Kaba Terkini

Ikhlas Dalam Amalan

Oleh: RAHMAN BUYA

Ikhlas adalah nafas seluruh ibadah. Ia merupakan pembersihan niat dalam beramal hanya untuk Allah Ta’ala semata tanpa mengharap yang lainnya, dan tidak ditujukan untuk yang lainnya. Amal yang ikhlas akan terbebas dari riya’ yang akan merusak amal itu sendiri.

Jikabuya rahman amal dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata, serta pelakunya menyerahkan amalnya kepada Allah SWT, yang demikian akan mendatangkan keridhaan-Nya, serta mengangkat pelakunya untuk mendapatkan derajat yang mulia disisi Allah dan ditengah manusia.

Mengingat pentingnya sifat ikhlas yang harus dimiliki setiap mukmin, maka Allah SWT memerintahkan kepada setiap mukmin untuk selalu berpegah teguh (iltizam) kepada-Nya dalam setiap amalan yang dilakukan, baik yang wajib maupun yang sunah. Allah SWT berfirman, “Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [QS. Al-Bayyinah ( ): 5]

Rasulullah SAW menegaskan bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya suatu amal, “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Sesungguhnya pahala yang akan didapat setiap orang bergantung dari niatnya. Siapa saja yang berhijrah kaena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu bagi Allah dan Rasulnya. Siapa yang berhijrah karena dunia dia akan mendapatkannya dan siapa yang berhijrah karena wanita ia akan menikahinya. Oleh sebab itu, hijrah setiap orang bergantung pada niat apa yang melandasi hijrahnya.” [HR. Muslim]

Dalam hadits lain, Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku tidak membutuhkan sesuatupun untuk berserikat. Siapa saja yang mengerjakan sesuatu dengan niat untuk-Ku dan untuk yang lain selain-Ku,Aku berlepas diri darinya dan pekerjaannya itu bagi yang dia tuju selain-Ku.” [HR. Muslim, hadits no. 2985].

Imam Al-Ghazali menjelaskan, ketahuilah bahwa segala sesuatu itu dapat saja dicampuri oleh sesuatu yang lain, maka jika bersih dan tidak terkena campuran apa-apa, itulah yang dinamakan ‘khalish’ atau murni. Perbuatan yang dilakukan dengan kebersihan dan kemurnian dinamakan perbuatan yang ikhlas. Ikhlas itu lawannya ‘isyrak’ (berbuat kemusyrikan atau mempersekutukan). Selanjutnya Imam Al-Ghazali menyatakan, apabila tujuan peribadatan itu sudah dicampuri oleh pengaruh lain, baik berupa ria, kesombongan dan lain-lain yang merupakan godaan hati, maka amalan seperti itu tentu sudah keluar dari garis keikhlasan.

Ya’kup Makruf pernah berkata,”Orang yang ikhlas itu ialah orang yang suka menyimpan (tidak menyia-nyiakan) amal-amal kebaikannya sebagaimana ia suka menyimpan keburukan-keburukanya”.

Jadi segala kepentingan duniawiah yang biasanya menjadi kecenderungan hati dan disenangi jiwa, baik sedikit ataupun banyak, jika sudah masuk dan menyelinap dalam suatu amalan, maka sirnalah kemurniannya, dan hilanglah keikhlasannya.

Imam Ali r.a berpesan, “Janganlah kamu prihatin karena sedikitnya amalan, tetapi yang harus diperhatikan ialah amalan itu dapat diterima oleh Allah Ta’ala, sebab Rasulullah saw pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: “Ikhlaskanlah amalanmu dan sudah mencukupi untukmu amalan yang sedikit (asalkan dilakukan dengan ikhlas)”.(Kitab Mau’izhatul Mukminin, hal. 977)

Dalam suatu tausyiahnya, KH. Abdullah Qymnastiar menyampai bahwa orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja.

Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia niatkan lurus kepada Allah semata. Dan apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai dan mendapatkan balasan pahala sesuai dengan kualitas keikhlasan yang dimiliki. Memang bukan perkara mudah menjaga seluruh amalan-amalan kita dari “noda ketidakikhlasan”, karena setiap saat kita dikelilingi oleh beragam aktivitas sosial, saling bersentuhan dengan berbagai kepentingan yang menguras energi dan pikiran. Semoga Allah memberikan kekuatan untuk “mengokohkan ikhlas” dihati kita dalam kondisi dan situasi bagaimanapun juga!

(Dari berbagai sumber)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top