Agam

“Manduo Baleh” Tradisi Yang Mulai Langka

Lubuk Basung, KABA12.com  — Tradisi ” manduo baleh” kegiatan memperingati hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW, yang dipadu dengan budaya tradisi Minangkabau kini makin langka.

Peringatan hari besar Islam yang disemarakkan dengan perpaduan lantunan shalawat dengan alunan khas diiringi rebana merefleksikan kecintaan mendalam kepada Nabi Muhammad Rasul Allah.

manduo baleh 2Di wilayah Lubuk Basung saja, kegiatan “manduo baleh” yang semarak dengan tradisi ” zikia jo rabano”, dipadu dengan tradisi malamang dan makan bersama sebagai wujud rasa syukur pada Allah dan semangat silaturrahmi umat Islam yang tak pernah pupus, hanya beberapa mesjid dan nagari yang menggelar acara tradisi Islami yang sangat ditunggu anak-anak dan kaum muda tersebut.

Untuk tetap mempertahankan tradisi itulah masyarakat dan pemuda Mushalla Nurul Falah, Kampung Caniago, Jorong III Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam sengaja menggelar acara tradisi itu,Minggu (22/01).

Tradisi Islami yang kokoh dipegang masyarakat Garagahan itu, tetap mempertahankan kegiatan itu menjadi agenda rutin masyarakat tiap tahun.

Seperti disebutkan ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Garagahan M. Dt. Siaga,  kepada KABA12.com di Garagahan, Minggu malam, “manduo baleh” merupakan tradisi dari nenek moyang dan rutin dilaksanakan setiap tahun  hingga kini.

Manduo baleh, atau peringatan Maulid Nabi itu diawali dengan santapan rohani berupa ceramah pada malam hari, dan jamuan makan bersama seluruh masyarakat di tempat kegiatan manduo baleh yakni mesjid atau mushalla esok harinya.

“Kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun pada bulan Rabiul Awal, tidak hanya sebagai tradisi, banyak hal positif yang dapat diambil dari kegiatan tersebut,” ujar M.Dt.Siaga.

Ditambahkannya, bukan hanya untuk memperingati hari besar Islam saja, namun kegiatan itu juga sebagai ajang silaturrahmi, serta meningkatkan semangat gotong royong antar sesama masyarakat dan umat Islam.

“Pemuda dan pemudi menjadi ujung tombak lancarnya kegiatan tersebut, baik untuk dekorasi, mencari sumbangan serta pelaksaaan kegiatan, sedangkan kaum ibu mendapat tugas untuk memasak,” ulasnya.

Biasanya, pelaksanaan manduo baleh dilaksanakan bukan tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal itu, namun diselenggarakan di akhir bulan.

Seperti tahun ini, 12 Rabiul Awal 1438 Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Desember 2016 lalu, namun pelaksanaan tradisi manduo baleh, baru dilaksanakan pada akhir Rabiul awal hingga akhir Rabiul Akhir secara bergiliran di beberapa mesjid atau surau yang telah ditentukan.

Seperti di Mushalla Nurul Falah Garagahan, Lubuk Basung, digelar Minggu (22/01) bertepatan dengan tanggal 23 Rabiul Akhir 1438 Hijriyah.

Dan di beberapa mesjid dan mushalla lain akan digelar dalam rentang waktu tersebut.

Disisi lain M.Dt. Siaga berharap tradisi Minangkabau yang berlandaskan Islam itu akan selalu dijaga dan dipelihara masyarakat khususnya kaum muda sehingga kekuatan adat basandi syarak,syarak basandi kitabullah akan makin kokoh, termasuk tradisi manduo baleh.

(Johan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terkini

To Top