang jauh sikap ragu-ragu’.

Sikapbuya ragu-ragu adalah ketidakberesan dalam melihat sebuah permasalahan, semangat yang loyo, ketidakbulatan tekad, kegigihan yang tak tertata, dan perjalanan yang terhambat. Ragu-ragu adalah penyakit yang tidak ada obatnya kecuali dengan ketekatan, perbuatan dan keteguhan hati. Banyak kasus yang menjelaskan bahwa keputusan-keputusan kecil dan permasalahan-permasalahan sepele harus maju mundur tak pernah selesai selama bertahun-tahun.

Dalam hal ini bisa diterka bahwa faktor orangnya lah yang harus dibenahi. Mereka selalu ragu dan tidak punya keteguhan hati untuk mengambil keputusan, yang bisa jadi karena faktor dalam dirinya atau faktor luar. Mereka memberi jalan kepada kegagalan untuk menyatu dengan jiwa mereka. (‘Aidh al-Qarni, (2007): hal. 480).

Allah swt berfirman,”….kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [QS. Ali Imran (3): 159].

Proses pengambilan keputusan dalam konteks keluar dari ‘sikap ragu-ragu’ ini, tentu tidak berarti meninggalkan unsur musyawarah dengan orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman. Namun pada waktunya keputusan harus diambil dari berbagai opsi yang ada.

Pada kondisi ini kapasitas dan kapabilitas pengambil keputusan (pemimpin) dipertaruhkan. Dan keteguhan hati pada suatu keyakinan bahwa pilihan yang diambil adalah yang terbaik diantara berbagai opsi yang tersedia, sangat menentukan kualitas keputusan itu sendiri, dengan berbagai konsekwensi yang ditimbulkannya. Segala sesuatu pasti ada resikonya sesuai dengan hukum sebab akibat. Keras pada pendirian, tetapi santun dan lemah lembut dalam menyampaikan adalah salah satu faktor keberhasilan dakwah Rasulullah SAW.

Mengelola manusia ternyata tidak hanya dibutuhkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman, sikap mental positif, kematangan emosional yang tinggi, dan tahan menghadapi kritikan. Memandang bahwa kritikan sebagai cermin diri untuk memperbaiki tindakan, yang pada akhirnya akan mempercepat pencapaian tujuan.

Dalam suatu riwayat dikisahkan, bahwa salah satu kebiasaan Abu bakar Ash-Shiddiq adalah bermusyawarah sebelum menentukan sikap untuk menetapkan suatu keputusan.

Pada suatu waktu Abu Bakar bermusyawarah dengan sahabat yang lain, terkait tindakan yang akan diambil terhadap orang-orang murtad atau tidak. Para sahabat memberikan opsi agar tidak memerangi mereka. Tetapi Abu Bakar lebih memilih perang dengan pertimbangan bahwa dengan memeranginya akan tampaklah kebesaran Islam. Dan Abu Bakar membulatkan tekadnya dan bersumpah, “Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya, saya akan memerangi orang yang membedakan antara sholat dengan zakat.”

Setelah peristiwa itu selesai, Umar bin Khatab mengatakan, “Ketika saya menyadari bahwa Allah telah membukakan hati Abu Bakar, saya tahu bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.”

Hal ini membuktikan bahwa Abu Bakar tetap berjalan dengan pendapatnya, dan berhasil. Ia telah membuang keragu-raguan dalam hatinya setelah mempertimbangkan dampaknya terhadap kemajuan Islam, terutama dalam penegakkan zakat dan sholat saat itu.

Dan Umar bin Khatab sebagai sahabat, memberi respon positif dan mendukung, karena beliau sudah memahami bahwa prinsip kebenaran yang dimiliki Abu Bakar, dan dia sangat patut untuk dipercaya (to be trusted) karena seluruh perilaku, tindakan, serta perkataannya selalu benar. Dan tak pernah ragu memutuskan sesuatu, jika sudah ber-istikharah kepada Rabb semesta alam.

Satu hal yang perlu dicatat, bahwa loyalitas orang-orang disekitarnya dalam mengelola pemerintahan dan tegaknya dakwah dikala itu, sangat berperan penting. Begitulah bagaimana Rasulullah dan para sahabat merepresentasikan perlunya prinsip ‘keteguhan hati’ dalam mewujudkan suatu cita-cita bagi kemajuan dan kemaslahatan umat. Keberanian dan kepemimpinan itu tampak ketika dalam mengambil keputusan.

(dari berbagai sumber)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top